Langsung ke konten utama

Featured Post

Atasi Banjir, FPI Ngombol Purworejo Bersihkan Jalan Air Dan Selokan Kecamatan

Sabtu, 31 Oktober 2020
Faktakini.net, Jakarta - Beberapa hari ini wilayah Purworejo Jawa Tengah terus diguyur hujan. Beberapa titik sempat banjir bahkan longsor seperti wilayah Pituruh. Sekitar wilayah pusat kecamatan Ngombol juga sempat banjir. Dewan Pimpinan Cabang (DPC FPI) akhirnya berinisiatif untuk melakukan pembersihan saluran air dan selokan atau gorong - gorong. Pagi hari ini Sabtu 31 Oktober 2020 yang dipimpin langsung Tokoh Ulama dari Ngombol yaitu Bapak KH. Zainal Abidin beberapa anggota FPI terlihat turun ke selokan -selokan dan jalan air untuk membersihkan sampah- sampah dan penyumbatan.Para pengurus dan anggota FPI Ngombol juga terlihat ikut turun langsung melaksanakan giat bakti sosial ini. Demikian Kontributor LIF Purworejo Melaporkan.




Strategi 'Blamming Game' Ala Komunis Sebelum Revolusi / Kudeta




Sabtu, 3 Oktober 2020

Faktakini.net

STRATEGI "BLAMMING GAME" ALA KOMUNIS
SEBELUM REVOLUSI/KUDETA

Oleh : Anton Permana.

Strategi "blamming game" ini sebenarnya sering digunakan oleh kalangan militer yaitu strategi perang bumi hangus pusat terkuat benteng pertahanan musuh.

Namun strategi perang ini, kadang diadopsi dalam sebuah pertempuran politik. Bedanya, kalau perang yang menghancurkan bangunan fisik dan orangnya, sedangkan dalam politik yang dibumihanguskan adalah karakter, nama baik, identitas, fungsi, dan gerakan musuhnya baik secara kelembagaan maupun personil.

Dalam sejarah, semenjak fase Eropah Stalin, Lenin, bahkan Mao Tse Tung di China. Semua negara komunis tersebut lahir dari hasil sebuah revolusi berdarah-darah. Tak terhitung jutaan nyawa rakyatnya mereka bunuh tanpa ampun kalau tidak mau menerima ajaran komunis.

Dalam setiap aksi dan tindakannya inilah strategi blamming game itu selalu digunakan. Agar musuh tak berbekas dan tidak menjadi masalah di kemudian hari. Cuma gilanya, kalau dalam ajaran komunis strategi blamming game ini digunakan baik secara fisik maupun non-fisik.

Di Indonesia, strategi blamming game ini pernah dilakukan PKI tahun 1960-an. Secara bertahap mencicil dan menghabisi satu-persatu sendi kekuatan negara ketika itu. Mulai dari tokoh-tokoh berpengaruh yang bersebrangan, dengan berbagai fitnah akhirnya dipenjarakan seperti Hamka, M Natsir, Amir Syafrudin dimana jasa mereka luar biasa terhadap negeri ini.

Begitu juga dengan para Singa nusantara seperti Kartosuwiryo, Daud Beureuh, Kahar Muzakar, dan para pejuang tangguh dalam mengusir penjajahan Belanda dan Jepang. Mereka diadu domba dengan Soekarno sehingga meletuslah perang saudara PRRI, DI/TII dan Parmesta. Sebuah konflik individu antara Soekarno dengan para Singa Nusantara yang kemudian dieskalasi jadi perang Saudara. Begitu juga dengan operasi Ganyang Malaysia.

Belum lagi pembubaran sepihak Partai Masyumi (partai terbesar nomor 2) saat itu. Koran-koran corong perjuangan rakyat, HMI, hingga Moh Hatta pun tak luput dari fitnah PKI. Bahkan Bung Karno pun mereka fitnah kalau ada kemauannya terganjal sedikit saja.

Hingga puncaknya adalah upaya sapu bersih, bumi hangus dengan membunuh para petinggi TNI AD yang paling keras menghalangi agenda PKI saat itu.

Meskipun sudah berkuasa penuh, tapi PKI belum puas kalau masih ada poros kekuatan yang bisa mengganjalnya. Jadi inti gerakan 30/S/PKI tahun 1965 itu adalah puncak strategi blamming game dimana semua sendi kekuatan negara yang bertentangan dengan agenda PKI wajib dihancurkan. Syukur alhamdulillah semua itu gagal dan berhasil dipukul balik oleh TNI loyalis NKRI dan Pancasila bersama rakyat khususnya ummat Islam.

Jadi tidak heran, ketika saat ini dimana para kader dan antek Neo PKI itu berkuasa cara-cara lama itu mereka gunakan kembali. Yaitu, bagaimana secara sistematis mempreteli sendi-sendi kekuatan negara agar lemah dan keropos. Dan merekrut para tokoh, pejabat yang rakus harta serta jabatan. Yang mau di sogok dengan fasilitas dunia dan mau mengorbankan harga diri dan kesetiaannya pada negara.

Pasca reformasi 22 tahun inilah, sebahagian kita rakyat Indonesia baru sadar bahwasanya agenda reformasi yang awalnya begitu indah ujung-ujungnya berubah jadi pintu masuk (membonceng) kebangkitan neo PKI. Contoh dan tahapannya adalah :

1. Menjatuhkan Soeharto sebagai pengawal Garuda. Dengan memobilisasi fitnah, dan rekayasa krisis moneter kolaborasi kekuatan kapitalis dan antek Neo PKI sebagai ujung tombak di lapangan. Maka lahirlah rusuh 1998 yang membuat Suharto mundur dari jabatan.

2. Setelah pengawal Garuda tidak ada lagi, barulah kepala Garuda dipenggal dan dipreteli melalui amandemen brutal terhadap UUD 1945. Out put dari semua itu adalah yang kita rasakan hari ini negara menjadi rezim Oligharki yang liberalis/kapitalis di bawah kontrol skema neo-kolonialisasi (penjajahan gaya baru).

3. Selanjutnya membangun hegemoni kekuatan politik, melumpuhkan alat pertahanan keamanan (komponen utama negara) yaitu TNI yang dipisahkan dengan Polri. Dan membuat berbagai macam lembaga negara baru dengan program agenda penguatan reformasi, dan membuang jauh-jauh apa yang sudah dibangun semasa orde baru.

Tanpa GBHN sebagai guidance, tanpa MPR sebagai representasi kedaulatan rakyat, maka jadilah negara hari ini dikuasai oleh tiga kekuatan pemerintahan saja yaitu ; Parpol/politisi-Aparat/pejabat negara-Cukong.

4. Setelah hegemoni politik didapatkan, kekuasaan trias politika digenggam. Maka, mulailah menghancurkan kekuatan intra pemerintahan dan extra pemerintahan, simbol kekuatan sosial seperti ulama, tokoh agama, tokoh pendidik, tokoh masyarakat, dengan berbagai isu.

Kekuatan intra-pemerintahan seperti lembaga-institusi negara (mulai dari yudikatif, eksekutif, legislatif) dihancurkan melalui isu korupsi dan pelemahan melalui regulasi.

Kekuatan extra pemerintahan dihancurkan melalui isu radikalisme, terorisme, Narkoba, tuduhan makar, dan asusila.

5. Barulah strategi blamming game ini dilancarkan dimana membangun sebuah skenario sistematis bahwa ; Menghabisi image/karakter/kehormatan institusi kelembagaan negara kita agar bobrok dan terpuruk di mata rakyat. Apapun itu institusi lembaganya. Silahkan kita cek dan perhatikan sendiri.

Agar tak ada satupun lagi lembaga, entitas yang baik di negeri ini.. padahal itu semua skenario neo PKI. Yang baik itu hanya dari kelompok Neo-PKI yang di poles melalui mega pencitraan media dan para buzzer.

Tujuannya adalah untuk membuat kita semua rakyat Indonesia apatis, inferior, lemah tak bersemangat, labil, masa bodoh yang akhirnya nanti pasrah saja di bawah kaki mereka.

Akhirnya kita merasa tak berdaya, kerdil, loyo, bahkan untuk bermimpi dan punya cita-cita saja tak PeDe lagi.

Kalaupun ada yang mencoba melawan dan beroposisi, pasti akan dihabisi dengan berbagai cara. Apakah itu intimidasi, persekusi, kriminalisasi, di adu domba dengan sesama, bahkan sogokan uang dan jabatan agar diam.

Sejarah akan terus berulang. Ancaman Neo PKI yang berkolaborasi dengan PKC serta para kelompok opportunis bangsa ini terus bergerak. Kerusakan demi kerusakan terus di produksi. Hingga rumah bernama Indonesia ini ringkih dan keropos tak berdaya lagi. Karena segala sumber kekuatan negara sudah dibumihanguskannya.

Apakah ini akan berhasil ? Jawabannya ada pada seluruh rakyat Indonesia. Bangkit atau punah ! Salam Indonesia Jaya !

Jakarta, 3 Oktober 2020

Foto: DN Aidit gembong PKI

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: