Langsung ke konten utama

Featured Post

Hari Kedua, FPI Purworejo Turunkan Laskar Bantu Korban Longsor Di Kalijering Pituruh

Selasa, 27 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta -  Relawan FPI Purworejo hari ini Selasa, 27 Oktober 2020 masih terus turun membantu korban banjir dan longsor diwilayah terparah Desa Kalijering kecamatan Pituruh. FPI bersama beberapa relawan kemanusiaan seperti KJB dan S3 Purworejo turun langsung membantu meringankan beban korban yang selamat dan beberapa luka-luka. Selain membuka akses jalan yang berlumuran lumpur parah para Laskar terlihat membawa nasi bungkus untuk para korban, obat-obatan, baju, dan berbagai bantuan lainnya. Untuk para dermawan yang mau ikut membantu meringankan korban yang ditaksir kerugiannya mencapai milyaran rupiah bisa menghubungi Bendahara DPW FPI Purworejo Ir. Muhammad Mansur di Nomor wa +62 853-7784-2497. Demikian Kontributor LIF Purworejo Melaporkan.




Klik video:


Sindroma Anak Kaisar "Tuan 92 Persen"



Senin, 5 Oktober 2020

Faktakini.net


SINDROMA ANAK KAISAR
"TUAN 92 %"

by M Rizal Fadillah

Gibran Rakabuming Raka merasa telah "booming" karena mendapat dukungan koalisi mayoritas partai politik. Bahkan partai politik baru tanpa malu-malu juga ikut nimbrung. Dulu awalnya tidak terfikir untuk berkompetisi menjadi Kepala Daerah katanya, mungkin takut menyulitkan posisi sang ayah yang mengagendakan jabatan politik yang lebih meroket.

Situasi kini berbeda, telah muncul keinginan untuk menjadi Walikota yang tentu mendapat dorongan atau dukungan penuh  ayahanda. Masyarakat melihat status Gibran sebagai "putera raja" menjadi modal politik terbesar. Adapun modal kecilnya kompetensi dan pengalaman dan itu sangat minim. Jualan martabak pasti bukan modal sosial untuk meraih jabatan politik.

Mulai merasa "over confidence". Gibran berujar bahwa kemenangan sudah pasti, tetapi tidak mau 70 % atau 80% harus mencapai 92 %. Sebenarnya target 110% juga boleh-boleh saja namun harus berdasarkan  kalkulasi rasional untuk mencapainya. Atau memang pesaing independennya itu adalah pasangan "abal-abal" sehingga dianggap enteng ? Semacam shadow boxing. Atau mungkin sudah siap dengan kelicikan mark up otak atik suara KPU 29 menjadi 92 ?

Jadi teringat model kekaisaran Romawi atau Cina yang selemah apapun sang putera atau kerabat dapat dengan mudah menduduki kursi jabatan Kaisar. Bukan soal dinastinya, tetapi idiotnya itu. Rakyat pun tidak bisa berbuat apa-apa memiliki Kaisar yang bukan saja "incompetent" tetapi abnormal. Caligula dan Nero adalah contoh Kaisar yang gila kuasa. Kekuasaan adalah Tuhan.

Kejumawaan Gibran merupakan fenomena politik kolusif dan nepotisme. Bukan kompetisi obyektif dan fair. Apresiasi pada kapasitas kah sehingga Megawati Ketum PDIP dan Sandiaga Uno Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra akan ikut berderet berkampanye untuk Gibran ? Atau ini urusan dengan ayahnya yang Presiden ? Adakah  Partai berkoalisi mendukung penuh itu berhubungan dengan budaya politik sandera, proteksi atau transaksi ?

Olok-olok publik pada Gibran muncul soal pencitraan yang berfoto koko peci mengimami shalat berjamaah. Komentar netizen demi jabatan walikota siap menjadi kadrun. Like father like son. Teringat kembali Novel "The Da Peci Code" karya Ben Sohib. Soal sengketa interpretasi pemakaian peci di keluarga marga al Gibran di Betawi. Peci pencitraan.

Mungkin bagi Gibran angka kemenangan 92 % adalah hal yang "biasa saja" karena dirinya hanya orang yang "biasa saja" dididik oleh  orang tua yang menganggap anak mantu besan maju Pilkada itu "biasa saja". Nepotismekah ? "biasa saja". Jika menjadi Walikota ternyata tidak becus dan korup maka itu juga "biasa saja". Biarlah kalau begitu masyarakat yang menghukuminya dan itu "biasa saja".

Selamat menikmati kampanye Pilkada di era Covid 19 "tuan 92 %". Kelak jika korban berjatuhan akibat pandemi Covid 19 meningkat maka hal itu adalah hal yang "biasa saja".
Memang bangsa sudah payah punya Presiden dan anak Presiden yang "biasa saja".

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 5 Oktober 2020

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: