Langsung ke konten utama

Featured Post

Jadwal dan Bacaan Niat puasa Ayyamul Bidh, Mulai Jum'at 13 Rabiul Awal 1442 H/ 30 Oktober 2020

Jum'at, 30 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Jadwal dan bacaan niat puasa Ayyamul Bidh, doa buka puasa, mulai 30 Oktober 2020.Ibadah puasa Ayyamul Bidh juga memiliki banyak keutamaan.Puasa Ayyamul Bidh harus dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut.Umat Muslim disarankan untuk menunaikan puasa Ayyamul Bidh bulan Rabiul Awal 1442 H.Ayyamul Bidh sendiri adalah puasa yang bisa dilakukan di pertengahan bulan Hijriah.Ibadah ini jatuh pada hari ke-13, 14, dan 15 Hijriah tiap bulannya.Disebut puasa Ayyamul Bidh karena pada 3 hari itulah bulan bersinar terang, sehingga malam tampak putih bercahaya.Berikut beberapa dalil yang menjelaskan tentang anjuran Puasa Ayyamul Bidh:Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meningg…

Putra Jenderal Ahmad Yani: 98 Persen Adegan Film Pengkhianatan G30S/PKI Akurat!



Kamis, 1 Oktober 2020

Faktakini.net, Jakarta - Putra salah satu pahlawan revolusi, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, yakni Irawan Sura Eddy A. Yani, mengatakan film Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai Arifin C. Noer 98 persen akurat.

Menurut Irawan, hanya ada dua persen yang adegan sebenarnya tak ada di film tersebut.

“Kalau mengenai film itu yang kejadian di rumah adalah seperti itu. Memang 98 persen akurat ya. Yang tidak akurat itu waktu Bapak diseret dari dalam ruangan makan ke pinggir jalan di Jalan Krakatau waktu itu,” ujar Irawan dalam wawancara dengan stasiun tvOne yang dikutip pada Rabu, 30 September 2020.

Dia menyampaikan jika dalam film, ayahnya tergambarkan tangan dan kakinya diangkat pasukan Cakrabirawa. Namun, yang benar sesuai peristiwa adalah tangan almarhum tak diangkat. Tapi, kata dia, kaki almarhum dipegang lalu diseret seperti binatang.

“Diseret langsung seperti binatang ya. Itulah yang terjadi, ada juga tarik-tarikan (antara) kakak saya dua itu (dengan pasukan Cakrabirawa),” lanjutnya.

Irawan mengatakan bersama tujuh saudara kandungnya menyaksikan langsung kejadian berdarah itu. Menurut Irawan, ada dua kakaknya yang ditahan di kamar agar tak keluar oleh anggota Cakrabirawa.

Jika nekat keluar kamar maka diancam akan ditembak. Begitupun enam anak lain, termasuk dirinya, jika keluar sampai area rumah diancam akan ditembak. “Kami semua, delapan anak itu dari belakang. Dua yang di belakang itu pintu kamar mereka dipegang oleh anggota Cakrabirawa agar tidak bisa keluar,” sebutnya.

“Begitu kami sampai di pintu belakang, seorang anggota Cakrabirawa sudah siap dengan senjatanya dan membentak kami untuk tak keluar. Karena kalau yang keluar akan ditembak. Itu memang begitu,” jelasnya.

Pun, ia menegaskan peristiwa kelam itu masih diingatnya dengan benar. Saat kejadian, ia mengaku masih berusia 11 tahun. Namun, ia menekankan, hanya mengingat kejadian penculikan ayahnya di kediaman rumah.

“Ya jelas, jelas. Saat itu saya 11 tahun, sampai menutup mata mungkin sudah selesai urusan itu. Makanya kalau orang tanya, G30S, itu lah yang terjadi di rumah,” ujarnya.

Riset dari Cornell

Istri dari sutradara Arifin C Noer, Jajang C Noer, menjelaskan film karya suaminya itu bukan rekayasa. Sebab, dibuat merujuk data-data yang ada dan sudah diketahui Indonesia dan dunia sekalipun.

Jajang pun menyebut riset juga menyertakan kajian dari Cornell Paper khusus tentang G30S/PKI yang diterbitkan pada 10 Januari 1966. Kajian ini ditulis sejumlah peneliti yaitu Benedict Anderson dan Ruth McVey dari Universitas Cornell di Ithaca, Amerika Serikat.

“Jadi, ini bukan rekayasa. Dan risetnya sampai ke Cornell. Mas Arifin sebagai sutradara, sebagai orang, dia tak akan membuat sesuatu yang tidak dia percayai dan yang tidak dia yakini. Semua ini adalah autentik menurut dia. Menurut data-data yang ada,” ujar Jajang dalam wawancara dengan tvOne.

Dia menambahkan dalam film ini juga diwawancarai keluarga jenderal korban penculikan. Namun, memang tak ada pihak PKI yang tak bersedia diwawancarai karena takut.

“Kami mewancarai keluarga para Jenderal. Sayang sekali dari pihak PKI tidak ada yang bersedia diwawancarai, tak ada yang berani, dia mengaku adalah PKI, apalagi menjawab,” jelasnya.

Meski demikian, ada keterangan dari anggota PKI saat itu yakni Sjam Kamaruzaman yang bersedia diwawancarai. Namun, jawabannya tak bisa lugas dan detail.

“Satu-satunya orang PKI yang bisa kami wawancarai dalah Sjam Kamaruzaman. Pun, ia jawab cuma hanya iya, iya. Begitulah, iya begitulah,” tuturnya.

Sebelumnya, putra tokoh PKI DN Aidit, Ilham Aidit, menuding film Gerakan 30 September PKI atau G30S/PKI bukan merupakan film sejarah, juga bukan film dokumenter. Film tersebut, kata dia, sepenuhnya imajinasi sutradara Arifin C Noer, yang ketika menggarap film tersebut berdasarkan pesanan rezim yang berkuasa, orde baru.

“Saya ingin tekankan bahwa film itu bukan film sejarah, pasti bukan sejarah, film itu bukan dokumenter,” kata Ilham Aidit di ILC tvOne, Selasa malam, 29 September 2020.

sumber: viva.co.id

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: