Langsung ke konten utama

Featured Post

Gus Nur Ditangkap, Kesaksian Anak: Digerebek 30 Personel Polisi Saat Tengah Malam, Lalu Dibawa

Ahad, 25 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Keluarga mubaligh asal Jawa Timur Gus Nur atau Sugi Nur Raharja mengaku kaget dengan penggeledahan dan penangkapan yang dilakukan polisi saat tengah malam Sabtu, 24 Oktober 2020.Gus Nur ditangkap sekira pukul 00.15 WIB di rumahnya di Jalan Cucak Rawun Raya, Pakis, Kabupaten Malang.Putra kedua Gus Nur, yakni Muhammad Munjiat (21 tahun) mengatakan, keluarga kaget karena penggerebekan ini baru pertama kali mereka alami. Menurut Munjiat ada lima mobil dengan anggota polisi sekira 30 personel yang menggerebek rumah Gus Nur.“Digerebek pertama kali kayak ini. Keluarga tidak lebih dari kaget saja. Karena ini kan bukan laporan pertama, tapi sebelumnya tidak seperti ini dipanggil pakai surat untuk BAP. Tapi baru kali ini didatangi mobil dan langsung digerebek polisi,” kata Munjiat, Sabtu, 24 Oktober 2020, seperti dilansir Viva.co.id.Munjiat mengungkapkan, saat penangkapan dan penggeledahan ia bersama sang ayah baru saja pulang dari pengajian peringa…

PDIP Ngotot Ingin Mengubah Pancasila Menjadi Ekasila?



Jum'at, 2 Oktober 2020

Faktakini.net

*PDIP NGOTOT INGIN MENGUBAH PANCASILA MENJADI EKASILA ?*

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik


Ahmad Basarah atau Aria Bima tak bisa lagi mengelak, memeras Pancasila itu cita ideologi PDIP. Kalau dalam kontroversi RUU HIP, Basarah maupun Aria Bima boleh saja 'Pasang Badan' mengelak PDIP ada dibalik konsepsi norma RUU HIP yang ingin mengubah Pancasila dengan modus operandi memerasnya menjadi Trisila hingga Ekasila.

Namun, melalui kampanye Pilkada ditengah pandemi ini, Kader PDIP yang juga calon wali kota petahana Pasuruan, Jawa Timur, Raharto Teno Prasetyo justru bertekad menerapkan ekasila atau gotong royong jika memenangkan pilkada bersama calon wakil wali kota Mochammad Hasjim Asjari.

Hal itu diungkapkan Teno dalam acara deklarasi kampanye damai yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pasuruan, Sabtu lalu (26/9). Dalam Video yang diunggah oleh akun resmi KPU Pasuruan di Youtube, kader PDIP ini begitu bersemangat ingin mengubah Pancasila, dengan memerasnya menjadi Trisila hingga tersisa menjadi Ekasila.

Kader PDIP Pasuruan ini, membongkar manuver Basarah dan Aria Bima yang menutupi visi politik PDIP ingin mengubah Pancasila. Termasuk membongkar, siapa sebenarnya dalang dibalik perasan Pancasila dalam RUU HIP.

Pidato heroik sang Kader, mengingatkan publik pada pidato Megawati Soekarnoputri Ketum PDIP, yang dalam sebuah acara internal partai juga berbusa memeras Pancasila, hingga ampasnya tersisa hanya Ekasila dengan substansi Gotong Royong.

Dalam berbagai kesempatan, PDIP berulangkali menuding lawan politik dengan narasi anti Pancasila, ingin mengubah Pancasila. Dalam kasus pencabutan BHP HTI misalnya, rezim Jokowi yang merupakan kader PDIP menuduh HTI ingin mengubah Pancasila.

Padahal, dalam AD ART dan kitab pembinaannya, HTI tidak pernah menyinggung Pancasila. HTI hanya fokus mendakwahkan ajaran Islam, termasuk ajaran Islam Khilafah.

Rupanya, yang ingin mengubah Pancasila ternyata PDIP. Setelah kasus RUU HIP, PDIP tidak berhenti untuk mewujudkan visi mengubah Pancasila menjadi Ekasila.

Gagal ditingkat Nasional, kini PDIP bergerilya di daerah melalui Calon Kepala Daerahnya, menawarkan visi mengubah Pancasila kepada segenap rakyat di daerah.

PDIP tak terima, RUU HIP ditunda. PDIP mencoba mengimplementasikan cita partai mengubah Pancasila melalui kekuasaan di daerah, setelah gagal menggolkan RUU HIP pada level nasional. PDIP tak bisa mengkhianati visi misi partai, yang didalamnya memuat cita ideologi partai, mengubah Pancasila menjadi Trisila hingga Ekasila.

Hal ini membuktikan, bahwa narasi anti Pancasila atau tuduhan ingin mengubah Pancasila hanyalah senjata politik untuk membungkam lawan. Faktanya, bukan HTI atau Umat Islam yang ingin mengubah Pancasila. Tetapi justru PDIP sendiri.

Pilkada ditengah pandemi ini, menelanjangi PDIP melalui kadernya sendiri. Sungguh, Allah SWT adalah dzat sebaik baik pembuat makar. [].

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: