Langsung ke konten utama

Featured Post

Bapas Bogor Banding Kasus Habib Bahar, Ustadz Novel: Ambisi Untuk Kriminalisasi Ulama

Jum'at, 23 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bogor telah resmi mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung yang memenangkan penceramah kondang, Habib Bahar Bin Smith soal surat keputusan pencabutan asimilasi.Upaya banding itu pun direspon oleh Wakil Sekjen (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Novel Bamukmin yang menilai bahwa Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), khususnya Bapas Bogor, masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama."Selaku Wasekjen PA 212 tentunya prihatin terhadap Kemenkumham khususnya Bapas Bogor masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama," ujar Ustadz Novel Bamukmin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (21/10).Ustad Novel mengaku tidak heran karena Kemenkumham, khususnya Bapas Bogor, merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin yang dianggapnya tidak bersahabat dengan ulama yang tegas dan istiqomah."Malah para pelaku kejahatan atau residivis juga para koruptor dan pe…

Mahasiswa UGM: Saya Dihajar Dan Dipaksa Mengaku Sebagai Provokator Oleh Aparat

 




Senin, 12 Oktober 2020

Faktakini.net, Jakarta - Akhfa Rahman Nabiel (20) salah satu korban demo ricuh di DPRD DIY beberapa hari lalu kini dirawat di RS Bhayangkara Sleman. Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 2017 itu mengaku sempat dipukuli dan dipaksa mengaku sebagai provokator oleh aparat.

Walau sudah di ruang inap, selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuh Nabiel. Ia mengaku masih sesak napas usai alami tendangan oknum aparat, dan wajahnya lebam usai dipukuli saat diinterogasi di salah satu ruang DPRD DIY.

Saat aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja 8 Oktober 2020 lalu, Nabiel sendiri bercerita datang terlambat. Ia menyusul rekan demonstran lain yang sudah jalan kaki dari Bundaran UGM menuju Malioboro.

Menggunakan sepeda motor, Nabiel membawa dua kardus air untuk dibagikan ke rekan demonstran lain. Setelah memarkir kendaraan di area parkir Abu Bakar Ali, sambil bagikan air Nabiel bergabung dengan iringan mahasiswa UGM lain.

Saat ini, Nabiel memang berada di posisi depan. Tidak lama saat berada di depan pintu masuk DPRD DIY, demo ricuh setelah beberapa aparat terprovokasi ulah oknum demonstran dan Nabiel mundur bersama polisi masuk ke Aula DPRD.

Saat berlindung di Aula DPRD itu, Nabiel didatangi seorang aparat yang mulai menginterogasinya. Setelah itu, Nabiel dan rekan-rekan demonstran lain malah ditangkap, telepon selulernya disita, bahkan mengalami pukulan bertubi-tubi.

"Kepala dan muka saya beberapa kali dipukul, sampai gagang kaca mata saya patah," kata Nabiel saat dijenguk Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr Suharyadi, Jumat (9/10) sore.

Tidak berhenti sampai di sana, Nabiel malah diminta aparat mengaku sebagai provokator setelah isi percakapannya soal demo diperlihatkan kepadanya. Padahal, Nabiel meyakini, isi percakapan hanya candaan dengan mahasiswa UGM lain soal demo.

"Mereka anggap chat saya dengan mahasiswi ini untuk provokasi demo Gedung DPRD jadi ricuh," ujar Nabiel.

Tidak mau mengaku, lagi-lagi Nabiel mendapat pukulan aparat. Jelang sore, Nabiel disuruh berjalan jongkok dari lantai tiga Gedung DPRD menuju mobil bak terbuka untuk dibawa, yang seingat Nabiel ke Polresta Yogyakarta.

Nabiel mengaku sudah lemas dan merasa fisiknya tidak mampu berjalan lagi. Sesamainya di kantor Polisi, Nabiel sempat dipapah aparat, mendapatkan bantuan oksiten dan akhirnya dibawa ke rumah sakit karena terus melemah.

Ia mengaku sangat bersyukur kini sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ketika dijenguk Direktur Kemahasiswaan UGM, Nabiel mendapat banyak movitasi agar lekas sembuh dan bisa beraktivitas kembali.

"Pak Haryadi minta saya tetap semangat, tetap pikir positif. Saya ingin masalah ini cepat selesai dan bisa kuliah kembali," kata Nabiel.

Sumber: gudfe.com

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: