Langsung ke konten utama

Featured Post

Pernyataan FPI Aceh Terkait Penusukan Terhadap Ulama Saat Ceramah Maulid Di Aceh

Sabtu, 31 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Pernyataan FPI Aceh Terkait Penusukan Terhadap Ulama Saat Ceramah Maulid Di Aceh

Khozinudin: Pandemi, Narasi Pamungkas Rezim Untuk Membungkam Suara Rakyat

 



Rabu, 14 Oktober 2020

Faktakini.net

*PANDEMI, NARASI PAMUNGKAS REZIM UNTUK MEMBUNGKAM SUARA RAKYAT*

Oleh : *Ahmad Khozinudin*

Sastrawan Politik

_"Arahan Presiden, perlu diingatkan ke masyarakat bahwa sekarang masih pandemi Covid. Sehingga, kegiatan unjuk rasa (agar) tidak membawa klaster demo baru. Itu yang diingatkan pemerintah,"_ 

*[Airlangga Hartarto, 12/10/2020]*

Rezim Jokowi tak mampu membendung perlawanan rakyat yang tetap melakukan aksi menyampaikan pendapat di muka umum, melalui penggiringan opini via narasi membawa perkara ke MK. Jokowi memang sanggup, mengubah satu ormas untuk ikut menyuarakan nyanyian 'uji materi ke MK', namun hal itu terbukti 'gagal' menghentikan aksi massa.

Rakyat sangat paham, seruan ke MK bukanlah seruan jujur yang berpihak pada kepentingan rakyat. Namun, seruan ke MK adalah strategi politik untuk menjebak rakyat, agar suaranya terkanalisasi pada ruang kecil di MK, untuk akhirnya suara itu di bungkam oleh ketukan palu Hakim MK. 

Rakyat sadar, bahwa satu-satunya peta jalan perubahan adalah tetap teguh dan bertahan di parit parit perjuangan, menyuarakan aspirasi menolak UU Cipta Kerja sekaligus menuntut Presiden terbitkan Perppu untuk membatalkannya.

Kali ini, rezim menempuh cara lain dengan mencoba mengunggah empati atas keselamatan nyawa rakyat ditengah pandemi. Tujuannya tetap sama, membungkam suara rakyat berdalih pandemi, seolah-olah Presiden peduli dengan nyawa dan keselamatan rakyat.

Presiden Joko Widodo disebut mewanti-wanti bahwa demo di tengah pandemi Covid-19 dapat menimbulkan klaster penyebaran baru. Jokowi pun meminta jajarannya untuk mengingatkan hal tersebut kepada masyarakat.

Melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, Presiden mencoba menghentikan aksi dengan bahasa kekhawatiran pandemi. Satu seruan, yang sebenar hanya ingin membungkam suara rakyat.

Sebelumnya, Dikti juga menyuarakan narasi pandemi untuk membungkam suara mahasiswa. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), menerbitkan surat edaran bernomor 1035/E/KM/2020 terkait demo mahasiswa, meminta mahasiswa tak turut serta dalam unjuk rasa yang berpotensi membahayakan mereka, karena situasi pandemi.

Jika Presiden serius sayang nyawa rakyat, khawatir ada kluster baru dalam pandemi dari aksi demo, kenapa presiden tidak segera terbitkan Perppu untuk membatalkan UU Cipta Kerja ? Bukankah, jika Perppu itu diterbitkan rakyat otomatis berhenti demo, sebab tuntutan demo rakyat adalah pembatalan UU Cipta Kerja. 

Faktanya tidak demikian, jangankan terbitkan Perppu, menemui pendemo yang rakyatnya sendiri saja tidak dilakukan Presiden. Jokowi, lebih mengutamakan menjenguk itik di Kalimantan ketimbang menemui, dan mendengarkan aspirasi pendemo.

Seruan Presiden terkait pandemi juga terlihat hanya basa-basi. Sebab, saat dinggatkan berbagai elemen masyarakat bahaya melanjutkan Pilkada ditengah pandemi, bahaya munculnya kluster Pilkada dalam penularan virus Corona, Jokowi bungkam. Tak mempedulikan seruan itu. Lalu, apa alasannya sekarang rakyat perlu mengikuti seruan presiden untuk membela hak nya berdalih virus Corona ?

Ketika Tuan Presiden tak mendengar suara rakyat, menjadi hak rakyat juga untuk tak menggubris seruan Presiden. Rakyat, tetap akan memperjuangkan hak nya, dengan berbagai resiko dan tantangan.

Sejumlah kelompok buruh dan mahasiswa tetap berencana melakukan aksi hingga Presiden batalkan Perppu. Di Jakarta, elemen buruh telah mengajukan pemberitahuan ke Polisi untuk aksi hari ini hingga beberapa hari kedepan.

Selasa, tanggal 13 Oktober elemen ANAK NKRI bersama FPI, PA 212, GNPF Ulama, dan sejumlah elemen lainnya juga akan menggelar aksi besar di Jakarta. Tak ketinggalan, ujung tombak perjuangan anak STM, juga dikabarkan turut hadir.

Diberbagai daerah, juga digelar aksi serupa. Tuntutan juga seragam, meminta Presiden terbitkan Perppu membatalkan UU Cipta Kerja.

Sudah saatnya, rakyat punya rencana sendiri, perjuangan sendiri dan cara berjuang yang steril dari intervensi kekuasaan. Sudah saatnya, penguasa kaget dan terbelalak karena baru menyadari perlawanan rakyat keluar dari skenario dan kalkulasi.

Panjang umur perjuangan.......! [].

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: