Langsung ke konten utama

Featured Post

Gus Nur Ditangkap, Kesaksian Anak: Digerebek 30 Personel Polisi Saat Tengah Malam, Lalu Dibawa

Ahad, 25 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Keluarga mubaligh asal Jawa Timur Gus Nur atau Sugi Nur Raharja mengaku kaget dengan penggeledahan dan penangkapan yang dilakukan polisi saat tengah malam Sabtu, 24 Oktober 2020.Gus Nur ditangkap sekira pukul 00.15 WIB di rumahnya di Jalan Cucak Rawun Raya, Pakis, Kabupaten Malang.Putra kedua Gus Nur, yakni Muhammad Munjiat (21 tahun) mengatakan, keluarga kaget karena penggerebekan ini baru pertama kali mereka alami. Menurut Munjiat ada lima mobil dengan anggota polisi sekira 30 personel yang menggerebek rumah Gus Nur.“Digerebek pertama kali kayak ini. Keluarga tidak lebih dari kaget saja. Karena ini kan bukan laporan pertama, tapi sebelumnya tidak seperti ini dipanggil pakai surat untuk BAP. Tapi baru kali ini didatangi mobil dan langsung digerebek polisi,” kata Munjiat, Sabtu, 24 Oktober 2020, seperti dilansir Viva.co.id.Munjiat mengungkapkan, saat penangkapan dan penggeledahan ia bersama sang ayah baru saja pulang dari pengajian peringa…

KH Idham Chalid: Kami Menolak PKI Karena Yakin Satu Saat Pasti Berontak Lagi!

Sabtu, 3 Oktober 2020

Faktakini.net

indonesiabertauhid JASMERAH

Guru politik NU Kyai Idham Chalid dianggap "terkena propaganda MASYUMI" lantaran anti PKI. bagaimana kalau sekarang?

Di era Orde Lama, tepatnya pada tahun 1957, Soekarno pernah menyusun kabinet yang dinamakannya Kabinet Kaki Empat. Dinamakan demikian karena kabinet tersebut terdiri dari empat partai besar pemenang Pemilu 1955 yakni: PNI, NU, Masyumi, dan PKI.

PNI, Murba, dan PKI sepakat dengan konsep itu, namun partai-partai seperti Masyumi, NU, PSII, dan Partai Katolik menolaknya. Salah satu respon penolakan paling keras adalah dari kubu NU. Sebabnya adalah trauma masa lalu ketika PKI melakukan pembantaian terhadap kiai-kiai NU di Madiun pada tahun 1948 silam.

Sikap keras NU membuat Soekarno gusar
Maka diundanglah para pembesar NU seperti KH. Wahab Chasbullah, KH. Zainul Arifin, dan KH. Idham Chalid untuk bertemu dengan Soekarno hingga terjadilah dialog berikut ini:

Bung Karno (BK): Kenapa (NU) menolak Kabinet Kaki Empat?

KH Idham (KI): Karena banyak kiai NU yang disembelih (PKI) pada waktu peristiwa Madiun, itu belum terlupakan oleh kami.

BK: Kalau kamu belum bisa melupakan bagaimana kita bernegara?

KI: Itulah, Pak. Saya ini membawa bukan hanya suara saya pribadi, tapi suara semua orang (NU)

BK: Tuan tuan ini keras kepala betul!

KI: Memang pak. Jikalau PKI ditaruh di bahu, dia akan naik kepala, itu pengalaman di negara-negara komunis.

BK: Itu kan di negara lain.

KI: Buktinya, pak, sewaktu di Madiun kan (PKI) sudah menimbulkan korban banyak di kalangan rakyat.

BK: Ya itu kan lain, nanti saya yang menghadapi kalau mereka berani (memberontak) lagi.

KI: Lebih baik PKI jangan diberi angin saja. Kami punya keyakinan suatu saat PKI akan memberontak lagi. Kalau seandainya NU tidak pantas ikut di Kabinet, saya dengan sukarela akan mengundurkan diri.

BK: Tidak. Ini prinsip saya. Kita harus kerja di satu meja, juga harus makan bersama di meja yang sama.

KI: Tidak bisa pak. Saya hanya satu di antara sekian juta orang NU yang memutuskan tidak bisa bekerjasama dengan PKI.

BK: Saudara tahu saya ini bukan PKI? Saya ini orang Islam, tapi kita ini harus mengurus dunia. Ada 6 juta suara (PKI) tidak diikutkan. Ini berbahaya!

KI: Kami berpendapat justru kalau (PKI) diikutkan berbahaya.

BK: Itu berarti saudara kena propaganda Masyumi!

*Tambahan*
Kalau dizaman dulu, sikap yg ditunjukkan KH.Idham Chalid dianggap sebagai representadi sikap Masyumi, maka dizaman sekarang, biasanya diredaksikan dengan: "Dasar Islam Radikal!"

***

Dialog disarikan dari buku berjudul _*Napak tilas pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU Dalam Sejarah*_. Editor Arief Mudatsir Mandan, yang dikutip oleh H. Abdul Mun'im DZ dalam buku *Benturan NU PKI* 1948 - 1965.

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: