Langsung ke konten utama

Featured Post

Bapas Bogor Banding Kasus Habib Bahar, Ustadz Novel: Ambisi Untuk Kriminalisasi Ulama

Jum'at, 23 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bogor telah resmi mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung yang memenangkan penceramah kondang, Habib Bahar Bin Smith soal surat keputusan pencabutan asimilasi.Upaya banding itu pun direspon oleh Wakil Sekjen (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Novel Bamukmin yang menilai bahwa Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), khususnya Bapas Bogor, masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama."Selaku Wasekjen PA 212 tentunya prihatin terhadap Kemenkumham khususnya Bapas Bogor masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama," ujar Ustadz Novel Bamukmin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (21/10).Ustad Novel mengaku tidak heran karena Kemenkumham, khususnya Bapas Bogor, merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin yang dianggapnya tidak bersahabat dengan ulama yang tegas dan istiqomah."Malah para pelaku kejahatan atau residivis juga para koruptor dan pe…

Jebakan Pengajian Maut PKI Di Banyuwangi: Umat Islam Diracuni Lalu Dibunuh


Ahad, 4 Oktober 2020

Faktakini.net

JEBAKAN PENGAJIAN MAUT PKI

Saat itu tanggal 18 Oktober 1965. Warga Dusun Krajan Desa Cemetuk Kec Cluring Kab Banyuwangi Jawa Timur berbondong-bondong menuju rumah Pak Lurah. Mereka mendapat undangan pengajian yang mengatasnamakan NU. Padahal aslinya undangan dari PKI, tapi mereka menyamar sebagai Banser dan Fatayat.

Lurah Desa Cemetuk yaitu Matulus adalah seorang dedengkot PKI disana. Dia sengaja menjebak warga desa, terutama para aktivis Banser dan Anshor dalam acara pengajian itu.

Para anggota Gerwani turut serta dibagian konsumsi. Mereka mengenakan kerudung dan seragam warna hijau khas Fatayat NU. Mereka juga ikut menyenandungkan sholawat. Jadi sebagian Gerwani bertugas sholawatan di panggung, sebagian lagi mengurusi konsumsi.

Tak ada kecurigaan sama sekali dari pengajian penuh petaka itu. Warga desa ikut berdendang sholawat dan diakhiri dengan acara makan-makan besar. Mereka bergembira sebagaimana dalam suasana pengajian pada umumnya.

Tapi tak beberapa lama kemudian, para tamu undangan terlihat memegang perut dan leher seraya kejang-kejang. Mereka terlihat sangat kesakitan kelojotan di rumah Lurah Matulus. Ternyata racun makanan yang ditaruh oleh para Gerwani sudah bekerja dengan baik. Bisa membunuh para anggota Anshor dan Banser Banyuwangi.

Terlihat para Gerwani tertawa gembira melihat para anggota Banser dan Anshor sekarat. Mereka tak lagi berpura-pura menjadi anggota Fatayat yang mendendangkan sholawat lagi, tapi berubah menjadi Gerwani yang mendendangkan lagu genjer-genjer. Mereka tertawa-tawa melihat peserta pengajian bertumbangan satu persatu. Tak ada perlawanan berarti. Cukup dengan racun makanan maka musuh pun tumbang bersamaan.

Di saat anggota Banser dan Anshor peserta pengajian sedang sekarat, mereka digelandang ke rumah Mangun Lehar. Seorang tokoh utama PKI Desa Cemetuk. Dan di rumah Mangun Lehar inilah pembantaian terjadi.

Sebanyak 62 anggota Banser dan Anshor dibantai tiada ampun. Mereka diiris, dicacah, dimutilasi oleh saudara sebangsanya sendiri. Rumah Mangun Lehar banjir darah. Dinding, lantai, dan perabot rumahnya berubah warnanya menjadi merah darah.

Perempuan durjana Gerwani turut serta dalam peristiwa pembantaian itu. Mereka menari dan menyanyi genjer-genjer tiada henti. Seakan menikmati tarian darah tumbal manusia. Entahlah mengapa hati mereka begitu buas. Pesta penjagalan manusia seolah pesta biasa saja.

Setelah selesai pesta penjagalan keji itu, jenazah anggota Banser & Anshor dikuburkan dalam 3 lubang besar yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Lubang pertama berisi 10 mayat. Lubang kedua berisi 10 mayat. Dan lubang ketiga berisi 42 mayat. Sampai saat ini ketiga lubang mayat itu masih ada di Desa Cemetuk Banyuwangi.

Untuk mengingat peristiwa kekejian PKI di Desa Cemetuk Banyuwangi ini, telah dibangun monumen Pancasila Jaya. Monumen berupa burung Garuda besar. Berisi daftar nama 62 orang yang dibantai. Juga relief pembunuhan keji. Juga 3 lubang kuburan massal yang dinamakan lubang buaya.

Sebuah pengingat nyata bagi kita semua. Bahwa PKI tak pernah memiliki belas kasih terhadap sesama. Tak pernah memiliki hati nurani bersih. Yang ada hanyalah pertumpahan darah sesama anak bangsa.

JASMERAH ~
https://m.merdeka.com/banyuwangi/pariwisata/wisata-sejarah-di-monumen-lubang-buaya-cemetuk-banyuwangi-1605079.html

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: