Langsung ke konten utama

Featured Post

Bapas Bogor Banding Kasus Habib Bahar, Ustadz Novel: Ambisi Untuk Kriminalisasi Ulama

Jum'at, 23 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bogor telah resmi mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung yang memenangkan penceramah kondang, Habib Bahar Bin Smith soal surat keputusan pencabutan asimilasi.Upaya banding itu pun direspon oleh Wakil Sekjen (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Novel Bamukmin yang menilai bahwa Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), khususnya Bapas Bogor, masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama."Selaku Wasekjen PA 212 tentunya prihatin terhadap Kemenkumham khususnya Bapas Bogor masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama," ujar Ustadz Novel Bamukmin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (21/10).Ustad Novel mengaku tidak heran karena Kemenkumham, khususnya Bapas Bogor, merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin yang dianggapnya tidak bersahabat dengan ulama yang tegas dan istiqomah."Malah para pelaku kejahatan atau residivis juga para koruptor dan pe…

Sudah Lakukan Pengukuran, HILMI FPI Segera Serahkan Kaki Palsu Untuk Penerima Di Cirebon Dan Lainnya

 

 

Kamis, 8 Oktober 2020

Faktakini.net, Jakarta -  Alkisah tersebut Pak Ian Kapal, lelaki berusia 38 tahun seorang pembuat kaki palsu. Pak Ian Kapal tinggal di jalan Salak 2 No. 33 Perumnas 1 Kota Tanggerang, provinsi Banten. Kata “Kapal“ dibelakang namanya merupakan singkatan dari kata “Kaki Palsu“. 

Ya memang benar Pak Ian pun menggunakan Kaki Palsu, yakni kaki sebelah kirinya.  Sebelum  tahun 2000 Pak Ian mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki sebelah kirinya terpaksa harus diamputasi. Sejak itu Ia menggunakan Kaki Palsu, tepatnya sejak tahun 2001.

Pak Ian Kapal memulai produksi kaki palsu sejak tahun 2007. Latar belakang yang menyebabkan Pak Ian membuat Kaki dan Tangan Palsu serta membantu sesama penyandang disabilitas adalah karena Ia merasa senasib sama-sama sebagai penyandang disabilitas. Karenanya Pak Ian bertekat untuk membantu sesama penyandang disabilitas. Sejak tahun 2007, Ia telah banyak memproduksi kaki dan tangan Palsu. Jika dirata-rata setiap bulannya Ia membuat antara 8 hingga 10 kaki palsu.

Tersebutlah Ibu Eriyah. 7 bulan  yang lalu ia mengalami kecelakaan saat dibonceng oleh putranya. Hingga kemudian kaki Ibu Eriyah terpaksa harus diamputasi. Setelah membaca apa yang dilakukan oleh HILMI FPI Ibu Eriyah mengajukan permohonan untuk pembuatan kaki palsu.

Singkat cerita permohonan itu sampai ke DPP HILMI di Jakarta. Saat mempelajari dan membandingkan produsen pembuat kaki palsu. Masuklah data Pak Ian Kapal. Hingga suatu saat Bib Ali Al Hamid berkenalan dengan Pak Ian Kapal lewat no kontak yang diberikan oleh seorang Laskar. 

Akhirnya mereka pun berangkat menuju Cirebon. Ke tempat kediaman Ibu Eriyah. Untuk melakukan pengukuran pembatan kaki palsu.

Setelah pertemuan di Cirebon dengan Ibu Eriyah. Selanjutnya disepakati kerjasama antara Pak Ian Kapal dengan DPP HILMI FPI terkait pembuatan kaki palsu di beberapa tempat. Pembuatan Kaki Palsu tersebut antara lain adalah di Jakarta 3 orang, di Jawa Barat 1 orang dan di Sumatera Barat 1 orang.

Berikut Ini data-data singkat penerima bantuan Kaki Palsu.

1. Ibu Murni, tinggal di Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Pekerjaan Cuci Gosok dan aktif di Pengajian. Tinggal di 1 rumah bersama 11 saudara kandungnya. Kedua orang tuanya sudah meninggal.

2. Bapak Jeni, tinggal di Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Adalah mantan Qoid Laskar FPI Kebon Jeruk pada awal berdirinya FPI. Tinggal dirumah sederhana  bersama Istri dan 2 anaknya yang sudah bekerja.

3. Uda Nata, tinggal di Semanan, Kalideres Jakarta Barat. Setelah diberhentikan dari kerjaannya sebagai pengantar air galon dan tabung gas. Kini bekerja serabutan menjajakan roti di Rumah Susun Pesakih Kalideres. Terlilit hutang hingga lebih dari Rp 3 juta di bank keliling dan koperasi. Tinggal di kontrakan bersama Istri dan 2 anak yang belum sekolah.

4. Nama Rudi. Pekerjaan pengemudi atau driver Go-Jek. Bergabung dengan Jamaah Tablig. Menderita diabetes sehingga waktu luka tidak sembuh-sembuh akhirnya terpaksa diamputasi.

5. 10 bulan yang lalu Ibu Wiwin penderita diabetes basah serta ada virus yang menyebar. Dokter menyarankan untuk diamputasi agar virus tidak menyebar. Sang Suami meninggal tahun 2017. Ibu Wiwin dirawat oleh anak perempuannya. Alhamdulillah untuk biaya kuliah sang anak mendapatkan beasiswa dari Kampus.

Foto: Pak Rudi penerima bantuan kaki palsu

Sumber: Habib Ali Al Hamid, Bapak Ian Kapal, HILMI FPI


           Ibu Eriyah penerima bantuan kaki palsu






Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: