Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) KH Awit Masyhuri: Habib Rizieq Tak Punya Kasus Hukum, Kepulangan Beliau Aman Insya Allah

Sabtu, 24 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - KH Awit Masyhuri: Habib Rizieq Tak Punya Kasus Hukum, Kepulangan Beliau Aman Insya Allah. Klik video:Klik video:

Cokro TV Dukung Komunis

 




Rabu, 7 Oktober 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di samping membersihkan PKI dari kudeta berdarah di Indonesia, Cokro TV juga membuat opini bahwa Bahaya Laten DI/TII lebih mengancam dari laten PKI. Alasannya korban yang dihasilkan dari DI/TII lebih besar dari PKI. Baik di tahun 1948 maupun 1965.

Dalam opininya yang ditonton 128 ribu orang itu, Eko Kuntadhi mengecilkan bahaya PKI. Pemberontakan PKI 1948 di Madiun menurutnya hanya memakan korban 268 orang. Sedangkan pemberontakan PKI 1965 cuma menelan korban 10 orang ditambah 50 orang di Banyuwangi Jawa Timur.

Ia kemudian membandingkan dengan pemberontakan DI TII. Yang menurutnya membelot dari negara Indonesia yang sah. Mereka ingin mendirikan negara dengan pemerintahan yang berdasar Islam. Mirip dengan kaum khilafah sekarang, katanya.

Korban DI TII di Jawa Barat saja sekitar 22 ribu orang. Jauh lebih besar dari korban PKI. Menurut Eko, PKI itu cuma hantu. Untuk menakut-nakuti saja. Seperti kuntilanak. Nggak ada kan kuntilanak yang mencekik kita? Katanya.

Yang membesar-besarkan PKI bangkit lagi ini hanyalah Gatot, Amien Rais dan lain-lain. PKI gak mungkin bangkit lagi. Uni Soviet sudah runtuh dan Jerman Timur Jerman Barat sudah menyatu.

Yang riil musuh di sekitar kita sekarang ya DI TII yang muncul dalam bentuk gerakan khilafah. Itu ada di sekitar kita sekarang dan korbannya juga banyak, terang Eko.

Analisa Eko ini absurd. Ia tidak menyebut Cina yang masih kukuh dengan ideologi komunismenya. Partai Komunis Cina adalah partai tunggal yang mengendalikan 1,4 milyar rakyat Cina. Begitu perkasanya partai itu, sehingga banyak politisi kita terkecoh dan belajar komunis di Beijing.

Jadi bangkitnya komunis bukan hantu kosong. Selain itu data-data yang disampaikan Eko -gerombolan Ade Armando dan Denni Siregar ini– juga banyak yang ngacau. Korban akibat keganasan PKI di Madiun diduga kuat ribuan. Di samping cara pembunuhan yang kejam, PKI saat itu telah mendirikan Republik Soviet di Madiun.

Sedangkan DI yang diproklamirkan Kartosuwiryo tahun 1949 itu adalah didirikan di wilayah Belanda sesuai dengan Perjanjian Reniville. Dimana saat itu yang diakui hanya wilayah Yogyakarta saja. Dan saat itu Kartosuwiryo cs tidak mau menyerah kepada Belanda dan mundur dari Jawa Barat.

Sebenarnya ketika DI diproklamirkan tokoh Islam Mohammad Natsir telah menyarankan Soekarno agar menyelesaikannya dengan perundingan atau damai. Natsir juga mengirim surat yang diantar oleh Ahmad Hasan kepada Kartosuwiryo agar membatalkan proklamasi DI itu. Tapi surat Natsir terlambat tiga hari setelah proklamasi.

Jadi DI sebenarnya tidak memberontak di wilayah RI tapi di wilayah Belanda. Dan tentara DI terpaksa perang karena perintah Soekarno untuk memerangi DI.

Sementara itu, gerakan-gerakan khilafah saat ini bukanlah kelanjutan dari DI. Gerakan khilafah sekarang muncul kebanyakan dari kaum muda yang jenuh dengan sistem kapitalis. Gerakan yang ingin menggantikan dominasi Amerika di dunia. Gerakan ini adalah gerakan damai, tidak menghancurkan NKRI dan tidak dirancang dengan metode kekerasan atau pembunuhan. Jadi bohong bila Eko menyatakan bahwa gerakan khilafah ini menimbulkan banyak korban.

Lihatlah gerakan khilafah yang diserukan HTI atau FPI. Apakah ada korban jiwa dari gerakan mereka? Bila dulu ada korban, karena waktu itu FPI agresif perang terhadap preman dalam rangka amar makruf nahi mungkar. Apalagi konsep khilafah FPI adalah penggabungan negeri-negeri Islam. Konsep ini malah akan memperkuat dan memperbesar NKRI.

Jadi komunis itu bukan hantu dan gerakan khilafah itu tidak membahayakan NKRI. Yang lebih membahayakan adalah opini-opini Cokro TV yang sering membolak-balikkan kebenaran dan melakukan penyesatan opini.

Hati-hati kalau anda menontonnya dan saringlah dengan ketat informasi-infornasi yang disampaikan oleh agen-agennya. Wallahu alimun hakim.

Nuim Hidayat

(Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok, Alumni IPB dan UI)

Sumber: suaraislam.id

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: