Langsung ke konten utama

Featured Post

FPI Lampung Peringati Maulid Nabi Dan Lantik DPC FPI Tanjung Karang Barat Dan Pusat

Ahad, 1 November 2020
Faktakini.net, Jakarta - Hari Sabtu (31/10/2020) DPD FPI Lampung mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H, sekaligus melakukan pelantikan dua DPC, yaitu:
1.DPC FPI Tanjung Karang Barat (TKB)  2.DPC FPI Tanjung Karang Pusat
Kegiatan ini bertempat di Masjid Falahuddin Sukajawa Tanjung Karang Barat Kota Bandar Lampung dan dihadiri Oleh Ketua DPD FPI Lampung H Fidyan Fuad didampingi oleh Sekretaris DPD FPI Lampung,Para Habaib, kiyai, Ustadz, dan Santri. 
Pengawalan dan Pengamanan dijaga oleh Sayap juang FPI Lampung, BAT dan LPI ,TNI dan Polri
Habib Umar Assegaf Imam Daerah FPI Lampung saat melantik dan membaiat kepada para Tanfidzi TKB dan TKP, mengatakan, "Antum semua agar taat kepada Allah dan Rosulullah, dan taat kepada pimpinan. Jangan kendor dlm ber Amar maruf Nahi Munkar.Semoga istiqomah dlm perjuangan".
Sumber:  Kontributor LIF Lampung (Mance Sr)


Matinya Kapten Paris Di Tangan Pasukan Cut Ali Di Sapek Bakongan




Senin, 21 September 2020

Faktakini.net

MATINYA KAPTEN PARIS DI SAPEK BAKONGAN

Kapten J Paris merupakan salah satu perwira Belanda yang fasih berbahasa Aceh. Ia tewas dalam pertempuran jarak dekat dengan pasukan Cut Ali di Bakongan, Aceh Selatan pada 3 April 1926.

Dalam pertempuran tersebut, Kapten Paris tidak mati sendiri, bersamanya juga tewas dua orang kadet dan tiga orang marsose, sementara sisanya 12 orang dari pasukan marsose yang dipimpin Kapten Paris luka parah.

Kisah kematian Kapten Paris ini dicertakan oleh Tjoetje, mantan pegawai Bestuur Meulaboh, Aceh Barat. Dalam buku ‘Peutjuet” Tjoetje menceritakan, berbeda dengan para opsir dan perwira Belanda lainnya yang tewas di Aceh, yang dikuburkan di Kerkhof Peucut, jenazah Kapten Paris dibawa pulang ke Inggris atas permintaan istrinya.

Tentang kisah kematian Kapten Paris, Tjotje menulis. Pertempuran jarak dekat antara pasukan Kapten Paris dengan pasukan pejuang Aceh yang dipimpin Cut Ali itu terjadi di Gampong Sapek, Bakongan, Aceh Selatan.

Cut Ali merupakan pemimpin gerilyawan perang Aceh di bagian barat selatan yang sangat membuat Belanda kerepotan. Mereka sering menyerang patroli Belanda secara tiba-tiba, kemudian meninggalkan jenazah tentara Belanda begitu saja dan membawa lari senjata-senjatanya. Karena itu pula Belanda menjuluki kelompok Cut Ali ini dengan sebutan “de jahat” di Bakongan.

Kelompok Cut Ali pula yang membuat Kapten Paris tewas. Ia dibacok dengan kelewang oleh pejuang Aceh. Kelewang merupakan pedang khas Aceh yang sangat tajam. Pedang-pedang tersebut menyerupai pedang-pedang Turki yang banyak dipasok ke Aceh pada masa lalu ketika perang mengusir Portugis di Selat Malaka.

Tebasan pertama kelewang Aceh itu mengenai lengan Kapten Paris. Oleh Belanda ini disebut sebagai eerster houw atau bacokan kelewang yang pertama. Sementara tebasan selanjutnya disebut houw bovenop yakni tebasan puncak dari leher membelah rongga dada.

Pejuang Aceh sangat lihat dalam perang jarak dekat, tebasan houw bovenop sebagaimana diakui oleh mantan marsose HC Zentgraaff dalam buku Atjeh, sangat ditakuti oleh Belanda. Bacokan how bovenop ini pula yang menyebabkan Kapten Paris mati.

Bacokan pertama menganai lengan Kapten Paris, selanjutnya bacokan kedua tepat di tengkuknya. Bacokan kedua inilah yang menyebabkan Kapten Paris hoyong dan jatuh tak berdaya.

Sebelumnya, Kapten Paris yang sering selamat dalam beberapa pertempuran, diisukan memiliki ilmu kebal. Namun hal itu dibantah oleh Kolonel Du Croo dan Scmidt dalam buku Generaal Swart, Pacipicator Van Atjeh.

Bantahan yang sama juga ditulis HC Zentgraaff dalam buku Atjeh, serta dalam buku Peringatan 50 Tahun Marsose Aceh yang ditulis oleh panitia khusus yang dipimpin Redactuerschap Mayor P Doup.

Jenazah Kapten Paris tidak dikuburkan di Aceh, sebagaimana tentara Belanda lainnya yang tewas dalam peperangan yang dikuburkan di Peucut Kerkhoff, komplek kuburan Belanda di Banda Aceh. Tapi jenazah Kapten Paris beristrikan seorang wanita Inggris. Ketika ia tewas dalam pertempuran di Gampong Sapek, Bakongan, Aceh Selatan tersebut, jenazah Kapten Paris dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh), kemudian dibawa ke Sabang dengan kapal Pemerintah Hindia Belanda.

Dari Sabang jenazah Kapten Paris dinaikkan ke kapal Samudera dan langsung dibawa pulang ke Inggris atas permintaan istrinya. Jenazah Kapten Paris dikuburkan di kota Hastings di bagian Inggris Selatan.

Pada kuburan Kapten Paris diukir dua kepingan suratan. Satu dalam bahasa Inggris dari istrinya, satu lagi dalam Bahasa Belanda dari tiga komandan marsose di tiga bivak, yakni Komandan bivak Jeuram, komandan bivak Lamie, dan komandan bivak Kuala Bhee. Ketiga bivak ini tunduk kepada Divisi Marsose I Meulaboh tempat Kapten Paris pernah menjadi komandannya.

✍️Steemit com/story/@isnorman/matinya-kapten-paris-di-sapek-📸bakonganKapten J Paris / Repro: The Dutch Colonial War In Aceh

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: