Langsung ke konten utama

Featured Post

Hari Kedua, FPI Purworejo Turunkan Laskar Bantu Korban Longsor Di Kalijering Pituruh

Selasa, 27 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta -  Relawan FPI Purworejo hari ini Selasa, 27 Oktober 2020 masih terus turun membantu korban banjir dan longsor diwilayah terparah Desa Kalijering kecamatan Pituruh. FPI bersama beberapa relawan kemanusiaan seperti KJB dan S3 Purworejo turun langsung membantu meringankan beban korban yang selamat dan beberapa luka-luka. Selain membuka akses jalan yang berlumuran lumpur parah para Laskar terlihat membawa nasi bungkus untuk para korban, obat-obatan, baju, dan berbagai bantuan lainnya. Untuk para dermawan yang mau ikut membantu meringankan korban yang ditaksir kerugiannya mencapai milyaran rupiah bisa menghubungi Bendahara DPW FPI Purworejo Ir. Muhammad Mansur di Nomor wa +62 853-7784-2497. Demikian Kontributor LIF Purworejo Melaporkan.




Klik video:


Korban Pembantaian G 30 S/PKI: Letnan Jenderal M.T. Haryono



Jum'at, 25 September 2020

Faktakini.net

KORBAN G30S/PKI
Letnan Jenderal M.T. Haryono

Firasat Jelang Malam Jahanam (3)
Jelang Malam G30S/PKI, MT Haryono Suka Melamun dan Jauhi Si Bungsu.
Erwin Dariyanto, Samsudhuha Wildansyah - detikNews

Jakarta - "Jenderal, keluar Jenderal! Ada perintah dari Istana supaya Jenderal segera datang!". Teriakan itu begitu lantang terdengar memecah kesunyian di sebuah rumah di Jalan Prambanan Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat dini hari, 1 Oktober 1965.

Di kamar utama rumah tersebut, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo (MT) Haryono sontak terbangun. Ia lantas memerintahkan sang istri, untuk pindah ke kamar depan dan membawa anak-anaknya.

Sementara prajurit Tjakrabirawa terus merangsek ke kamar utama seraya memberondong dengan tembakan. Beberapa prajurit Tjakra berhasil masuk ke dalam kamar. MT Haryono berusaha menghalau dua prajurit Tjakra yang masuk ke kamarnya. Dia berniat keluar kamar menuju kamar mandi.

"Saya melihat ayah saya pada waktu pintu terbuka. Jadi pintu ditembak sampai hancur dan terbuka dan ayah saya merebut senjata dari gerombolan itu. Jadi itu gerombolan Tjakrabirawa. Ketika dia (MT Haryono) rebut senjata itu dia ditembak dari belakang kemudian saya lari," kata Rianto Nurhadi putra ke-3 Mayjen MT Haryono yang biasa dipanggil Riri kepada wartawan di Lapangan 1 Kostrad, Cijantung, Jaktim, Kamis (28/9) malam.

MT Haryono pun roboh. Untuk memastikan bahwa sang jenderal telah meninggal, prajurit Tjakrabirawa membakar sebuah koran. Mereka kemudian menyeret jenazah Jenderal Haryono ke truk untuk dibawa ke Lubang Buaya di kawasan Halim, Jakarta Timur. Jenazah MT Haryono baru ditemukan 3 Oktober 1965 di sebuah sumur tua bersama lima jenderal lainnya, kemudian dimakamkan di TMP Kalibata.

Dalam buku, "Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam" disebutkan bahwa, sebelum kepergian sang jenderal ke alam baka, keluarga merasakan beberapa pertanda. Isyarat itu antara lain, Jenderal Haryono tiba-tiba sering menyendiri dan melamun sambil mendengarkan musik klasik.

Padahal biasanya saat mendengarkan musik klasik sambil menata tanaman anggrek di halaman belakang, dia selalu ditemani putri bungsunya, Enda Marina. Namun menjelang 1 Oktober 1965, Haryono justru meminta Enda menjauh saat ingin mendekatinya. "Kami merasakan kejanggalan tersebut dengan perasaan heran yang tertahan," tulis Babab dalam buku tersebut.

Pertanda lainnya adalah, Ade Mirja Harjanti yang gelisah dan mengalami mimpi buruk. Beberapa jam sebelum prajurit Tjakrabirawa datang, Ade mimpi ayahya diculik. Walaupun Haryono berusaha melawan, namun sia-sia karena orang yang datang menculiknya banyak sekali.

Enda pun terjaga dan ketakutan. Sang Ibu berusaha menenangkan Enda. Beberapa menit kemudian, mimpi Enda menjadi kenyataan. Sang ayah, gugur setelah melawan penculik pimpinan Sersan Bungkus..

Sumber: DetiikNews


Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: