Langsung ke konten utama

Featured Post

Bapas Bogor Banding Kasus Habib Bahar, Ustadz Novel: Ambisi Untuk Kriminalisasi Ulama

Jum'at, 23 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bogor telah resmi mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung yang memenangkan penceramah kondang, Habib Bahar Bin Smith soal surat keputusan pencabutan asimilasi.Upaya banding itu pun direspon oleh Wakil Sekjen (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Novel Bamukmin yang menilai bahwa Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), khususnya Bapas Bogor, masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama."Selaku Wasekjen PA 212 tentunya prihatin terhadap Kemenkumham khususnya Bapas Bogor masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama," ujar Ustadz Novel Bamukmin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (21/10).Ustad Novel mengaku tidak heran karena Kemenkumham, khususnya Bapas Bogor, merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin yang dianggapnya tidak bersahabat dengan ulama yang tegas dan istiqomah."Malah para pelaku kejahatan atau residivis juga para koruptor dan pe…

Korban G30S/PKI dan 10 Buku yang Tak Sempat Dibaca DI Pandjaitan


Senin, 28 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - "Dor... dor... dor!" Prajurit Tjakrabirawa menembak secara membabi buta rumah Brigadir Jenderal Donald Ishak (DI) Pandjaitan di Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat dini hari, 1 Oktober 1965. Seisi rumah pun panik.

Prajurit Tjakrabirawa, yang mengaku diutus Sukarno untuk membawa DI Pandjaitan, tak sabar. "Tak usah ganti pakaian, tak usah berdoa!" teriak mereka.

Di dalam kamarnya di lantai 2, Brigjen DI Pandjaitan yang sudah mengenakan seragam militer khusyuk dalam doa. Dalam buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam' dituliskan menjadi kebiasaan DI Pandjaitan selalu mengawali kegiatannya dengan berdoa.

"Kami hitung sampai tiga, jika jenderal tidak mau turun, kami akan menggranat," teriak prajurit Tjakrabirawa.

DI Pandjaitan pun keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga. Di anak tangga ketiga, DI Pandjaitan diminta angkat tangan. Saat sang jenderal berada tepat di tengah tangga, seorang prajurit Tjakrabirawa melepaskan tembakan namun meleset dan mengenai lampu gantung.

Jenderal kelahiran Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925, itu pun keluar dari rumah mengikuti Tjakrabirawa. Catherine, putri sulung DI Pandjaitan, mengintip saat sang ayah berhadapan langsung dengan Tjakrabirawa di halaman.

Di halaman itu, Tjakrabirawa memerintahkan DI Pandjaitan bersikap tegak. Namun sang Jenderal menolak dan memilih terus berdoa. Dalam posisi berdoa itulah sebutir peluru ditembakkan ke bagian kepalanya.

DI Pandjaitan pun tumbang ke belakang membentur lantai halaman depan teras. "Papi... Papi...!" Catherine berteriak histeris saat tubuh ayahnya roboh bersimbah darah lalu diseret oleh para prajurit Tjakrabirawa ke atas truk.

Jenazah DI Pandjaitan lalu dibawa Tjakrabirawa ke kawasan Lubang Buaya di Halim, Jakarta Timur. Gerombolan PKI memasukkan jenazah DI Pandjaitan bersama lima jenderal lainnya dan satu perwira TNI AD ke sebuah sumur tua untuk menghilangkan jejak.

Tiga hari kemudian, jenazah mereka ditemukan. Pada 5 Oktober 1965, jenazah enam jenderal dan satu perwira TNI AD korban G30S/PKI dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Beberapa jam sebelum DI Pandjaitan diculik dari rumahnya, keluarga merasakan sejumlah kejanggalan. Pada Kamis sore, 30 Oktober 1965, rumah keluarga ini sepi. Padahal biasanya selalu ada tamu.

DI Pandjaitan, yang biasanya memanfaatkan waktu dengan membaca buku, mengobrol dengan istrinya, atau bermain golf saat tak ada tamu, hari itu lebih banyak melamun.

"Yang lebih mengherankan kami, sewaktu melihat ayah duduk melamun di teras lantai dua. Hanya mengenakan kaus, ayah tampak santai," kata putra-putri DI Pandjaitan seperti dikutip dari buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam'.

Hal lain yang mengejutkan keluarga adalah hari itu DI Pandjaitan memesan 10 jilid buku dogmatik dari luar negeri. Padahal dia biasanya suka membaca buku-buku tentang ekonomi dan militer.

Namun DI Pandjaitan tak sempat menyentuh buku-buku yang dipesannya itu. Sang jenderal gugur dalam tragedi G30S/PKI sebelum buku yang dia pesan datang.

Sumber: DetikNews

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: