Langsung ke konten utama

Featured Post

Ribuan Umat Hadiri Acara Maulid Nabi Dan Peringatan Hari Santri Di Pabuaran Sukabumi

Kamis, 22 Oktober 2020
Faktakini.net, Jakarta - Pada hari Kamis (22/10/2020) malam, berlangsung acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Memperingati Hari Santribdi Lapangan Puncak Tugu,  Kec.Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.  
Dalam kegiatan yang dikawal oleh Laskar FPI Kabupaten Sukabumi ini, hadir para Ulama, Habaib dan Tokoh Masyarakat setempat beserta ribuan warga masyarakat. 
Ketua Bidang Organisasi DTN PA 212, KH Abdul Qohar Al-Qudsyi. Lc turut hadir dalam acara ini dan memberikan ceramahnya. Kyai Qohar mengajak umat Islam untuk bersatu dan istiqomah di bawah komando Imam Besar Habib Rizieq Shihab.
Saat Kyai Qohar sedang memberikan ceramahnya, Tiba-tiba listrik mati, entah kenapa. Para jamaah pun sempat bertanya-tanya apakah kejadian ini alami ataukah ada sabotase pihak tertentu.
Namun alhamdulillah hal ini tidak mengurangi semangat para hadirin bahkan ribuah jamaah bersholawat bersama-sama, dan kemudian listrik bisa dinyalakan kembali dengan menggunakan genset.



Klik video:




Kisah Shodanco A.Yani Yang Sukses Berkarier Di TNI-AD


Selasa, 29 September 2020

Faktakini.net

Kisah Shodanco A.Yani Yang Sukses Berkarier Di TNI-AD

“Bapak itu dulu kampungnya di Rendeng, Purworejo (Jawa Tengah). Anak tertua dari Mbah (Kakek-Nenek) Wongsoredjo. Mbah dulu itu sopir pribadi keluarga Belanda di pabrik tebu Jenar,” ujar Amelia kepada Okezone.

Dengan menjadi sopir keluarga Belanda itu, Ahmad Yani kecil yang lahir 19 Juni 1922 serta adik-adiknya, Asmi dan Asinah, setidaknya bisa hidup lumayan berkecukupan dengan gaji saat itu sekira 7 ringgit.

Ayah Ahmad Yani pada 1927 kemudian mendapat rekomendasi dari majikannya untuk merantau ke Batavia (kini Jakarta), dan menjadi sopir seorang Jenderal Belanda bernama Halfstein, lalu ke Ciawi, Bogor, bekerja untuk kerabat Halfstein. Selama itu pula, Ahmad Yani kecil ikut merantau.

Selama di Batavia saat ayahnya masih dipekerjakan Halfstein, Ahmad Yani bahkan disekolahkan sang menir di sebuah froebel atau taman kanak-kanak (TK). Di Bogor, Ahmad Yani melanjutkan pendidikannya ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sampai Algemene Middelbare School (AMS).

Keluarga Ahmad Yani akhirnya harus kembali ke Rendeng pada 1942 karena orang-orang Belanda diinternir pasca-Jepang masuk Hindia Belanda. Sementara ayah Ahmad Yani kembali jadi sopir, tapi kali ini jadi sopir angkutan umum jurusan Purworejo-Magelang-Semarang, Ahmad Yani masuk pendidikan Pembela Tanah Air (PETA).

Untuk bisa masuk pendidikan perwira PETA di Bogor, Ahmad Yani harus punya kemampuan mengetik. Saat mengikuti kursus mengetik itulah, Ahmad Yani bersua Yayuk Ruliah Soetodiwirjo yang kelak menjadi istri dari delapan anak-anaknya.

Selesai pendidikan jadi Shodancho (Komandan Peleton), Ahmad Yani ditempatkan di Batalion II Kompi III Prembun, Purworejo. Kesatuan yang pasca-proklamasi 17 Agustus 1945, dipindah jadi Batalion III Badan Keamanan Rakyat (BKR) Magelang dan jadi bagian dari Resimen XIX pimpinan Letkol Sarbini.

Sejumlah pertempuran turut diikuti Ahmad Yani yang kemudian punya pangkat mayor dan memimpin Batalion III Ahmad Yani. Termasuk Pertempuran Ambarawa, hingga Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Ahmad Yani sendiri baru naik pangkat jadi opsir (perwira) Letnan Kolonel pada 1948 pasca-reorganisasi TNI. Kala itu, Letkol Ahmad Yani memimpin Brigade IX Kuda Putih yang daerah-daerah operasinya di Kedu Utara.

Saat dipindah ke Jakarta, Ahmad Yani baru mendapat kenaikan pangkat lagi jadi kolonel saat menjabat Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Bidang Operatif pada 1957. Tiga tahun berselang jadi brigjen dengan jabatan Deputi II KSAD dan kemudian jadi KSAD, lantas jadi Mayor Jenderal pada 1963.

Jabatan Menpangad pada Juni 1962 , sudah dipegang Ahmad Yani dengan pangkat letjen. Tapi meski sudah jadi jenderal yang terbilang sukses di Jakarta, Ahmad Yani masih sering mudik dan melepas kangen dengan orangtuanya, sekaligus mengajak liburan istri dan anak-anaknya.

“Kita-kita (anak-anak) kalau pulang kampung ke Rendeng, sering ikut Mbah nyopir angkutan. Para penumpang yang memang sudah kenal dekat dengan Mbah, pasti bakal tahu bahwa anaknya, Jenderal Yani, sedang pulang kampung kalau melihat kami di mobil Mbah,” sambung Amelia lagi.

“Kalau liburan ke Purworejo ke rumah Mbah, biasanya kami senang makan duren (durian) dan pasti disediakan Mbah. Kalau waktunya pulang ke Jakarta, mobil kami pasti penuh makanan yang dibawakan Mbah. Itu jadi saat-saat paling menyenangkan kala liburan sama Bapak,” pungkasnya.

source ; https://nasional.okezone.com

foto ; https://dipandjaitan.blogspot.com

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: