Langsung ke konten utama

Featured Post

Bapas Bogor Banding Kasus Habib Bahar, Ustadz Novel: Ambisi Untuk Kriminalisasi Ulama

Jum'at, 23 Oktober 2020Faktakini.net, Jakarta - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bogor telah resmi mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung yang memenangkan penceramah kondang, Habib Bahar Bin Smith soal surat keputusan pencabutan asimilasi.Upaya banding itu pun direspon oleh Wakil Sekjen (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Novel Bamukmin yang menilai bahwa Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), khususnya Bapas Bogor, masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama."Selaku Wasekjen PA 212 tentunya prihatin terhadap Kemenkumham khususnya Bapas Bogor masih berambisi untuk mengkriminalisasi ulama," ujar Ustadz Novel Bamukmin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (21/10).Ustad Novel mengaku tidak heran karena Kemenkumham, khususnya Bapas Bogor, merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin yang dianggapnya tidak bersahabat dengan ulama yang tegas dan istiqomah."Malah para pelaku kejahatan atau residivis juga para koruptor dan pe…

Jelang Pemberontakan 1948 PKI Kerap Gali Lubang-Lubang Besar Di Tanah, Ternyata Ini Tujuannya




Senin, 28 September 2020

Faktakini.net

Salah satu ciri khas komunis menjelang pemberontakannya adalah membuat banyak lubang di tanah. Lubang-lubang besar yang dipersiapkan sebagai kuburan massal bagi para musuhnya.

Menjelang tahun 1948, para aktifis PKI rajin sekali menggali lubang. Sudah terekam dalam otak mereka bahwa sebentar lagi akan ada pesta pembantaian massal. Mereka sadar bahwa sebentar lagi akan ada tetesan darah dari saudara sebangsanya sendiri.

Pola pembuatan lubang besar ini tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Uni Soviet dan Tiongkok, juga Kamboja.

Komunis memang haus darah. Ini dibuktikan oleh sejarah. Saat komunis baru saja memegang kekuasaan di Soviet pasca revolusi Bolshevik, Lenin langsung membunuh 28 uskup dan 1200 pendeta. Kemudian Nikita Kruschev membunuh 50.000 pendeta bangsanya sendiri. Membakar 10.000 gereja dan 30.000 masjid. Lenin dengan bangganya mengumumkan sudah berhasil melenyapkan kaum muslimin.

Kekejian Lenin dilanjutkan oleh Josef Stalin. Mereka berdua adalah pemimpin Soviet yang melaksanakan dengan patuh ajaran Karl Marx. Selalu menganggap agama itu candu. Dan para pemeluk agama adalah musuh utama.

Dan pada Stalin-lah Muso berguru secara langsung. Saat itu tahun 1927, Muso melarikan diri ke Soviet pasca kegagalan pemberontakan PKI di tahun 1926. Muso dididik langsung oleh Stalin untuk menjadikannya seorang kamerad sejati.

Padahal background keluarga Muso adalah santri. Tapi entah mengapa hatinya begitu dingin, begitu tega dan mengaminkan pembantaian darah yang dilakukan Stalin. Bahkan dengan senang hati mencontohnya untuk kemudian dipraktekkan di Indonesia.

Muso melihat langsung bagaimana Stalin memperlakukan musuh-musuhnya. Bagaimana Stalin membantai kaum agama ataupun rakyat tak berdosa lainnya, rakyatnya sendiri. Dan Muso menikmati itu semuanya.

Muso mengetahui bahwa Lenin telah membantai 500 ribu rakyat Rusia. Sedangkan Stalin membantai 6 juta rakyatnya sendiri. Muso melihat langsung pola kepemimpinan Stalin yang sangat diktator penuh aroma kematian. Darah manusia yang dibantai sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Dan pola kepemimpinan seperti itulah yang dibawa Muso ke Indonesia. Tak heran dia menumpahkan darah ribuan nyawa di masa pemberontakannya yang hanya berlangsung 13 hari. Monumen Kresek Madiun menyebutkan ada 1920 nyawa melayang dalam pemberontakan PKI tahun 1948.

PKI selalu haus darah. Tak pernah memiliki peri kemanusiaan. Lubang-lubang kuburan massal menjadi saksi abadi kekejaman mereka.

Foto: Muso

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Sikap FPI, GNPF, PA 212 Dan HRS Center Tentang Penolakan UU Ciptaker

Jum'at, 9 Oktober 2020
Faktakini.net
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA  FPI, GNPF ULAMA, PA 212 DAN HRS CENTER TENTANG PENOLAKAN TERHADAP UU CIPTA KERJA 
Mencermati perkembangan politik hukum yang semakin menjauh dari tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945. Kebijakan penyelenggaraan negara telah menegasikan prinsip kedaulatan  rakyat dan paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan mengutamakan kepentingan oligarki kapitalis.
Rezim lebih mengutamakan kepentingan geopolitik Republik Rakyat China (RRC), dengan tetap  mendatangkan TKA yang berpaham Komunis. Tetap menggelar Pilkada ditengah ancaman pandemi Covid-19 demi politik dinasti (feodalisme). Di sisi lain, tindakan penyalahgunaan  kekuasaan (abuse of power), persekusi, intimidasi dan kriminalisasi masih terus berlangsung.  Seiring dengan itu, rezim mengajukan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law)  yang kini telah disahkan menjadi undan…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video: