Langsung ke konten utama

Featured Post

13 Tahun (1949-1962) DI/TII Berjuang Pertahankan Kemerdekaan Indonesia, Bukanlah Pemberontakan

Selasa, 30 September 2020

Faktakini.net

*13 TAHUN (1949 - 1962) DI/TII BERJUANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN NEGARA ISLAM INDONESIA, BUKANLAH SEBUAH PEMBERONTAKAN*

Oleh Muzaki Ruthab

Banyak tuduhan terhadap Kartosuwiryo dan DI/TII berperilaku kejam dan jauh dari akhlaq Islami. DI/TII dituduh melakukan perampokan, pemerkosaan dan pembakaran kampung-kampung warga sipil yang notabene warga negaranya sendiri. Sebenarnya tuduhan ini mudah dibantah hanya dengan logika sederhana yang nanti akan dapat kita pahami ketika selesai membaca.

Memerlukan sedikit saja kecerdasan dan kejujuran dalam menganalisa sejarah terkait DI/TII atau NII maka akan menemukan titik terang adanya pemalsuan sejarah. Baiklah kita awali pembicaraan mulai dari perjanjian Linggar Jati (1946) dan Renvile (1948).

Sebagaimana fakta yang kita ketahui bahwa hasil perjanjian Linggarjati, membuat daerah Indonesia hanya tersisa Jawa, Madura dan Sumatera. Sedangkan Perjanjian Renville telah membuat teritorial Indonesia di pulau Ja…

Luruskan Toa Bukan untuk Banjir, Gubernur Anies Ingatkan Jajarannya Siapkan Sistem Peringatan Dini

Ahad, 9 Agustus 2020

Faktakini.net, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan masukan penting terkait sistem peringatan dini (early warning system/EWSterhadap) banjir di Jakarta. Menurutnya, yang dimaksud sistem adalah ketika tiap SKPD di Jakarta sudah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika ada peringatan banjir.

"Sistem itu kira-kira begini, kejadian di Katulampa (tinggi) air sekian, keluarlah operasionalnya. Dari Dishub, Dinas Kesehatan, MRT, Satpol, seluruhnya itu tahu wilayah mana yang punya risiko.

Jadi, sebelum kejadian kita sudah siap," kata Gubernur Anies saat rapat bersama para pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang membahas tentang pengendalian banjir yang diunggah di akun Youtube Pemprov DKI.

Dalam video tersebut dapat dilihat bahwa Gubernur Anies Baswedan menyinggung penggunaan toa sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap banjir di Jakarta.

Hal ini karena dalam salah satu slide presentasi mengenai disaster warning system terdapat gambar toa atau pengeras suara.

Gubernur pun menjelaskan bahwa toa bukan bagian dari DWS, melainkan sebuah alat saja, bukan sistem.

"Ini bukan early warning system, ini toa, ini toa. This is not a system," ucap Gubernur Anies dalam video yang diunggah Kamis (6/8/2020).

Lebih lanjut, Gubernur menyayangkan perangkat daerah justru sering kaget ketika Jakarta dilanda banjir. Padahal seharusnya sudah tahu dan punya cara apa yang harus dilakukan.

"Hari ini kalau kejadian kita kedandapan (kaget) terus, seakan-akan ini banjir pertama. Dan tanah ini sudah puluhan tahun kena banjir," kata dia.

Gubernur menyebutkan Jakarta harus benar-benar membuat sistem peringatan banjir. Ia mengatakan bahwa toa awalnya merupakan alat yang dihibahkan dari Jepang namun kemudian justru jumlahnya ditambahkan.

Menurutnya, alat toa digunakan Jepang sebagai peringatan dini tsunami karena harus berfungsi dengan cepat, bukan untuk banjir.

Gubernur menjelaskan, banjir di Jakarta biasanya memiliki rentang waktu yang cukup lama dari peringatan hingga kejadian. Oleh karena itu, menurut dia toa tidak terlalu dibutuhkan untuk peringatan dini.

"Kalau banjir kira-kira antara peringatan dan kejadian berapa menit? Lama. Lah kenapa pakai alat begini? Ini dipakai karena tsunami," lanjut Anies.

Gubernur juga menyebutkan bahwa sebelum ada sistem peringatan lainnya maka Pemprov DKI bisa manfaatkan toa masjid maupun WhatsApp. Karena jarak waktu datangnya banjir di Jakarta bisa diprediksi dari pintu air Katulampa Bogor.

"Kalau Katulampa sampai Jakarta berapa jam? Bisa diberi tahu pakai apa? Lah iya segala macam bisa. Perlu pengadaan? Enggak perlu. Semua masjid bisa dipakai, semua WhatsApp bisa," tutupnya.

Menurut dia, pemakaian toa akan efektif untuk kebutuhan peringatan dini yang cepat seperti tsunami, bukan banjir. Dia pun berpesan kepada jajarannya untuk tidak lagi membeli toa.

"Jangan diteruskan belanja ini," kata dia.

Gubernur Anies Baswedan memang pemimpin yang cermat. Setelah melakukan observasi, dan mengevaluasi kerja jajarannya maka ia akan menemukan sebuah solusi yang diharapkan lebih efektif dari segi penggunaan dan efisien dari sisi biaya.

Oleh karena itu Ia tidak ingin ada pemborosan dalam pengadaan sistem peringatan dini banjir berupa alat toa, karena alat tersebut lebih cocok untuk tsunami yang memerlukan jeda waktu lebih cepat, bukan untuk peringatan banjir yang memiliki jeda waktu lebih lama dari peringatan ke kejadian.

Salut! Gubernur Anies tidak sungkan menegur dan memberikan masukan agar jajarannya bekerja lebih baik lagi dalam melayani masyarakat.

Oleh Hendra Rusman, Netizen

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video:


Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …