Langsung ke konten utama

Featured Post

PUSHAMI Ajukan Permohonan Pinjam Pakai Barang Milik Tahanan Kasus Molotov Di Polres Bogor

Senin, 28 September 2020

Faktakini.net

_Pers Release!!_

_Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh_

Alhamdulillah hari ini, Senin 28/9/2020 telah disampaikan surat permohonan pinjam pakai barang bukti atas saudara2 kita yg ditahan di Polres Bogor dan jajaran d bawahnya terkait tuduhan dan/atau sangkaan dugaan keterlibatan dalam perkara tindak pidana pelemparan molotov ke kantor pdip di cileungsi bogor.

Tim dari PUSHAMI mengajukan ini karena banyak barang2 dari saudara2 kita tersebut dibutuhkan oleh keluarganya dan beberapa dirasa tidak ada hubungan dengan tuduhan perkara dimaksud.

Untuk kemaslahatan keluarga2 nya maka tim PUSHAMI melalui kuasa hukumnya Hujjatul Baihaqi,SH mengajukan permohonan dimaksud.

Demikian pers release ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami haturkan terimakasih.

_Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh_

*Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI)*
Kuasa Hukum Tersangka


Jejak Khilafah Di Nusantara: Turki Utsmani Kirim 17 Kapal Perang Ke Aceh Darussalam



Sabtu, 19 Agustus 2020

Faktakini.net

JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA

Turki Utsmani Kirim 17 Kapal Perang ke Aceh Darussalam

Turki Ustmani mengirimkan dua kapal perang kecil dan dua kapal perang besar ke Aceh.

Red: Muhammad Hafil

Sultan Alauddin Ri'ayat Syah pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam mengirim surat kepada Turki Utsmani yang dipimpin Sultan Sulaiman al-Qanuni. Dalam suratnya Sultan Alauddin Ri'ayat Syah meminta bantuan untuk menghadapi Portugis yang sedang merebut bandar-bandar atau kota pelabuhan dan akan menyerang Aceh Darussalam.

Beberapa tahun kemudian Turki Utsmani mengirim 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar beserta pasukan militer dan perlengkapannya ke Aceh Darussalam. Semua kapal perang dan pasukan tersebut dipersiapkan untuk membantu Aceh Darussalam melawan Portugis.

Surat dari Sultan Aceh Darussalam ke penguasa Turki Utsmani diabadikan dalam buku Turki Utsmani-Indonesia Relasi dan Korespondensi Berdasarkan Dokumen Turki Utsmani yang diterbitkan Hitay tahun 2017. Pada arsip I buku tersebut, dijelaskan isi surat Sultan Aceh Darussalam kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni.

Di dalam suratnya, Sultan Alauddin Ri'ayat Syah menyampaikan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam tidak memiliki perlindungan atau tempat mengadu selain kepada Kesultanan Turki Utsmani. Aceh Darussalam percaya seandainya Turki Utsmani mengetahui mereka sedang berperang atas nama Allah melawan penjajahan, mungkin saja Turki Utsmani akan membantu. Sebab menolong Islam adalah tanggungjawab sultan yang baik.

Sultan Alauddin Ri'ayat Syah dalam suratnya juga menyampaikan, mengharapkan bantuan tentara, senjata dan ahli-ahli yang memiliki pengalaman perang dari Turki Utsmani. Aceh Darussalam juga meminta bantuan agar Turki Utsmani mengirim kuda-kuda terlatih dan para ahli untuk membangun benteng, membuat meriam dan kapal perang.

Untuk itu, Aceh Darussalam meminta bantuan atas nama Allah dan Nabi agar Turki Utsmani mengirim bantuan itu untuk berjihad bersama mengalahkan kaum kafir. Apabila Turki Utsmani tidak mengirim bantuan, kaum kafir akan tetap mengancam dan mengganggu di rute pelayaran jamaah haji dari Asia Tenggara. Selain itu, kaum kafir juga telah merebut wilayah-wilayah Muslim di sekitar Aceh dan Selat Malaka. Mereka akan segera menyerang Aceh Darussalam.

Namun, bantuan untuk Aceh Darussalam baru bisa dikirim oleh Sultan Selim II anak dari Sultan Sulaiman al-Qanuni. Karena saat surat permohonan bantuan dari Sultan Aceh Darussalam tiba di Turki Utsmani, Sultan Sulaiman al-Qanuni sedang berperang bersama pasukannya di Hongaria.

Saat di Hongaria, Sultan Sulaiman al-Qanuni meninggal dunia karena sakit. Pada tahun 1566 M, Sultan Selim II menggantikan kedudukannya. Selanjutnya Sultan Selim II membalas surat Sultan Alauddin Ri'ayat Syah. Di dalam suratnya, dia menyampaikan Turki Ustmani menyiapkan 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar.

Selain itu, Turki Utsmani juga menyiapkan peluru meriam, peluru meriam kecil, bubuk mesiu, 300 kapak dan 300 sekop. Di dalam kapal ada kapten kapal, ahli senjata, prajurit, awak kapal, peralatan perang, senjata dan amunisi yang lengkap.

Gaji setahun untuk tentara sudah dibayar dan perbekalan gandum untuk setahun diangkut ke atas kapal agar tidak kekurangan makanan selama perjalanan. Pimpinan utusan dari Turki Utsmani ini diserahkan ke Kurdoglu Hizir yang telah ditunjuk sebagai kapten dan Seraskier panglima perang pasukan militer yang dikirim ke Aceh Darussalam pada tahun 1568-1569 M.

Ketua Umum Lembaga Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, Mizuar Mahdi menerangkan, Sultan Aceh Darussalam menyampaikan kepada Sultan Turki Utsmani bahwa Portugis merebut bandar-bandar dengan membawa misi-misi lain. Sebagai buktinya, masyarakat Muslim di Manila bagian utara Filipina sebagian besar murtad oleh Spanyol.

Mizuar juga menceritakan, di masa lalu Selat Malaka adalah wilayah paling strategis yang dulunya dikawal dan dikontrol oleh Muslim. Ketika Selat Malaka diganggu atau direbut oleh Portugis, proses pengiriman calon jamaah haji dari berbagai daerah melalui jalur ini terganggu.

"Jadi perjuangan Aceh Darussalam melawan Portugis juga demi umat Islam dari berbagai wilayah agar bisa menunaikan ibadah haji dengan aman melalui Selat Malaka," kata Mizuar kepada Republika belum lama ini.

Menurutnya, bila Selat Malaka dikuasai Portugis maka urusan kesultanan dengan dunia Islam di berbagai penjuru dunia juga ikut terganggu. Inilah sebabnya menyerang Portugis menjadi agenda utama Kesultanan Aceh Darussalam untuk kepentingan umat Islam.

"Jadi menyerang Portugis adalah agenda paling utama Kesultanan Aceh Darussalam selama seratus tahun lebih, karena memang Portugis sebelumnya merebut bandar-bandar yang dulunya dikelola masyarakat Muslim," jelasnya.

Mizuar menerangkan, ketika utusan dari Turki Utsmani tiba di Aceh Darussalam untuk membantu perjuangan melawan penjajah. Pada saat itu mulai ditempah meriam besar buatan Turki Utsmani yang diajarkan ke orang-orang Aceh. Sehingga Aceh bisa menciptakan meriam-meriam bercorak Turki.

Sebagian dari utusan Turki Utsmani menetap di wilayah Aceh Darussalam. Sementara, sebagian lagi kembali ke Turki Utsmani setelah selesai melaksanakan tugas dan kewajibannya. "Sejak saat itu hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani terus berlanjut," jelasnya.

Sumber: republika.co.id





Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video:


Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …