Langsung ke konten utama

Featured Post

FPI Kawal Ketat Pengajian PP Mahir Ar Riyadl Purworejo Dan Alumni Ringinagung Sekaresidenan Kedu

Ahad, 27 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Pada pagi hari Ahad ini, 27 September 2020 Alumni Pondok Pesantren Mahir Riyadl Kediri Jawa Timur se karesidenan Kedu (Purworejo, Magelang, Wonosobo Dan Temanggung) serta berbagai penjuru daerah lainnya melaksanakan acara pengajian dan Haul yang bertempat di Pondok Pesantren Mahir Ar Riyadl Desa Tersidi Lor Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

Atas permintaan tuan rumah yaitu Pengasuh Pesantren KH. Agus Munif Maisur, Para anggota FPI ikut menghadiri acara dan menjaga selama jalannya pengajian.

Selain dalam rangka Haul KH. Nawawi dan KH. Maisur yang merupakan para Masyayekh Pondok Mahir Ar Riyadl Kabupaten Kediri Jawa Timur, acara ini juga rencananya menghadirkan pembicara dari Kabupaten Banyumas yaitu KH. Zuhrul Anam Hisyam.

Namun, karena masih dalam masa pandemik, Gus Anam tidak bisa hadir dan digantikan pembicara KH. R. Abdul Hakim Hamid atau Gus Hakim yang merupakan Rais Syuriah NU Purworejo dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul An…

Ahmad Khozinudin: Khilafah Dibendung Malah Meluber, Siapa Salah Siapa Dapat Berkah?



Sabtu, 29 Agustus 2020

Faktakini.net

KHILAFAH : DIBENDUNG MALAH MELUBER. SIAPA SALAH SIAPA DAPAT BERKAH ?

Oleh: Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) emang keren. Setelah terjadi upaya sistematis untuk menggagalkan penayangannya, diskursus Khilafah yang menjadi objek utama narasi film justru banyak diperbincangkan publik.

Upaya untuk membendung opini Khilafah, tak berdaya karena karakteristik sosmed itu MIMO (More In More Out). Ini bukan konsep 5G yang sedang booming, tapi ini terkait kanal sosmed yang bejibun, sehingga menutup satu kanal tidak menjamin konten tidak akan keluar (bocor) dari kanal lainnya.

Film JKDN secara substansi ingin menampakkan jejak Khilafah dan Nusantara. Dengan jejak ini, Umat Islam di Nusantara akan menyadari, bahwa perjuangan penegakan syariah Islam dalam bingkai Daulah Khilafah bukanlah perjuangan a historis.

Bahkan, ia adalah kelanjutan perjuangan dari para ulama dan mujahid Islam, para pahlawan Islam pendahulu. JKDN, makin mengokohkan basis argumentasi perjuangan Khilafah khususnya di Nusantara.

Khilafah bukan saja kewajiban Syar'i, tetapi juga sebuah fakta sejarah yang mustahil di ingkari. Khilafah bukanlah utopia, melainkan pernah eksis di pentas sejarah peradaban manusia selama 13 Abad lamanya.

Rupanya, bendungan itu setelah tak mampu menutup kebocoran narasi JKDN melalui berbagai platform sosial media, kini arus besar opini Khilafah makin MELUBER tak terbendung lagi. Aksi 'sabotese' Film JKDN, hanyalah menunda hempasan gelombang, mengumpulkan seluruh riak dan akhirnya bendungan itu jebol. Gelombang Khilafah, meluber menyapu seluruh daratan yang dilaluinya.

Setidaknya, itulah ilustrasi sederhana yang dapat menggambarkan tayangan TV One pada Kamis malam (27/8). TV One mengadakan wawancara eksklusif dengan Jubir HTI dan Sutradara film JKDN Nico Pandawa, termasuk menghadirkan Azyumardi Azra dan Marsudi Syuhud sebagai pembanding.

Namun, pemaparan Azyumardi Azra terkait Khilafah selain Abu Bakar RA dan Umar RA bukan Khilafah, justru mendeligitimasi posisinya sebagai tokoh dan intelektual Islam. Sebab, pernyataan ini bertentangan dengan pandangan Ulama yang lebih kredibel seperti Imam Suyuti yang menyebut periode pasca Kulafaur Rasyidin adalah Kekhilafahan Islam.

Lebih jauh, Azyumardi Azra juga mengingkari apa yang pernah ditulisnya dalam bukunya. Yang menyatakan Turki Utsmani adalah kekhilafan Islam yang terbentuk pasca futuhat konstantinopel.

Orang seperti Azyumardi Azra ini jika meriwayatkan hadits pastilah haditsnya mungkar. Bukan saja bertentangan dengan pendapat ulama lain yang lebih kredibel, bahkan penuturannya justru bertentangan dengan apa yang ditulisnya.

Hal ini wajib menjadi perhatian bagi siapapun yang membaca dan mengutip substansi bukunya. Khawatir, suatu saat apa yang ditulisnya akan diingkari lagi sebagaimana dalam kasus terminologi Khilafah ini.

Adapun Marsudi Syuhud, pendapatnya lebih tak layak lagi dibahas. Sebab, bagaimana mungkin bicara berbusa tentang film JKDN tetapi belum pernah menontonnya ? Pandangan yang sifatnya testimoni de auditu, Qola Wa Qila, tidak layak untuk menjadi sandaran kebenaran.

Meskipun tema yang diambil TV One tendensius "HTI Menyelinap Di Film Jejak Khilafah ?", Namun secara opini tayangan TV One semakin melambungkan Opini Khilafah termasuk HTI. Melalui tayangan TV One ini, dakwah justru bisa "ngalap berkah" dengan menjelaskan kepada publik tentang Khilafah apa adanya, sekaligus mengklarifikasi berbagai kekeliruan.

Semua orang yang selama ini dipasung oleh terminologi Khilafah ala rezim yang dibuat menakutkan, horor, dituturkan layaknya ISIS, akan mencari tahu kebenaran Khilafah yang sesungguhnya. Ini menjadi "pasar baru" bagi pengemban dakwah untuk semakin memasifkan dakwah Khilafah ditengah Umat.

Adapun mereka yang selalu menghalangi umat dari Khilafah, membuat opini dan propaganda busuk terhadap Khilafah dan para pengembannya, mereka akan menemui kegagalan sebagaimana para pendahulunya.

Saat Rasulullah SAW membawa misi Islam, seluruh kabilah Arab dan pendatang dari luar Mekah, didatangi kafir Quraisy agar menjauh dari Muhammad SAW, karena Muhammad membawa sesuatu yang menyesatkan. Namun, propaganda busuk ini justru membuat banyak kalangan yang semakin penasaran dan mencari sumber sahih untuk mengenali kebenaran risalah Islam yang dibawa Muhammad SAW.

Jadi Khilafah makin meriah, dakwah makin berkah, siapa yang salah ? Otoritas yang MEMBREIDEL film JKDN ? TV One yang menayangkan dialog dengan Jubir HTI dan  Sutradara film JKDN ? Sosmed yang tak terkendali ?

Sudahlah, tak usah menyalahkan siapapun. Ini semua adalah skenario Allah SWT. Khilafah akan tegak sebentar lagi, semua rencana telah Allah SWT persiapkan. Sementara kita, hanya tinggal melakoni. [].

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …

(Video) Sambil Cium Tangan Habib Umar Assegaf, Asmadi Ketua Satpol PP Minta Maaf

Jum'at, 22 Mei 2020

Faktakini.net, Jakarta - Asmadi, Ketua Satpol PP Kecamatan Dukuh Pakis yang sempat mengkasari Habib Umar bin Abdullah Assegaf, pada malam ini Jum'at (22/5/2020) akhirnya mendatangi kediaman Habib Umar di Bangil, Pasuruan. Kemudian ia mencium tangan sang dzurriyah Rasulullah SAW, lalu memohon maaf.

Begitu lama Asmadi yang merupakan Kepala Satpol PP Kecamatan Dukuh Pakis itu mencium tangan Habib Umar, ia ingin kekhilafan nya dimaafkan, dan alhamdulillah dengan keikhlasan hati yang seluas samudera, Habib Umar pun memaafkan Asmadi.

Asmadi mengaku saat itu ia sedang sangat kecapekan sehingga ia khilaf. Habib Umar kemudian memeluk Asmadi, dan peristiwa ini disambut hangat oleh para jamaah dan tamu yang hadir, yang langsung melantunkan sholawat.

Sebagaimana diketahui Asmadi yang sempat  mendorong dan mengkasari Habib Umar di pos check point Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Exit Tol Satelit pada Rabu (20/5/2020) sore, dikecam luas oleh umat Islam se-Indo…