Langsung ke konten utama

Featured Post

Wahai Dunia, Oleh: Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa

Selasa, 11 Agustus 2020

Faktakini.net

WAHAI DUNIA

oleh : Alhabib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa
-
Wahai Dunia, Wahai dambaan di setiap zaman, telah berjuang memperebutkanmu sedemikian banyak pembesar dan Raja Raja. Mereka menikmati keberhasilan dengan kegembiraan. Dan telah berjatuhan sedemikian banyak para fakir miskin yang menetes air liurnya melihat kenikmatan para Raja dunia. Telah datang pula golongan hamba yang shalih yang tak mau memperebutkanmu, mereka melupakanmu dan mencari ridho Allah.

Wahai Dunia, tidaklah para raja, atau fakir miskin, atau bahkan orang-orang shalih itu meninggalkanmu kecuali kau bekali 1 X 2 meter saja dari milikmu untuk lubang kuburnya, hanya itulah yang kau berikan pada mereka, itulah kebaikanmu pada para pecintamu atau mereka yang meninggalkanmu, sama saja, padahal para pecintamu melupakan segala-galanya hanya untuk mendapatkanmu, namun tak satu pun dari mereka meninggalkanmu, selain hanya mendapatkan kuburnya saja. Maka para pecintamu menin…

Massa PKI Bakar Foto Habib Rizieq, Ini Tanggapan Damai Hari Lubis



Selasa, 28 Juli 2020

Faktakini.net

*Bogor, 28 Juli 2020*
                             
*Eigenrichting / Street Of Justice / Persekusi Terhadap Para Pelaku Penghina Tokoh Ulama Besar Sebagai Shock Therapy Kepada Lembaga Polri Boleh Dilakukan*     

*Studi Kasus: Persekusi Budi Djarot Adalah Keniscayaan Menurut Tinjauan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan*

*( Peristiwa Street Of Justice atau Persekusi Oleh Sekelompok Orang atau Ummat Muslim, dan Akan Terus Mencari, Mendapatkan dan Mempersekusi Diri Budi Djarot Pimpinan Ormas Pembakar dan Penginjak-Injak serta Penista Poto Wajah Imam Besar Negeri Republik Indonesia, Habieb Rizieq Shihab)*

*Oleh : Damai Hari Lubis/ Sekjen TPUA/ Tim Pembela Ulama dan Aktivis*         

*Mengingat secara Sosiologi dan Pemahaman Etimologi tentang Gelar Ketokohan, dan Sebagai Asas didalam Teori Hukum Pidana. Tokoh Ulama atau Ulama Besar merupakan suatu predikat yang melekat pada jatidiri seorang pemimpin agama dan biasanya memiliki massa atau pengikut serta simpatisan yang signifikan besar dilingkungannya, ucapannya kadang bak fatwa, banyak digugu serta ditiru oleh mayoritas masyarakat dimana negeri Sang Ulama Tinggal.

Gelar atau strata tsb berkategori derajat tinggi. Walau pemberian gelar tsb. Merupakan pemberian oleh masyarakat atau bahkan pimpinan pejabat sebuah negeri, atau sebuah negara dimana Sang Ulama itu tinggal, bahkan gelar ulama besar itu bisa jadi sebagai semacam 'Honoris of Causa ' dari Pimpinan Negara diluar Ulama Tsb berdomisili, atau oleh masyarakat dunia sekalipun.

Oleh karena sifat dari gelar tsb. Sangat diistimewakan, maka seorang dengan gelar Tokoh Ulama Besar oleh sebab peraturan dan perundang-undangan merupakan sebuah gelar istimewa sehingga Perilaku ( Tingkah Laku/ lahiriah dan lisannya ) Sang Tokoh Ulama dijadikan salah satu bagian ( referensi ) pertimbangan oleh Majelis Hakim pada vonisnya, Majelis Hakim akan spesifik menyebutkan terkait gelar atau derajat seseorang sebagai bahan pertimbangan putusannya tentang layak dan tak layak sebuah perbuatan yang dilakukan oleh Sang Tokoh baik sebagai korban maupun sebagai seorang pelaku tersangka, maupun sebagai saksi atau Ahli*

*Maka apabila ada bentuk akumulasi kekesalan dari kelompok pengikut seorang Tokoh Ulama terhadap Pihak yang Berwajib dalam penanganan hukum atas adanya dugaan peristiwa delik/ atau kejahatan terhadap seorang Ulama Besar atau Tokoh Agama yang riil banyak pengikutnya, selanjutnya oleh sebab fakta hukum, bahwa terdapat puluhan pelaporan yang disampaikan publik baik secara individu atau atas nama kelompok atas adanya peristiwa persekusi, pencemaran, penghinaan dan atau Penistaan Terhadap Seorang atau beberapa Ulama, akan tetapi hasilnya obscuur atau tidak jelas, bahkan gelap, oleh karena tidak mendapat kejelasan hukum ( no process ). Maka bisa jadi Tindakan street Of Justice atau Persekusi oleh pengikut atau jamaah dan atau simpatisan Tokoh Ulama akhirnya akan dibutuhkan dalam rangka menegakan salah satu fungsi hukum yakni efek jera, disebabkan karena rendahnya kesadaran hukum yang ada pada Para Penegak Hukum pada bidangnya ( Penyelidik/ Penyidik Polri )*

*Karena yang nampak oleh masyarakat dan framing, justru kesadaran hukum yang ada pada diri individu - individu dan juga kelompok atau masyarakat lebih tinggi dari pada penegak hukum yang justru sebagai petugas pelaksana pemiliki tanggung jawab hukum, sehingga hal ini membentuk framing rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap Kemandirian Polri.

Lembaga kepolisian berkesan tidak proporsional ( tebang pilih ), tidak profesional serta tentu dapat dipastikan tidak akuntabilitif ( tidak dapat dipertanggung jawabkan ) secara hukum dan moral, terhadap buah atau hasil pelaksanaan pembebanan tupoksi mereka sesuai dan merujuk pada sistem regulasi ( Kuhap, UU. Polri dan Perkap ). Sehingga terbukti kelemahan pada pelaksanaan tupoksi berakibat hukum terjadi pengulangan delik dolus ( Pelanggaran / Kejahatan yang disengaja dilakukan ) terjadi dari diri Si Pelaku yang telah pernah dilaporkan*   

*Bentuk kesadaran hukum masyarakat yang lebih tinggi dibanding Polri selaku Pemilik Kewenangan Penindakan Hukum tsb. Nampak banyak terdapat fakta - faktanya dan dapat dibuktikan, yaitu dengan bentuk serah terima pelimpahan perkara dari masyarakat dalam bentuk pelaporan, dalam artian menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum, atau logika hukumnya sebagai " masyarakat telah melakukan due proces of law sesuai rule of law atau ketentuan hukum yang berlaku ". Namun sebaliknya Petugas yang mendapat pembebanan selaku pemilik kekuasaan atau kewenangan pelaksanan fungsi hukum oleh negara melalui UU, tidak melaksanakan kewajiban sesuai tupoksinya*

*Maka karena fakta dan data emperis, masyarakat cenderung menggunakan hukum jalanan, atau yang biasa disebut street justice didalam penyelesaikan permasalahan hukum di lingkungannya. Dan saat ini sepertinya cara - cara eigenrichting atau persekusi atau street of justice tsb. sangat perlu atau dibutuhkan sebagai alat Sosial Kontrol kepada Para Penyelenggara Tertinggi dan Tinggi Negara RI.

Dan solusinya agar persekusi tidak terus berlangsung adalah segera Jokowi selaku Presiden memerintahkan pencegahan persekusi dengan cara memerintahkan kepada Pimpinan Polri untuk segera melaksanakan proses - proses hukum semestinya ( due process atas dasar rule of law ) terhadap seluruh laporan masyarakat yang ada, tanpa tebang pilih. Perintah serta pelaksanaan ini sangat perlu dilakukan agar tidak menimbulkan stigma- stigma atau asumsi buruk terhadap Diri Jokowi selaku Presiden dan Penyelenggara Pemerintahan Tertinggi Negara, bila hal ini terus berkelanjutan maka muncul stigma atau citra butuk , hal persekusi ini memang disengaja agar terus berlangsung, atau 'masa bodoh ? Dengan cara melakukan pendiaman adanya proses hukum tebang pilih atau suka - suka dari pihak Polri*                                         

*Asumsi atau pendapat yang menjadi sebuah pengetahuan atau ilmu kemasyarakatan ( difahami oleh masyarakat ) tentang kebolehan Hukum Ala Persekusi ini bukan lahir melalui proses ujug - ujug atau tanpa adanya Fakta Gejala Gejala Sosial beikut data emperis. Akan tetapi dimulai dengan stigma - stigma atau kesan citra buruk, bahwa aparatur penegak hukum menjastifikasi terhadap pelaku peristiwa delik dengan cara pendiaman terhadap laporan masyarakat terhadap pelaku persekusi yang transparan, dalam hal ini memang sudah banyak terjadi dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat terhadap beberapa orang ustad dan atau ulama yang menjadi korban, bahkan peristiwa delik disaksikan oleh petugas hukum dari Kepolisian, namun tidak ada tindak lanjut hukum terhadap pelaporannya*

*Sehingga pendapat penulis sesuai pandangan ilmu kemasyarkatan dengan tetap tidak meninggalkan unsur - unsur daripada asas hukum yang berlaku, bahwa persekusi itu memang dapat atau boleh dilakukan secara hukum jalanan terhadap Para Pelaku yang jelas - jelas terbukti melanggar hukum, dengan syarat telah memenuhi unsur- unsur alat bukti yang cukup serta lokus dan delikti merupakan peristiwa- peristiwa yang dengan sepengetahuan umum*

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Bukan Level Indonesia Lagi, Anies Resmi Masuk 20 Besar Tokoh Dunia!

Rabu, 24 Juli 2019

Faktakini.net, Jakarta - Sudah sejak lama masyarakat internasional mengagumi Gubernur DKI Anies Baswedan. Ketokohan dan kemimpinan Anies itu skalanya sudah bukan nasional atau Indonesia lagi, tapi sudah termasuk tokoh dunia.

Sejak tahun 2010, Anies telah terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April 2010.

Dalam edisi khusus yang berjudul '20 Orang 20 Tahun', itu Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies yang saat itu masih menjadi Rektor Universitas Paramadina itu dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House o…

Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …