Ikrar Anti RUU HIP Di Cirebon, Sikap Pengecut Ditunjukkan Para Pembenci Islam (Anti Khilafah)



Sabtu, 11 Juli 2020

Faktakini.net

SIKAP PENGECUT
KEMBALI DIPERTONTONKAN
OLEH PARA PEMBENCI KHILAFAH

Insiden Ikrar DPRD dan Forum Cirebon Bersatu menyisakan pertanyaan dan dugaan.

Seperti dalam video yang beredar luas, Ibu Ketua DPRD Kota Cirebon, Affiati, A. Ma membacakan ikrar yang di bagian akhirnya berbunyi

"Demi ALLAH, kami bersumpah akan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengaruh paham Komunisme dan Khilafah"

Nampak umat Islam yang ikut hadir protes dan menyatakan batal ikrar tersebut. Dan Ibu Ketua DPRD Kota Cirebon juga kelihatannya kaget melihat redaksi ikrar tersebut.

Akhirnya ikrar diulang dengan mencoret kata Khilafah dan redaksinya berubah menjadi

"Demi ALLAH, kami bersumpah akan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengaruh paham komunisme, liberalisme, leninisme dan sekularisme"

Berdasarkan info yang masuk ke saya, bahwa Forum Umat Islam Cirebon awalnya disampaikan draft ikrar yang bunyinya seperti yang terakhir (tanpa kata Khilafah) dan hal itulah yang membuat Forum Umat Islam Cirebon siap ikut berikrar. Dan memang inilah yang berada pada hati umat Islam, tak ingin negeri ini diarahkan pada paham Komunisme, Leninisme, Liberalisme dan Sekularisme.

Dan wajar bila umat Islam protes saat Khilafah dianggap berbahaya selayaknya Komunisme. Umat Islam sangat sadar bahwa Khilafah adalah ajaran Islam.

Sikap Ibu Ketua DPRD Kota Cirebon juga patut diapresiasi karena berani dengan tegas tidak memasukkan Khilafah sebagai paham yang berbahaya buat Indonesia.

Insiden ini menyisakan pertanyaan penting:
- Mengapa redaksi yang dibacakan berbeda dengan bunyi redaksi awal yang sampai kepada umat Islam Cirebon?
- Siapa yang kemudian merubah redaksi ikrar menjelang pembacaan?
- Apakah ada partai atau oknum yang ingin bermain api dengan umat Islam?

Forum Umat Islam Cirebon sepertinya tahu siapa mereka. Tetapi saya buat sederhana saja, mereka pastinya para pembenci Khilafah.

Dan kembali lagi para pembenci Khilafah mempertontonkan sikap pengecutnya. Saat mereka tak mampu bertarung ide dengan umat Islam, akhirnya berusaha menelikung dengan harapan umat Islam tak menyadarinya. Inilah sikap pengecut, tak memiliki jiwa ksatria. Sepertinya ini nyambung dengan sikap pengecut sebelumnya yang berusaha lempar batu sembunyi tangan.

Sungguh aneh para pengecut tersebut, demi kepentingan siapa mereka siap dibayar untuk membenci Khilafah.

Khilafah memang menakutkan bagi para penjajah. Bila khilafah tegak maka para penjajah tak akan leluasa lagi mengeruk kekayaan Indonesia melalui para kaki tangannya.

Beberapa kalangan merasa aneh mengapa di tengah pandemi Covid - 19 mereka malah bersikeras agar RUU HIP digulirkan.

Kalo saya tidak aneh, semua ini hanyalah pengkondisian agar ajaran Islam yaitu Khilafah dianggap berbahaya buat Indoneaia selayaknya komunisme. Dan mereka ingin mentarget agar mendakwahkan Khilafah dilarang di Indonesia selayaknya komunisme.

Dan saat ini, faktual yang menguasai dan menjajah Indonesia adalah kapitalisme-sekuler lewat berbagai undang-undang yang ditetapkan legal. Kapitalisme-sekuler tak ingin Khilafah tegak karena membahayakan eksistensi penjajahan mereka. Karena Khilafah pasti akan membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Para pemuja komunisme dan penjaga kapitalisme sekuler sedang bersatu untuk melawan kebangkitan Islam, salah satunya berusaha mentarget agar Khilafah dilarang di Indonesia. Dan maknanya adalah melanggenggkan penjajahan tetap bercokol di negeri ini secara legal.

Disinilah umat Islam haru terus waspada dan bersatu padu merapatkan barisan.

Khilafah adalah ajaran Islam, tak perlu ragu dan harus dibela. Empat madzhab besar juga menegaskan bahwa menegakkan Khilafah adalah kewajiban yang agung. Penjelasan detail terkait Khilafah, dalil-dalil dan syarat-syaratnya juga tergambar jelas di berbagai kitab ulama. 

Khilafah aebagai ajaran Islam hadir untuk rahmat bagi semua, baik muslim maupun non muslim.

Wallahu a'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel