Foto-Foto Dokumentasi Ibadah Haji Pada Zaman Kekuasaan Turki Utsmaniyyah (Ottoman) di Hijaz Arabiya


Jum'at, 31 Juli 2020

Faktakini.net

Spesial Idul Adha

Foto-Foto Dokumentasi Ibadah Haji Pada Zaman Kekuasaan Turki Utsmaniyyah (Ottoman) di Hijaz Arabiya.

Mirip dengan kondisi sekarang jutaan Ummat Islam berkumpul di Makkah, di Madinah,di Mina dan di padang serta Jabbal Arafah untuk menunaikan Ibadah Haji setiap tahunnya. sejak masa Rasulullah Perjalanan Haji merupakan perjalanan ibadah yang berat karena dapat menempuh perjalanan yang jauh bahkan bisa bertahun-tahun lamanya.

Pada abad 19 masehi Perjalanan dari Laut Tengah menjadi sedikit mudah dengan dibukanya terusan Suez pada tahun 1869. Dan pada awal abad 20 atas prakarsa Sultan Abdul Hamid 2 dibuat jalur kereta api dari Suriah Damaskus menyusuri Palestina-Jordania menuju ke Jazirah Arabia (Ottoman Hijaz Railway) berhenti di stasiun Madinah demi kelancaran Ibadah Haji. sayangnya jalur kereta api menuju Mekkah yang direncanakan Sultan Abdul Hamid 2 tidak dapat tercapai karena Sultan Abdul Hamid 2 keburu digulingkan (dikudeta) oleh para perwira Turki Muda diantaranya Mustafa Kemal. Dan tahun-tahun berikutnya terjadi perang Dunia 1 yang makin memutus jalur kereta menuju Jazirah Arab Madinah karena aksi gerilyawan pemberontak kabilah Arab pimpinan Agen Inggris Lawrence of Arabia. Saat ini meskipun terbengkalai anda masih bisa melihat sisa-sisa jalur kereta HIjaz Raiway di Jordania dan Stasiun Turki Ottoman di Madinah yang menjadi Museum.

Di dalam Historiografi Haji Indonesia, Dr M Shaleh Putuhena menyatakan sejak abad ke-16 sudah ada umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadah haji. Pada masa ini perjalanan menuju tanah suci harus melalui perjuangan yang sangat berat dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Ada di antara mereka yang menempuh perjalanan hingga bertahun-tahun. Kafilah haji pada masa ini juga harus waspada dari bahaya bajak laut di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci karena kehabisan bekal atau terkena sakit..

Pada abad ke-18, tujuan utama mayoritas masyarakat Indonesia datang ke Makkah bukan untuk beribadah haji, tetapi untuk berdagang dan belajar ilmu agama. Jemaah haji Indonesia umumnya dari kalangan petani, nelayan, dan peternak. Mereka memperoleh biaya perjalanan haji dari penjualan hasil pertanian dan perkebunan. Di Jawa, hasil pertanian andalannya adalah padi, lada dan kopi. Di Sumatera, selain padi, ada juga tembakau dan karet. Sedangkan di Kalimantan ada banyak perkebunan karet.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya orang Indonesia yang ke Makkah untuk belajar ilmu agama di sana, maka informasi tentang haji di Tanah Air juga semakin luas. Masyarakat mulai memahami haji sebagai salah satu kewajiban bagi umat islam yang mampu menunaikannya.

Haji Pada Masa Kolonial

Campur tangan pihak kolonial dalam hal urusan ibadah haji bermula dari alasan ketakutan dan kecurigaan terhadap para haji yang baru pulang dari tanah suci. Pihak kolonial curiga bahwa masyarakat Indonesia yang menunaikan ibadah haji akan membawa pemikiran baru untuk menentang kolonialisme. Itulah sebabnya pemerintah kolonial berusaha untuk memonopoli ibadah haji dan mengeluarkan Resolusi(putusan) 1825. Peraturan ini tidak hanya memberatkan jamaah dalam hal biaya tetapi sekaligus dapat memonitor aktivitas masyarakat Indonesia dalam melaksanakan ritual ibadah haji.

Meskipun begitu, umat islam Indonesia yang pergi haji tidak pernah surut jumlahnya. Dari catatan Historiografi Haji Indonesia, sesudah pertengahan abad 19 jumlah haji dari Indonesia berkembang pesat. Bila tahun 1852 tercatat 413 orang yang pergi haji maka pada enam tahun kemudian yakni tahun 1858 ada 3.862 orang yang pergi haji. Jumlah jamaah haji terbanyak pada masa itu tercatat pada tahun 1896 yaitu 11.909 orang dan terkecil pada tahun 1865 sejumlah 1.901 orang.

Pada tahun 1927-1928 jamaah yang berangkat menunaikan ibadah haji ke Makah berjumlah 33.965 orang. Sebanyak 10.970 orang berangkat dengan perusahaan Rotterdamsche Lloyd, 9.467 orang menggunakan perusahaan Nederlandsche Lloyd, dan 10.634 orang menggunakan perusahaan Ocean. Perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di Indonesia saat itu membutuhkan waktu 2 hingga 6 bulan. Hal itu dikarenakan perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kapal layar atau kapal uap.

Diantara orang Indonesia yang pergi Haji pada zaman Turki Utsmaniyyah diantaranya Haji Oemar Said Cokroaminoto, Haji Agus Salim, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Ashari .- Dari Berbagai sumber.

Selengkapnya klik:

https://www.facebook.com/838853686152368/posts/3146888248682222/

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel