Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) Jutaan Umat Hadiri Apel Siaga Anti RUU HIP Dan PKI Di Berbagai Daerah, Juli 2020

Kamis, 9 Juli 2020

Faktakini.net, Jakarta - Jutaan Umat Hadiri Apel Siaga Anti PKI Di Berbagai Daerah, Juli 2020


Terkait Aksi Tolak RUU HIP, Dr Syahganda: The Revolutionary Movement



Ahad, 28 Juni 2020

Faktakini.net

*The Revolutionary Movement*

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Eddy Mulyadi, kordinator aksi anti RUU HIP, dalam video penjelasan tentang aksi  di depan DPR-RI beberapa hari lalu, setelah aksi Rabu, 24 Juni 2020, mengatakan 1)  aksi pembakaran bendera merupakan "accident" bukan "incident". 2) aksi penolakan RUU HIP merupakan aksi bertanggung jawab dan bersifat fundamental karena menolak bangkitnya faham komunisme di Indonesia. 3) mengingatkan seruan siaga satu bagi seluruh ummat Islam di Indonesia untuk mengantisipasi bentrok massal dan menyeluruh di Indonesia sebagai bagian aksi reaksi dari kelompok2 yang kontra aksi anti RUU HIP.

Sebuah aksi massa dan bertanggung jawab serta mempunyai leadership berskala nasional adalah fenomenal dalam masa covid-19 ini. Sebab, selain memperlihatkan perlawanan atas kehendak penguasa yang ingin meloloskan UU "pengkerdilan" Pancasila, aksi ini juga sebagai bentuk ketidak takutan massa rakyat atas beban resiko pandemi coronavirus.

Tercatat sejauh ini aksi penolakan RUU HIP dan bangkitnya Komunisme terjadi di berbagai daerah. Sedangkan sebelumnya, aksi aksi pernyataan sikap para ulama atas hal yang sama menyebar hampir di seluruh Indonesia.

*Aksi Revolusioner*

Menghilangkan rasa takut dengan aksi ke publik di masa pandemik di dunia di mulai di Hongkong dan Amerika. Di Hongkong karena mereka tidak ingin "dijajah" RRC Komunis. Sedangkan di Amerika, kasus Goerge Flyod, yang meninggal akibat disiksa polisi di Miannapolis, membakar semangat kaum kulit hitam di Amerika dan seluruh dunia menolak dominasi kulit putih. Baik di Hongkong maupun di Amerika, persoalan keangkuhan kekuasaan menjadi pemicu gerakan "anti the establishment".

Bagaimana di Indonesia? Aksi pertama kali melawan rezim berkuasa bahkan ketika adanya maklumat Kapolri untuk tidak mengadakan aksi atau demonstrasi telah terjadi Rabu, 24 Juni lalu. Aksi ini terjadi sebagai penolakan ummat Islam atas rencana partai penguasa melegalkan sebuah UU Haluan Ideologi Pancasila dan adanya dominasi Badan BPIP dalam mengarahkan ideologi negara, pada saat DPR terlihat saat ini gampang dikendalikan rezim.

Seharusnya, hal hal krusial seperti ideologi, harus dibahas di masa normal, bukan di saat orang2 ketakutan akibat situasi pandemik coronavirus. Rakyat menganggap, struktur elit telah memanipulasi situasi kesedihan dan penderitaan bangsa saat pandemik ini untuk membuat berbagai produk Undang-Undang, yang tidak memihak rakyat. Seperti sebelumnya juga UU atas Perpu Corona, UU Minerba dan RUU Omnibus Law.

Jika ideologi negara yang dindikasian "versi Komunis" tersebut berhasil menjadi UU, maka dikhawatirkan Indonesia akan dikooptasi segelintir elit, bukan untuk kepentingan rakyat, tapi hanya untuk kepentingan oligarki modal dan segelintir elit tersebut tadi.


Perasaan rakyat yang marah terhadap kekuasaan tidak dapat ditahan lagi. Aksi massa 24 Juni lalu telah menghilangkan rasa takut atas pandemik coronavirus, sebuah rasa takut yang maha dahsyat dibandingkan ketakutan atas sebuah kekuasaan. Dengan demikian, secara teoritik, aksi tersebut benar2 revolusioner, baik dari kacamata "social movement theory" maupun "new social movement theory". Bukan sebuah tidakan reformasi melainkan revolusioner.


*Arah Pertarungan Ke Depan*

Ketika Eddy Mulyadi menyatakan pembakaran bendera PKI dan PDIP adalah "accident" bukan "incident", tersirat bahwa aksi tersebut secara umum adalah pertarungan besar yang bersifat ideologi. Bahwa secara aksidental ada pembakaran bendera PKI dan PDIP, meski bukan direncanakan organisasi aksi, namun menurut Eddy tidak merubah tujuan aksi, yakni perang ideologi. Bahkan, karena sebab pembakaran bendera itu akan terjadi perang saudara di Indonesia, sebagai bagian aksi reaksi, Eddy menyatakan sudah siap.

Lalu bagaimana arah pertarungan ke depan?

Secara ideologi, Islamisme yang dikendalikan kepemimpinan ulama, khususnya Habib Rizieq Sihab, sangat matang dan dalam, baik dari tingkat gagasan maupun aksi. Di tingkat gagasan ideologi Islam yang ditawarkan adalah keadilan sosial yang hilang selama ini. Habib Rizieq, seperti juga HOS Tjokroaminoto dan Soekarno di jaman penjajahan, menunjukkan gagasan dan gerakan anti tesis atas kapitalisme dan dominasi kaum kapitalis. Simbol perjuangan 212 yang dikomandoi ulama selama ini menunjukkan permusuhan atas dominasi sepihak pemilik modal alias 9 NAGA. Bahkan, para ulama bertekad mengembalikan tanah2 yang dikuasai cukong2 puluhan juta hektar kepada semua rakyat miskin.

Di sisi lainnya, ideologi non Islam, yang di masa penjajahan Belanda, seperti Komunisme dan Marhaenisme, saat ini tidak menunjukkan konsistensi sejarah mereka berjuang untuk keadilan sosial. Partai Rakyat Demokratik (PRD), misalnya, sekali lagi haya umpama, meski tetap menunjukkan perlawanan terhadap kapitalisme dan pemilik modal, tidak mampu menjelaskan posisinya di mata rakyat, apakah dia sebagai oposisi atau bagian kekuasaan. Padahal, kekuasaan yang eksis saat ini adalah kekuasaan kapitalistik (lihat pernyataan bagian rezim kuasa Surya Paloh: Indonesia Kini Adalah Negara Kapitalis Liberal, Agustus 2019).

Kekuasaan saat ini meskipun menggaung2kan kelanjutan sejarah Soekarnoisme atau Marhaenisme, tidak menunjukkan jejak anti kolonialisme dan anti kapitalisme itu. Rezim Jokowi bahkan terindikasi didukung kuat oleh kaum oligarki modal.

Sehingga terjadi paradoks antara gagasan dengan praxisnya. Bagaimana ingin membangun kekuatan dan keadilan untuk rakyat kalau kekuasaan dan rezimnya menyusun agenda bangsa ini dengan kolaborasi pemilik modal?

Belum lagi sebuah paradoks kiri internasional, di mana kerjasama dengan RRC bukannya membangun keadilan sosial, malah terkesan memberikan dominasi RRC semakin dalam di Indonesia.

Paradoks dari the ideology of the ruling class adalah fatal. Alhasil  Islam sebagai ajaran keadilan tidak tertandingi ideologi non Islam.
Dan sepanjang ideologi Islam menjadi tafsir bagi Pancasila dan cita-cita mulianya untuk keadilan, maka peranan Islam cepat atau lambat tidak mungkin dibendung lagi.

Situasi pandemik sendiri akan mempercepat dominasi Islam di Indonesia. Anatomi kekuasaan saat ini, yang didukung oligarki dan kelompok2 pragmatis, sulit bertahan lama karena dampak ekonomi pandemik coronavirus telah menghancurkan ekonomi negara. Kemiskinan dan pengangguran ke depan akan memunculkan "social unrest" yang tidak mungki dikendalikan sebuah kekuasaan yang tidak dekat dengan rakyat.

Persoalannya apakah Islam akan menjadi tafsir tunggal atas Pancasila ke depan akan menjadi pertanyaan besar. Pada tahun 2016, saya menyarankan Rachmawati Soekarnoputri menjalin hubungan akrab dan sinergis dengan kekuatan ulama (Habib Rizieq Sihab) agar tafsir Pancasila tetap dimiliki bersama. Artinya Pancasila bisa sebagai Philosophische Grondslag bukan ideologi. Namun, semua ini tergantung bagaimana arah sejarah ini dikendalikan. Jika mengikuti sejarah Iran, di mana kelompok2 nasionalis di sana merasa angkuh terhadap kelompok Islam, maka  kaum Islam Syiah menentukan sendiri kemenangannya.


*Penutup*

Pertarungan ideologi Islam vs. Anti Islam sudah manifest saat ini. Aksi Revolusioner ummat Islam telah terjadi Rabu, 24 Juni lalu. Mereka bukan saja menghilangkan rasa takut atas kekuasaan sebuah rezim, namun mereka telah melawan ketakutan atas coronavirus. Hal ini persis terjadi seperti di Hongkong, ketika rakyatnya melawan RRC dan persis seperti di Amerika, gerakan "Black Lives Matter".

Reaksi terhadap aksi ini jelas juga. Kekuatan2 anti Islam dan kelompok2 nasionalis bahkan terindikasi Komunis, juga telah turun ke jalan. Hal ini akan memicu perang saudara di Indonesia. Selama ini memang keterbelahan bangsa (devided society) sudah terjadi. Namun, perang saudara hanya pernah terjadi tahun 65/66 antara Islam melawan Komunis.

Ideologi Islam pada saat ini menguasai akar rumput alias rakyat (kecuali di Jateng) karena gerakan mereka  menjanjikan bangsa yang makmur dan adil, bukan sekedar makmur buat segelintir orang. Permusuhan yang diperlihatkan Habib Rizieq dan para ulama atas dominasi ekonomi segelintir taipan2 dan 9 naga di atas penderitaan seratusan juta rakyat miskin, menunjukkan sisi perjuangan mereka. Sebaliknya, rezim kekuasaan, yang mempertahankan kapitalisme dan persekongkolan dengan oligarki modal telah memporakporandakan klaim sejarah Marhaenisme dan bahkan Komunisme, yang di masa lalu adalah di garda depan melawan kapitalis dan ketidak adilan. Sehingga, saat ini, rezim kekuasaan kesulitan meyakinkan rakyat atas klaim keberpihakannya.

Pertarungan ini semakin mengerikan di saat negara dipastikan tidak mampu menopang perekonomian nasional lagi. Masa pandemi yang panjang serta pertolongan ekonomi RRC dan lainnya tidak mungkin datang, membuat kekuasaan yang berbasis kooptasi negara akan gagal melakukan upaya konsolidasi eksistensinya.

Dengan demikian, nasib bangsa ini ke depan sangat tergantung bagaimana kelompok2 sosial di masyarakat mencari jalan tengah atau membiarkan arah revolusioner membimbing nasib bangsa.

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Bukan Level Indonesia Lagi, Anies Resmi Masuk 20 Besar Tokoh Dunia!

Rabu, 24 Juli 2019

Faktakini.net, Jakarta - Sudah sejak lama masyarakat internasional mengagumi Gubernur DKI Anies Baswedan. Ketokohan dan kemimpinan Anies itu skalanya sudah bukan nasional atau Indonesia lagi, tapi sudah termasuk tokoh dunia.

Sejak tahun 2010, Anies telah terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April 2010.

Dalam edisi khusus yang berjudul '20 Orang 20 Tahun', itu Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies yang saat itu masih menjadi Rektor Universitas Paramadina itu dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House o…