Langsung ke konten utama

Featured Post

Dr Masri Sitanggang: Melawan Komunisme

Senin, 28 September 2020

Faktakini.net

_*Seri Komunis 01_*

*MELAWAN KOMUNISME*

Oleh : *Dr. Masri Sitanggang*

Komunisme itu paham, bukan organisasi dan bukan pula nasab. Orang bisa saja menjadi komunis tanpa harus terdaftar sebagai anggota organisasi komunis seperti PKI, misalnya; atau bukan pula dari keturunan anak komunis. Jadi, jangan salah sangka. Orang berfaham (lebih tepat lagi ideologi) komunis bisa berada di organisasi apa saja; mulai dari organisasi sosial kemasyarakatan, propesi , keagamaan sampai organisasi partai politik. Begitu juga soal nasab, anak yang lahir dari seorang alim pun bisa jadi terjangkit faham komunis dan sebaliknya anak seorang komunis belum tentu juga sepaham dengan komunis.

_“Dik Gaffar, kamu ajari saya agama, nanti kamu saya ajari Marxisme,”_ kata Sukarno satu ketika. Yang dipanggilnya “dik Gaffar” adalah A. Gaffar Ismail, ayah dari Taufiq Ismail, dokter hewan yang lebih dikenal sebagai penyair itu. Taufiq Ismail menceritakan kisah persahabatan So…

Zainal Bintang: Kisah M Nuh Pemenang Lelang Motor


Rabu, 27 Mei 2020

Faktakini.net

*Kisah Pemenang Lelang Motor*

*Oleh : Zainal Bintang*

*Jakarta, 25 Mei 2020*
         -----
NAMANYA M. Nuh, berdomilisi di Kampung Manggis, Jambil. Tiba-tiba terkenal gegara lelang motor “Gesits” milik Presiden Joko Widodo yang ada tanda tangannya.

 Acara itu diadakan dalam acara konser amal “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” yang digagas BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila, MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat)  dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Acara ini didedikasikan selain untuk para seniman dan para pekerja seni, juga untuk kelompok masyarakat lainnya yang membutuhkan, ujar Bamsoet panggilan akrab Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Sebagai “pemenang” lelang M. Nuh terpaksa  gigit jari. Batal demi hukum.

Terjadi salah faham. Panitia Konser bertujuan mencari dana dari  donatur. M. Nuh menyangka dia akan diberi dana oleh panitia karena memenangi kuis senilai Rp 2,55 miliar.

Dalam sebuah video di YouTub, M. Nuh ngomong blak-blakan. “Saya dari dulu buruh bangunan,” katanya sambil tertawa  renyah.

Menurutnya, hari Minggu itu (17/5) dia menonton TV, secara tidak sengaja ada siaran acara konser amal yang sudah berlangsung setengah jalan. Fikirnya itu acara kuis.

Ada enam pilihan nomor yang bisa dihubungi. Setelah berulangkali menghubungi kontak nomor 6 yang ditangani Wanda Hamidah, akhirnya bisa nyambung pada percobaan yang ketujuh kalinya.

Tak disangka-sangka ada sambungan. M.Nuh menceritakan, “Setelah masuk itu, dia langsung (ditanya) ini dari siapa. (Dijawab) ini dari Pak M. Nuh, Kampung Manggis, Jambi,” jawabnya senang.

Si penerima telepon mencecarnya, “Apakah Bapak mau ikut?”

Mengira dirinya akan mendapat hadiah, langsung menjawab, “Iya ana (saya) ikut,” sahutnya sambil terus tertawa tanpa beban.

“Yang nawarkan hadiah itu mereka sendiri. Waktu itu belum Rp 2,55 M, waktu itu sekitar Rp 500an juta hingga Rp 1 M dia nawarnya.”

Ketika angka mencapai Rp 2 miliar, ternyata pulsa di handphonenya habis.
Sempat kecewa, merasa gagal dapat hadiah kuis. Dia banting handphonenya.

Tapi handphone tanpa pulsa itu tiba-tiba berdering.
Panitia menyampaikan  dirinya masih tetap ikut dalam program itu.

Pada angka Rp 2,55 miliar dirinya dinyatakan sebagai pemenang. Diapun loncat-loncat kegirangan.

Isterinya menjelaskan itu bukan kuis. Itu lelang.
Dia yang harus membayar. M. Nuh ketakutan. Televisinya langsung dimatikan. Handphone disembunyikan di kulkas.

Besoknya berita tentang dirinya beredar luas. Dia dicari petugas dari kepolisian.

Banyak pembelajaran yang dapat ditarik dari kasus lelang motor presiden Jokowi yang  kacau balau ini.

Panitia penyelenggara tentunya digerakkan oleh niat baik mencari dana untuk korban wabah Covid-19. Kesungguhan niat baik dapat dilihat dari penggagasnya tokoh bangsa yang punya nama besar seperti Megawati dan  Bambang Soesatyo sebagai jaminan mutu.

Tapi niat baik saja ternyata tidak cukup. Seyogyanya ada kajian serius atas kondisi psikologis masyarakat.

Kasus gagal menang “pengusaha besar” dari Jambi ini menjadi trending topic gunjingan kurang dari 24 jam setelah acara lelang dan masih berlangsung sampai sampai hari ini. Puluhan juta  pengguna  media sosial berselancar memberi tanggapan.

Komentar mereka yang beraneka macam berhamburan di ruang publik. Menuduh  konser kisruh karena panggagasnya pekat dengan politik. Bau politiknya terlalu dominan. Berbeda dengan konser amal Didi Kempot yang bernuansa seni yang tulus dan membawa pesan kemanusiaan.

Publik menganggap panitia tidak peka terhadap perasaan masyarakat yang sedang susah karena pandemi. Selain itu, masyarakat juga sekarang ini diibaratkan sedang berkontemplasi membersihkan jiwa dari sisa polusi politik kampanye hitam selama pemilu yang menyisakan luka dan kekecewaan.

Masyarakat perlu membuat  jarak dengan segala hal yang berbau politik. Mereka masih muak dan mual dengan eforia kampanye yang sarat caci maki dan ujaran kebencian.

Kesehatan bangsa sedang terganggu virus politik identitas. Saat ini rakyat butuh suasana religius ; sebuah suasana keagamaan yang khidmat untuk menenangkan perasaan dari trauma politik dan tekanan pandemi. Terlebih saat itu sedang di dalam bulan suci Ramadhan.

Jika Nabi Nuh AS diutus oleh Allah SWT untuk kaumnya di kawasan sungai Eufrat dan Tigris supaya menegur seorang raja yang zalim dan otoriter bernama Darmasyil yang egois, otoriter dan anti Tuhan.

Apa yang dialami “nabi” M.Nuh  dari Jambi itu memang tidak ada hubungannya dengan pembuatan perahu atau bahtera. Urusannya soal lelang sepeda motor milik presiden yang kocar kacir.

Namun di dalam wawancara di video yang diunggah Sabtu (23/5), M. Nuh menggunakan kesempatan “menegur” keras presiden Jokowi supaya serius memperhatikan nasib rakyat kecil.

Melalui kasusnya, M. Nuh berharap Jokowi lebih terbuka matanya dan lebih peduli terhadap rakyat kelas bawah seperti dirinya.

“Mudah mudahan kalau pak  Jokowi mendengar, mungkin ini menjadi pelajaran kita bersama. Dengan adanya kasus ini Allah menunjukkan rakyat kecil itu perlu diperhatikan kesejahteraannya”, katanya.

Akibat  kesimpang siuran pemenang lelang itu, panitia kerepotan “mencuci tangan”. Sibuk memberi penjelasan kiri kanan. Mereka segera mengubah pemenang lelang.
Menggantikan M. Nuh dengan anak konglomerat terkenal  yang juga ketua umum partai politik. Namun semua itu tetap tidak mampu merubah pandangan rakyat miring, yang menganggap mereka kurang memiliki sensitivitas sosial yang tinggi dan kurang profesional.

Konser berdurasi dua jam itu yang dilaksanakan di studio TVRI dan disiarkan oleh sejumlah stasiun televisi swasta juga menuai kritik karena sejumlah pihak yang hadir di studio berfoto tanpa menerapkan physical distancing dan tidak menggunakan masker. Ketua MPR Bamsoet meminta maaf melalui pesan singkat (19/05) “Itu semua salah saya,” katanya.

Kasus lelang yang ricuh itu kadung menjadi anekdot politik yang gurih. Petinggi negeri menerima kiriman “hadiah lebaran”  yang pahit berupa cacian dan makian dari publik. Dengan  ongkos kirim yang mahal: defisit kredibilitas!

Beberapa pesan WhatsApp  yang masuk ke handphone saya menitip pesan supaya menuliskan begini : kasus lelang motor yang kacau itu membuat pembesar negeri  seolah sedang tersesat di jalan yang terang!
         -----
*Penulis wartawan senior dan pemerhati masalah sosial dan budaya*

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …

(Video) Sambil Cium Tangan Habib Umar Assegaf, Asmadi Ketua Satpol PP Minta Maaf

Jum'at, 22 Mei 2020

Faktakini.net, Jakarta - Asmadi, Ketua Satpol PP Kecamatan Dukuh Pakis yang sempat mengkasari Habib Umar bin Abdullah Assegaf, pada malam ini Jum'at (22/5/2020) akhirnya mendatangi kediaman Habib Umar di Bangil, Pasuruan. Kemudian ia mencium tangan sang dzurriyah Rasulullah SAW, lalu memohon maaf.

Begitu lama Asmadi yang merupakan Kepala Satpol PP Kecamatan Dukuh Pakis itu mencium tangan Habib Umar, ia ingin kekhilafan nya dimaafkan, dan alhamdulillah dengan keikhlasan hati yang seluas samudera, Habib Umar pun memaafkan Asmadi.

Asmadi mengaku saat itu ia sedang sangat kecapekan sehingga ia khilaf. Habib Umar kemudian memeluk Asmadi, dan peristiwa ini disambut hangat oleh para jamaah dan tamu yang hadir, yang langsung melantunkan sholawat.

Sebagaimana diketahui Asmadi yang sempat  mendorong dan mengkasari Habib Umar di pos check point Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Exit Tol Satelit pada Rabu (20/5/2020) sore, dikecam luas oleh umat Islam se-Indo…