Langsung ke konten utama

Featured Post

Telah Wafat Habib Muhammad bin Ahmad Alqadrie ketua Dewan syuro DPD FPI Kalbar

Rabu, 30 September 2020

Faktakini.net

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un telah berpulang kerahmat allah SWT Alhabib Muhammad bin Ahmad alQadrie ketua dewan syuro DPD FPI Kalbar Rabu 30 September 2020 pukul 14.40 wib,

di kediaman beliau jl Husein Hamzah komplek mitra utama 1...

semoga segala amal baik beliau diterima Allah SWT dan dimaafkan segala kesalahan nya dan insyaallah Husnul khatimah..

aminn ya robbana ya karimm

Usai Sebar Pamflet 'Ulama Itu Tikus Yang Harus Dibasmi', PKI Bantai Kyai Dan Umat Islam



Rabu, 6 Mei 2020

Faktakini.net, Jakarta - Gejolak pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, Jawa Timur, pa da 1948, sejak awal sebenarnya sudah terindikasi secara nyata. Pemerintah Kabupaten Madiun kala itu, berusaha meredam upaya pemberontakan dengan mengumpulkan tokoh masyarakat, kiai, dan kader PKI di Pendopo Madiun.

Namun, upaya menciptakan kedamaian di Madiun justru menjadi titik awal perang saudara, yang melibatkan PKI dan masyarakat. Para tokoh masyarakat, kiai, dan pejabat yang mendatangi agenda perdamaian itu, tak sampai menginjakkan kaki di pendopo.

"Mereka keburu diculik dan diangkut menggunakan berbagai kendaraan oleh PKI. Mereka dibawa ke berbagai tujuan secara berpencar, dan hingga kini tidak pernah diketahui keber adaannya," kata Kiai Haji Khoirun (93 tahun) saat ditemui di rumahnya, Desan Doho, Rt 17 Rw 03, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (17/5) siang.

Ayah kandung Khoirun adalah satu dari korban pembunuhan massal yang dilakukan PKI pada 1948. PKI dengan cara licik menjebak dan mengelabui para tokoh masyarakat, kiai, dan pejabat untuk dieksekusi secara kejam.

Seusai peristiwa itu, Khoirun bertutur, dalam kurun waktu tiga bulan, Madiun seperti kota mati. Banyak mayat tak diketahui identitasnya berserakan di pinggir-pinggir jalan. PKI semakin berani menebarkan teror dengan memasang pamflet target pembu nuhan di tiap-tiap gardu atau pos keamanan. Nama Khoirun tertera sebagai salah satu target pembunuhan.

Ulama Digambarkan Sebagai Tikus yang Harus Dibasmi

Propaganda PKI untuk menghancurkan umat Islam terus dilakukan dengan cara menciptakan kampanye antikiai. Ulama digambarkan sebagai tikus yang harus dibasmi. Secara nyata, ilustrasi itu tertulis dalam pamflet yang dipasang di berbagai titik keramaian.

Melihat kondisi bangsa yang terancam dominasi komunisme, naluri Khoirun muda yang saat itu menjadi santri di Pondok Pesantren Tegal Sari Ponorogo, bergolak. Terlebih, saat dia mengetahui ada 16 orang santri di Pondok Mermo yang dibantai oleh PKI. Tak hanya di Madiun, Khoirun juga melanglang buana ke berbagai tempat di wilayah Jawa Timur. Tujuannya cuma satu: mencari dan membunuh anggota PKI.

Pengalaman terburuk dia alami saat berperang di wilayah Banyuwangi. Khoirun mendapati kenyataan mengerikan, 43 warga Nahdatul Ulama (NU) diracun, dibantai, dan dimutilasi secara bersamaan. Upaya Khoirun mencari dan mengejar PKI pembunuh rekan rekannya harus dibayar mahal.

Dalam perjalanan mengejar para pembunuh, ia dan sembilan rekannya terjerat dalam jebakan yang dipasang anggota PKI. Tak ada pilihan lain, kecuali melawan dan terlibat aksi saling bunuh dengan anggota PKI. Namun, karena kalah jumlah orang, perlawanan Khoirun dan rekan-rekannya terhenti.

Mereka yang ditawan, disiksa dan di bakar dalam tungku berbahan kulit gabah yang terus-menerus menyala. Seusai dibakar, tubuh 10 pejuang anti-PKI ini diseret ke suatu tempat yang jauh, dengan siksaan tiada henti dari anggota PKI yang kebetulan me lintas di jalan.

Dalam kondisi sangat lemah, seluruh kulit tubuh terkelupas, Khoirun dan rekan-rekannya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan oleh PKI. Tubuh-tubuh tak berdaya itu dilemparkan ke lubang sedalam 12 meter.


Perjuangan Antara Hidup dan Mati
Berdasarkan cerita Khoirun, lubang gelap itu bagaikan neraka. Dia sudah tidak merasa memiliki harapan untuk hidup. Dengan sisa sisa kesadaran, ia menyaksikan gerombolan PKI menembaki mereka dari atas. Tak cukup memamerkan kebengisannya, gerombolan PKI ini juga melemparkan bebatuan berukuran besar ke dalam lubang berisi tubuhtubuh sekarat.
Antara hidup dan mati, Khoirun merasa seperti sedang berjalan di sebuah jalan besar. Tiba-tiba, kilatan petir menyambar tubuhnya, hingga membuat kesadarannya pulih. Khoirun tersadar. Tak percaya dengan peristiwa yang menimpanya.
Tubuhnya yang penuh dengan luka bakar, tersandar lemah di sebuah pohon pisang, yang tertanam di atas lubang tempat ia dan sembilan rekannya dikubur hidup-hidup. Dalam keadaan telanjang dan kondisi tubuh yang sangat lemah, Khoirun merangkak sejengkal demi sejengkal untuk mencari pertolongan. Ketika malam tiba, tepian sungai, menjadi jalur yang ia lewati untuk menyelamatkan diri.
Saat matahari terbit hingga petang, ia memilih diam agar tak diketahui orang lain yang tidak dikenal. Hingga akhirnya, Khoirun mendapat pertolongan dari seseorang yang mengantarkannya ke rumah sakit setempat untuk menerima perawatan.

Bagi Khoirun, kebiadaban PKI seolah sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Ia mengaku pernah membunuh sembilan orang wanita PKI yang berusaha membunuh seorang kiai dengan cara menaburkan racun ke dalam sumur milik sang kiai. Strategi penyamaran para wanita PKI ini adalah mendatangi rumah kiai dalam keadaan hamil.

Mereka mengaku sebagai muslimat NU, dan meminta kesempatan untuk tinggal di rumah kiai. Kerelaan sang kiai membuat mereka leluasa tinggal di rumah sang kiai. Suatu ketika, air di dalam sumur rumah kiai tersebut diketahui mengeluarkan buih. Berdasarkan peristiwa sebelumnya yang menewaskan sejumlah kiai, Khoirun langsung membunuh para wanita kejam tersebut.


Jenazah Muso Dibawa ke Alun-Alun Ponorogo
Berulang-ulang tertangkap gerombolan PKI, tidak membuat Khoirun muda menyerah. Sebutir peluru tajam anggota PKI pernah ditembakkan ke wajahnya dengan posisi moncong senjata di rahangnya, tetapi peluru itu hanya mampu menggores alis matanya. Kekejaman PKI terhadap umat Islam sepertinya sudah merasuki darah mereka. Khoirun menceritakan, seorang gadis muslimat NU harus rela menjadi korban kebengisan, saat secara tiba-tiba anggota PKI memotong (maaf) payudaranya.

Khoirun muda turut menjadi saksi terbunuhnya Muso pada 1948. Muso tertembak oleh pasukan TNI setelah melalui pengejaran dari wilayah Trenggalek. Setelah terbunuh, warga beramai-ramai atau diarak membawa jenazah Muso ke Alun-Alun Ponorogo.

Foto: Tentara Indonesia dan umat Islam berhasil menangkap para anggota PKI yang melakukan pemberontakan di Madiun tahun 1948 serta membantai umat Islam dan para kyai

Foto: Anggota PKI ditangkap dan diinterogasi oleh TNI usai pemberontakan PKI di Madiun 1948

Sumber: republika.co

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video:


Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …