Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) Kesaksian Pak Asmawi Penggali Jenazah Korban PKI Di Lobang Buaya: Jempol Kaki Yang Pertama Saya Pegang

Senin, 28 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Kesaksian Pak Asmawi salah satu penggali Lobang Buaya di lokasi pembantaian para Jendral oleh PKI tahun 1965 saat diwawancarai oleh bapak-bapak TNI: jempol kaki yang pertama saya pegang.

Klik video:

Klik video:






Semprot Ngabalin, Gayus Lumbuun Tegaskan Eks ISIS Berhak Pulang Dan Diadili Di Pengadilan



Sabtu, 15 Februari 2020

Faktakini.net, Jakarta - Mantan Hakim Agung, Gayus Lumbuun, terlibat perdebatan dengan Ali Mochtar Ngabalin terkait dengan polemik WNI eks ISIS di acara Kabar Indonesia Malam, tvOne, Kamis, 13 Februari 2020. Awalnya, Ngabalin menyatakan jika merujuk pada UU Kewarganegaraan, huruf D, ISIS adalah dinas militer asing bukan negara.

Kemudian para WNI itu masuk ke ISIS tanpa izin presiden (aturannya ada di huruf F), dan dengan sukarela mengambil sumpah dan janji kepada Negara Islam Suriah dan Irak (huruf D), maka secara otomatis gugur kewarganegaraannya.

“UU itu. Di mana lagi yang harus menjadi perdebatan dalam posisi ini?” kata Ngabalin.

Begitu Ngabalin mengeluarkan pernyataan itu, Prof Gayus segera meresponnya.

“Ada perdebatannya. Siapa yang melakukan UU ini. Aplikasi ke mana, ke pengadilan. Mana bisa UU dijalankan oleh presiden,” sergah Prof Gayus.

Ngabalin lantas melanjutkan UU 12 tahun 2006 itu bersifat lex spesialis tentang kewarganegaraan. Terlebih, para WNI itu atas sukarela dan kemauan sendiri bergabung dengan ISIS.

Gayus yang pernah menjadi anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu memberikan tanggapannya.

“Saya hanya mau tanya, apakah pemerintah berhak mengeksekusi?” kata Gayus.

“Atas nama undang-undang,” jawab Ngabalin.

“Oh tidak bisa, pengadilan. Enak aja,” sergah Gayus.

“Ini negara hukum bung, mana bisa,” lanjut Gayus.

Ngabalin mengatakan UU Kewarganegaraan adalah lex spesialis menjelaskan status dan kedudukan.

“Anda kurang jelas lex spesialis,” Gayus kembali menanggapi.

“Mereka punya hak komplain, ke pengadilan,” lanjut Gayus lagi.

“Gimana mereka mau komplain, sementara mereka membakar paspornya, dan menyebutkan negara ini adalah negara thagut,” kata Ngabalin.

“Jangankan paspor, bakar rumah saja diadili,” balas Gayus.

“Dan kita tahu, seluruh harta kekayaannya di negeri ini telah dijual untuk kepentingannya dalam perjalanannya,” Ngabalin melanjutkan pembicaraannya.

Gayus kemudian menegaskan apapun pelanggaran para WNI eks ISIS itu, muaranya adalah di pengadilan untuk memberi keadilan. Ukurannya apa, tegasnya, di situ ada.

“Bukan pemerintah,” tegas Gayus.

Gayus mengatakan pemerintah tidak boleh menafsirkan undang-undang tanpa proses pengadilan. Perdebatan pun terjadi lagi.

“Di mana posisinya tidak boleh?” tanya Ngabalin.

“Tidak bolehnya kalau dilaksanakan sendiri. Kalau pemerintah sudah mencabut undang-undang dan menggunakan undang-undang dengan kekuasaannya, itu sudah melanggar….”

Saat Gayus menjelaskan argumentasinya itu, Ngabalin meresponnya dengan tertawa.

“Kok tertawa, nggak perlu ketawa. Itu anda ketawanya bodoh. Ini saya kasih tahu anda. Sekarang anda bilang undang-undang lex spesialis, semua juga lex spesialis, narkotika juga lex spesialis,” kata Gayus ke Ngabalin.

Gayus menambahkan pemerintah tidak salah dengan rapat terbatasnya. Tapi, prosedur untuk menetapkan secara pasti mengenai status kewarganegaraan itu adalah wilayah pengadilan.(*)

Gelora News
14 Februari 2020

Sumber: nahimunkar.org

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video:


Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …