Langsung ke konten utama

Featured Post

Biadab! Tembok Musholla Dicoret, Al-Qur'an Disobek Dan Sajadah Digunting Di Pasar Kemis Kab Tangerang

Selasa, 29 September 2020

Faktakini.net

Selamat Sore Komandan ijin melaporkan pada tanggal 29 September 2020 sekitar pukul 15.30 Wib telah terjadi pencoretan tembok, penyobekan Kitab Suci Alqur'an, pengguntingan sajadah di Musollah Darussalam Rt 5/8 Perum Villa Tangerang Elok Kelurahan Kutajaya Kec Pasar Kemis Kab Tangerang.

A. Barang bukti

1. Alquran yang di coret coret
2. Potongan alquran yg di sobek sobek
3. Potongan2 sajadah yang di gunting
4. Botol pilok bekas nyemprot tembok.

B. Saksi saksi :

1. Nama                  : Rifki hermawan
Tempat tahl Lahir : tangerang 29-10-2004
Pekerjaan               : Pelajar
Alamat                     : Rt. 05/08 Villa Tangerang Elok Kel. Kutajaya

2. Nama                   : Samsu firman
Temapat tgl lahir   : Jkrt 17-7-1971
Pekerjaan                : Karyawan swasta
Alamat                      : Blok e2 No 29 rt 5/8 Villa Tangerang Elok Kel. Kutajaya

3. Nama                    : Suhadi
Tempat tgl Lahir     : Sleman jogja 16 april 1972
Pekerj…

Jika Eks PKI Bisa Diampuni, Mengapa WNI Eks ISIS Tidak Boleh Pulang?



Selasa, 11Februari 2020 

Faktakini.net

"Jon, denger-dengar pemerintah mau memulangkan WNI bekas ISIS ya?" tanya Kadir pada Joni di warung Mbak Sarah.

Si Joni yang ditanya tak lekas menjawab. Mulutnya tengah meniup kopi panas yang baru saja dihidangkan Mbak Sarah.

Usai menyeruput tipis-tipis, baru lah Joni menoleh pada Kadir.

"Apa tadi kamu bilang, Dir, pukis??"

"ISIS Jon, ISIS. Nih baca beritanya. Ada 600 WNI bekas kombatan ISIS yang pingin pulang ke Indonesia," jawab Kadir menyerahkan surat kabar yang tadi dibacanya.


Joni tak menghiraukan surat kabar yang diserahkan Kadir. Mulutnya kembali meniup kopi lalu menyeruput pelan.

"Emangnya kenapa Dir? Mereka kan WNI, jadi ya punya hak untuk pulang ke negaranya," kata Joni.

"Lho, kamu gimana sih Jon. Kata ahli hukum, mereka sudah bukan WNI lagi karena mereka sudah tidak setia dengan Pancasila, bergabung dengan negara ISIS," sahut Kadir dengan nada sedikit meninggi.

"Jangan bludreg dulu Dir. Kamu itu ngajak diskusi apa ngajak bertengkar sih?" kata Joni kalem. Yang diajak bicara hanya diam, mencoba menurunkan tekanan darahnya yang selalu naik kalau bicara dengan Joni yang dianggapnya lemot dan mengesalkan itu.

"Kamu tadi bilang 600 WNI itu bukan WNI lagi karena bergabung dengan negara ISIS. Memangnya ada negara bernama ISIS?" tanya Joni membuka kembali diskusi yang sempat terputus itu.

"Jon, yang namanya ISIS itu kan sudah deklarasi jadi negara islam. Namanya saja Islamic State of Iraq and Syria."

"Kan cuma sekedar nama, Dir. Lha ISIS itu punya wilayah gak? Punya mata uang sendiri gak? Dan yang lebih penting lagi, ISIS itu diakui keberadaannya oleh negara lain dan PBB gak?"

Kadir terdiam, keningnya berkerut mendengar pertanyaan Joni yang bertubi-tubi.

"Nah, kamu gak bisa jawab kan? Karena memang tidak ada jawabannya. ISIS itu bukan negara resmi, Dir. Sama seperti Sunda Empire atau King of The King. Hanya saja ISIS memberontak dan mereka teroris."

"Lha, justru karena mereka teroris dan pemberontak itulah WNI yang ikut bersama mereka jadi hilang status kewarganegaraannya," kata Kadir masih ngotot.

"Kejahatan terorisme tidak menggugurkan atau menghilangkan status kewarganegaraan, Dir. Nih, aku googling kan UU 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Kamu baca sendiri pasal 23 tentang Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia. Adakah yang menyatakan keikutsertaan WNI dalam tindak kejahatan terorisme menjadikan status warga negara mereka hilang?" jelas Joni, lalu menyodorkan ponselnya kepada Kadir.

Kadir menerima ponsel Joni, lalu membaca hasil googling di layar ponsel. Pada pasal 23 UU 12 Tahun 2006 disebutkan: Warga Negara Indonesia kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan:

memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;
tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;
dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden;
secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia;
secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut;
tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya; atau
bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal Perwakilan Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.
"Nah, bagaimana dengan ayat (d) dan (f) ini Jon? Bukankah para WNI yang ikut ISIS ikut dinas tentara asing? Mereka juga sudah mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia pada ISIS kan?" tanya Kadir sambil menunjuk poin d dan f yang dimaksud.

"Balik lagi ke pertanyaanku tadi, Dir. ISIS itu negara asing gak? ISIS itu bagian dari negara asing gak?" jawab Joni kalem.

Kadir termenung. Kalau dipikir, benar juga penjelasan Joni. Ikut ISIS tidak berarti kehilangan kewarganegaraan karena ISIS bukan negara asing yang berdaulat dan diakui status kenegaraannya. Jadi, bagaimanapun juga, WNI eks ISIS itu masih tetap WNI, Warga Negara Indonesia, bukan Warga Negara ISIS.

"Ya, tetap saja membahayakan kalau mereka diterima kembali di Indonesia Jon," kata Kadir membuka sub topik diskusi baru.

"Membahayakan bagaimana?"

"Seperti katamu tadi, mereka ikut teroris, ikut pemberontak. Apa tidak berbahaya kalau mereka balik ke Indonesia? Boleh saja mereka mengaku sudah insaf, sudah tobat. Tapi hati orang siapa tahu? Bisa saja ideologi ISIS mereka masih tertanam kuat. Dan ditularkan pada masyarakat sekitar."

"Gini, Dir. Aku bukannya mau mengungkit-ungkit ya. Coba kamu lihat dan pikir sendiri. Eks PKI saja bisa diampuni dan diterima kembali, mengapa eks ISIS tidak bisa? PKI dan ISIS sama-sama pemberontak, sama berbahayanya. Lalu kenapa harus ada perbedaan perlakuan?" jelas Joni menanggapi kekhawatiran Kadir.

"Kita memang harus waspada dengan ideologi super radikal semacam ISIS ini, Dir. Tapi tenang saja, negara kita sudah siap kok," lanjut Joni.

"Maksudmu?" tanya Kadir tidak mengerti.

"Bukannya kita sudah punya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)? Nah, sudah menjadi kewajiban BPIP untuk membina kembali WNI eks ISIS ini. Mereka kan sering mengadakan pelatihan pembinaan ideologi Pancasila. Mengapa pelatihan itu tidak ditujukan pula pada WNI eks ISIS?

"Memangnya ada pelatihan seperti itu?"

"Ada. Minggu kemarin temanku yang jadi pematerinya loh. Pelatihannya di hotel pula. Malah beberapa waktu lalu BPIP mengundang influencer, blogger dan YouTuber untuk menjadi mitra sosialisasi penguatan ideologi Pancasila. Jika nanti 600 WNI itu dipulangkan, bikin aja pelatihan yang sama. Anggap ini sebagai salah satu langkah deradikalisasi ideologi."

"Tapi kan gak semudah itu Jon. Ideologi seseorang itu gak bisa dihapus dan diganti begitu saja," kata Kadir.

"Kamu bilang begitu memang ada benarnya. Tapi, jika kita bisa mengampuni dan menerima eks PKI serta menganggap ideologi mereka sudah berganti, mengapa kita tidak bisa memberi perlakuan yang sama terhadap WNI eks ISIS itu?"

Kadir terdiam, dan dalam hati sekali lagi mengakui kebenaran penjelasan Joni. WNI eks ISIS itu tetap WNI, apalagi kondisi mereka sekarang terlantar setelah merasa tertipu oleh propaganda ISIS. Sudah menjadi tugas dan kewajiban negara untuk melindungi warga negaranya.

Kecuali keberadaan mereka dianggap membahayakan keutuhan bangsa dan negara. Selama itu belum terbukti, WNI eks ISIS layak diterima kembali.

Penulis Konten | himam.id | Email : himammiladi@gmail.com

Sumber: kompasiana.com

Postingan populer dari blog ini

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…

Video Langka NBC Tahun 1967: Inilah Orang-Orang PKI Pembunuh Para Jendral!

Sabtu, 26 September 2020

Faktakini.net, Jakarta - Dalam laporan khusus NBC News (media Amerika Serikat) tahun 1967 ini, koresponden Ted Yates meliput perjuangan politik, sosial dan ekonomi Indonesia, satu dari negara Asia Tenggara yang baru saja mengalami upaya kudeta. Film Dokumenter ini merupakan satu bagian dari trilogi yang diproduksi oleh Yates.

Klik video:


Bikin Resah Umat Islam, Penyebar 'Nasi Anjing' Di Bulan Ramadhan Diamankan Polisi

Ahad, 26 April 2020

Faktakini.net, Jakarta - Di tengah kesucian bulan Ramadhan, ada saja ulah yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meresahkan umat Islam.

Kelompok tersebut membagikan nasi bungkus yang mereka beri nama "nasi anjing", walaupun kemudian ternyata menurut pengakuan mereka, tidak ada daging anjing dalam menu yang mereka bagikan.

Entah tujuannya untuk mencari sensasi atau bagaimana, ulah mereka jelas meresahkan umat Islam, karena daging anjing diharamkan oleh umat Islam.

Jumhur ulama menghukumi daging anjing haram untuk dimakan, meski disembelih secara syariat.

Alasannya, anjing termasuk dalam binatang bertaring yang keharamannya jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris al-Khaulani dari Abi Tha'labah al-Khusyani, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam hadis lain, dari Ubaidah bin Sufyan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Memakan setiap …