Langsung ke konten utama

Featured Post

Gallery Foto Musholla Attaawur Di Lebak Banten Yang Direnovasi Relawan FPI

Jum'at, 24 Januari 2020

Faktakini.net, Jakarta - Relawan FPI Nasional dari berbagai daerah selama beberapa hari terakhir terus bekerja keras untuk memperbaiki Musholla Attaawur yang rusak akibat banjir di Desa banjar irigasi Kampung Buluhen Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, banten, dan pada hari ini, Jum'at (24/1/2020) sudah 90 persen selesai.

Sebelumnya pada hari Jum'at (17/1/2020) pukul 14.11 WIB setelah Sholat Jum'at, Imam DPD FPI Banten KH Abuya Qurthubi Jaelani bersama Relawan FPI dari berbagai daerah terjun langsung ke lokasi mushola at taawur di kampung buluhen lebak banten yang terkena musibah banjir pada hari Rabu tanggal 1 Januari 2020 lalu.

Instruksi Imam FPI banten Abuya Qurtubi ketika di lokasi saat itu, "Pengerjaan renovasi musholla untuk langsung dikerjakan secepatnya dengan bahan bangunan yang lebih bagus, agar secepat nya bisa digunakan untuk beribadah oleh warga buluhen dan anak anak sekolah SD dan SMP."

Sebagaimana diketahui berbaga…

Massa Bayaran Mendemo Anies: Nasi Bungkus Datang, Langit Jakarta Terang




Nasi Bungkus Datang, Langit Jakarta Terang

Rabu, 15 Januari 2020

Faktakini.net

*Nasi Bungkus Datang, Langit Jakarta Terang*

Oleh: *Mang Udin*

Kemarin ada demo di balaikota DKI. Tepatnya di depan Balaikota, lalu bergeser ke Patung Kuda. 200 orang, kata media.

Minta Anies mundur, tuntut mereka. Katanya, Anies gak becus urus banjir. Kenapa gak ke bupati dan walikota Bekasi? Kenapa gak ke walikota Depok? Kenapa gak ke bupati Bogor? Kenapa gak ke bupati/walikota Tangerang? Kenapa gak ke gubernur Jawa Barat, Jawa Tengah atau Banten?

Di Jakarta banjir sudah surut dan korban sudah ditangani. Sementara di beberapa wilayah, banjir dan longsor belum tuntas tertangani. Kenapa bukan bupati/walikota atau gubernur mereka yang diminta turun? Kenapa malah Anies?

Loh mikirnya normatif banget sih. Kebanyakan makan pasal dan peraturan. Hidup bukan cuma moral dan undang-undang. Karena perut gak ada urusannya dengan moral dan undang-undang. Tapi urusannya dengan makan.

Gue kasih jawaban supaya loh ngerti. Masalahnya bukan di Anies bro. Masalahnya juga bukan di Tuhan yang turunin hujan. Lalu, masalahnya dimana? Ya gak ada masalah. Dan memang gak ada masalah. Loh aja yang suka masalahin. Pakai hadang demo segala. Ini hanya soal bagaimana membaca peluang dan kesempatan. Membaca dari pintu mana rizki Tuhan akan dibagikan. Bukan soal banjir bro. Kalau itu mah bisa dicari-cari.

Masuk akal juga! Kemarin ada video beredar di medsos Wawancara dengan beberapa pendemo. Anak-anak remaja. Usia tanggung. Mengaku dibayar 40 ribu. Serius? Biasa aja kali! Otak kalau terlalu kebanyakan pasal, emang susah diajak santai.

Tulisan ini khusus tentang anak-anak remaja dalam video itu. Itupun kalau videonya bener. Bener-bener diambil kemarin. Yang lain? Gak usah bicara yang lain. Entar salah lagi. Ini gak ada kaitannya dengan pendemo yang lain. Kagak ada. Kalau ada, itu urusan loh. Bukan urusan Mang Udin.

Hari gini, harga semua barang naik bro. Banyak orang susah. Ada peluang, kenapa gak ambil?  Paling cuma 3-4 jam. Panas-panas dikit, sambil nyanyi-nyanyi. Ikut yel yel. Dapat 40 ribu. Lalu pulang.

Kerja, keluar keringat dan dapat duit. Wajar! Loh aja yang jahat. Orang nyari duit loh bully. Emang loh bisa ngasih mereka? Tahu kebutuhan mereka? Ikut merasakan kemiskinan mereka?

Ketika ada orang sedekah, bagi-bagi duit kepada mereka, kenapa loh sewot? Kenapa loh ngiri? Bagi anak-anak itu, orang-orang yang bagi duit seperti malaikat di tengah lautan orang kaya yang bakhilnya naudzu billah. Dosanya aja susah diminta, apalagi duitnya.

Silahkan cari duit, tapi jangan ganggu Anies dong... Waduh, masih gak ngerti juga. Emang kalau ganggu presiden dapat duit? Emang kalau ganggu gubernur dan kepala daerah lain dapat duit? Kagak! Loh kalau cara berpikirnya normatif, kagak nyambung dengan urusan perut. Perut itu nyata. Pasal, suka-suka yang buat dan yang melaksanakan.

Kalau ganggu gubernur lain juga bisa dapat duit, ya dari dulu udah dilakuin. Ini soal peluang kerja bro. Tidak semua tempat ada.

Orang nyari rizki. Jangan dicemooh. Tuhan kasih rizki dari berbagai pintu. Rizki anak-anak remaja itu dari situ. Itupun gak seberapa. Kasihan... Kita doakan mereka kelak jadi komisioner KPU, biar agak banyakan dikit dapatnya. Syukur-syukur punya posisi di Jiwasraya atau jadi komisaris Asabri. Biar nasibnya lebih baik... Begini baru bijak nasehatnya.

Melihat mereka dapat uang, kita mestinya ikut senang. Jakarta makin banyak lowongan pekerjaan. Meski part time. 40 ribu setiap 3-4 jam. Upah yang cukup layak. Apalagi jika ditambah nasi bungkus. Makin layak.

Kalau peluang pekerjaan ini terus ada, apalagi rutin, Jakarta makin cerah. Bolehlah kita bilang: ini gara-gara nasi bungkus. Nasi bungkus datang, langit Jakarta makin terang.

Jakarta, 15 Januari 2020

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

KPK Akan Beberkan Korupsi Infrastruktur Rezim Jokowi Yang Rugikan Miliaran Rupiah

Ahad, 17 Maret 2019

Faktakini.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengusut kasus dugaan korupsi terkait proyek infrastruktur di era pemerintaan Jokowi - JK ini. Kali ini, proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi berada di daerah.

“Penyidikan baru, korupsi infrastruktur di daerah,” ucap juru bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (13/3).

Kendati demikian, Febri belum menjelaskan proyek infrastruktur di daerah mana yang diduga dikorupsi. Dia hanya menyebut proyek infrastruktur yang dimaksud yaitu jembatan.

Akibat korupsi ini, negara diduga mengalami kerugian puluhan miliar rupiah. “Diduga kerugian negara puluhan miliar,” tegas Febri.

Rencananya, informasi lebih jauh atau terkait perkembangan akan disampaikan dalam konferensi pers bersama pimpinan KPK. “Sore atau malam ini jika tidak ada kendala akan kami sampaikan perkembangan hasil penyelidikan melaui konferensi pers,” tuturnya.

Sebelumnya, KPK saat ini juga tengah menangani beberapa kasus dugaan korupsi terkait proy…

500 Banci Tumpah Ruah Di Stadion GBK Ikuti Kampanye Jokowi - Ma'ruf

Sabtu, 13 April 2019

Faktakini.com, Jakarta - 500 Banci tumpah ruah memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta untuk mengikuti kampanye paslon nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf, Sabtu (13/4/2019).

Mereka kaum banci alias waria yang antara lain tergabung dalam Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia ini menyatakan dukungannya terhadap capres petahana itu.

Ketua Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut mengatakan ada sekitar 500 waria se-DKI Jakarta yang turut hadir dalam kegiatan kampanye terakhir Jokowi-Maruf ini.

Waria-waria ini mengklaim Jokowi kinerjanya saat menjadi presiden selama kurang lebih lima tahun terakhir sudah terbukti.

"Kami mendukung Pak Jokowi karena kinerjanya sudah terbukti dengan pelayanan dan pembangunan infrastrukturnya di seluruh Indonesia," kata Mami Yuli sapaan akrabnya kepada Suara.com di GBK, Sabtu (13/4/2019).

Dia berharap Jokowi-Maruf bisa menangkan Pilpres 2019 dan lebih memperhatikan hak asasi mer…