Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) Siap Basmi PKI, FPI Dan Warga Tanah Abang Bakar Bendera PKI

Sabtu, 30 Mei 2020

Faktakini.net, Jakarta - Siap Basmi PKI, FPI Dan Warga Tanah Abang Bakar Bendera PKI

Klik video:

Catatan Tantangan Debat Tentang Pancasila Dr Abdul Chair Vs Tjahjo Kumolo: Pancasila, Antara Azas Atau Pilar Negara?



Sabtu, 31 Agustus 2019

Faktakini.net

*PERDEBATAN KONSTRUKSI BERNEGARA : PANCASILA, ANTARA ASAS ATAU PILAR NEGARA ?*

_[Catatan Tantangan Debat Umum Tentang Pancasila Oleh Dr. Abdul Chair Ramadhan vs Saudara Tjahyo Kumolo]_

Oleh : *Ahmad Khozinudin, S.H.*
Ketua LBH PELITA UMAT

Pada Rabu malam (28/8), dalam sebuah Forum Group WhatsApp (GWA) Tokoh Nasional, kebetulan Penulis satu GWA dengan Dr. Abdul Chair Ramadan. Dalam forum diskusi ringan, ketua HRS CENTRE ini menyatakan telah mendapat mandat untuk mewakili Imam Besar Habib Rizq Syihab (IB HRS), untuk menantang debat Pemerintah ihwal Pancasila.

Secara khusus, tantangan itu disampaikan kepada Tjahyo Kumolo, yang pada beberapa saat yang lalu menyebut HRS tak paham Pancasila. Bahkan, Pejabat Menteri Dalam Negeri ini mengatakan Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Shihab perlu mempelajari dasar negara Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pernyataan Tjahjo juga merespons Pernyataan HRS yang meminta pembubaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) karena para anggotanya tak paham Pancasila. Bahkan HRS menyebut BPIP menjadi 'Badan Pengkhianat Ideologi Pancasila'.

Substansi kritik HRS sendiri adalah pada kedudukan (eksistensi) Pancasila, yang saat ini telah direduksi menjadi pilar (tiang). Padahal, Pancasila adalah asas (dasar) dalam berbangsa dan bernegara.

Seperti sudah salah namun kaprah, MPR RI sejak periode kepemimpinan Taufiq Kiemas justru masif mensosialisasikan 4 (empat) pilar berbangsa : Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Sebenarnya kritik terhadap pergeseran kedudukan Pancasila dari asas menjadi pilar ini, adalah kritik yang lazim. Sebagaimana -menurut hemat penulis- sangat wajar jika muncul wacana tuntutan pembubaran BPIP, karena dipandang tak mampu membina dan mengarahkan ideologi Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.

Aspirasi tuntutan pembubaran BPIP yang dinilai memboroskan anggaran negara, penulis kira bukan pendapat HRS seorang. Penulis sendiri memiliki pendangan sejalan, dimana BPIP yang bergaji ratusan juta rupiah tak menunjukan kinerjanya untuk rakyat. Penulis yakin, Publik juga setuju dengan pendapat ini.

BPIP hanya lantang bersuara menjadi corong rezim untuk meneriakan bahaya dan ancaman radikalisme. Namun, ketika bahaya yang mengancam negara di Papua nyata, hingga demo ke istana mengibarkan bendera OPM, tak seorang pun anggota BPIP yang mengecam sparatisme Papua.

Penulis juga tak sepaham dengan pernyataan Prof Jimly (dikutip suara.com) yang menuding HRS bukan mengkritik BPIP tapi menghina lembaga negara. Sebab, kritik HRS berbasis ilmu dan dilekatkan pada realitas dan fakta BPIP yang memang 'tak mudeng' hakekat Pancasila yang sejati.

Seharusnya, dengan standar yamg sama Prof Jimly bisa menuding gerakan demo Papua telah menghina dan melecehkan simbol negara. Bagaimana mungkin demonstrasi masyarakat Papua didepan istana -yang merupakan simbol negara- dilakukkan dengan mengibarkan bendera OPM ? Apakah Prof Jimly bersuara tentang hal ini ?

Tak salah jika publik kemudian berpraduga bahwa pendapat Prof Jimly ini tak jauh beda dengan mereka para begawan Pancasila yang ada di BPIP. Bedanya, Prof Jimly tak digaji ratusan juta rupiah seperti anggota BPIP.

Contohnya Prof Mahfud, salah seorang anggota BPIP yang mentwit : "Orang Jawa bukan orang Batak, Orang Aceh bukan orang Bugis, orang Sasak bukan orang Papua, orang Madura bukan orang Betawi, orang Dayak bukan orang Melayu. Tapi orang2 Melayu, Dayak, Betawi, Madura, Betawi, Papua, Bugis, Sasak, Aceh, Batak, Jawa, dll, adalah orang2 Indonesia".

Lantas apa esensi dari pernyataan ini ? Adakah ini nilai-nilai Pancasila yang akan menjadi materi ajar untuk membina dan mengarahkan Pancasila ? Apakah untuk quote semacam ini, anggota BPIP dibayar ratusan juta rupiah ?

Pada kasus OPM dan Papua, sebenarnya segenap rakyat menunggu-nunggu apa arahan dari BPIP. Sebab, sparatisme jelas merupakan ancaman NKRI.

Namun hingga saat ini tak satupun anggota atau ketua BPIP angkat bicara. Seperti biasa, Megawati, Try Sutrisno, Syafii Maarif, Said Aqil Siradj, Ma'aruf Amin, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe dan Wisnu Bawa Tenaya kompak diam. Hanya Prof Mahfud MD yang bicara, itupun pembicaraan yang sangat berbeda ketika menjadi jubir suluh kebangsaan yang dengan ringannya menuding pesantren di Magelang dan di Jogja Radikal.

Kembali ke soal tantangan debat yang disampaikan Dr. Abdul Chair Ramadhan kepada Saudara Tjahyo Kumolo. Rasanya debat ini penting untuk diselenggarakan, agar bangsa ini memiliki tafsir yang sejalan dengan tujuan para pendiri bangsa.

Jika Al Qur'an memiliki banyak Kitab Tafsir Mu'tabar untuk memahami maknanya, seperti : Jami' al-Bayan fi Ta`wil al-Quran karya At-Thabari, al-Jami' li ahkam al-Quran karya al-Qurthubi, Ruh al-Ma'ani karya al-Alusi, Tafsir al-Quran al-'Adzim karya Ibnu Katsir, Mafatih al-Ghaib karya ar-Razi, al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta`wil karya al-Baydlawi, at-Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu 'Asyur, Fi Dzilal al-Quran karya Sayyid Quthb, dan lain-lain.

Namun, Pancasila hingga saat ini tak memiliki satupun kitab tafsir rujukan yang bisa dijadikan standar untuk memahami Pancasila, sehinga perbedaan dan perdebatan antar anak bangsa dapat dijembatani melalui pemahaman ilmu. Selama ini, tafsir Pancasila selalu dilekatkan kepada penguasa. Siapa yang tidak pro dengan tafsiran penguasa dianggap anti Pancasila, anti NKRI.

Semoga dengan terjadinya debat Dr. Abdul Chair Ramadhan vs Saudara Tjahyo Kumolo ini bisa menginspirasi Pak Menteri untuk menerbitkan kitab Tafsir Pancasila Mahzab Tjahyo Kumolo. Sebab, Pak Menteri menyebut HRS perlu belajar lagi Pancasila, mungkin Pak menteri mau berbesar hati untuk mengarang kitab tafsir Pancasila, yang kelak bisa menjadi materi ajar bagi HRS untuk mempelajari Pancasila.

Terakhir, penulis sebagai Presiden Islamic Lawyers Forum (ILF) akan merasa sangat terhormat, jika debat itu berkenan dilakukan di forum diskusi bulanan yang diselenggarakan LBH PELITA UMAT. Untuk edisi September, kami akan kosongkan tema dan siap menjadi Panitia penyelengara debat antara Dr. Abdul Chair Ramadhan vs Saudara Tjahyo Kumolo. [].

AYO ... VIRALKAN ‼

@AnginGunung



Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

Bukan Level Indonesia Lagi, Anies Resmi Masuk 20 Besar Tokoh Dunia!

Rabu, 24 Juli 2019

Faktakini.net, Jakarta - Sudah sejak lama masyarakat internasional mengagumi Gubernur DKI Anies Baswedan. Ketokohan dan kemimpinan Anies itu skalanya sudah bukan nasional atau Indonesia lagi, tapi sudah termasuk tokoh dunia.

Sejak tahun 2010, Anies telah terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April 2010.

Dalam edisi khusus yang berjudul '20 Orang 20 Tahun', itu Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies yang saat itu masih menjadi Rektor Universitas Paramadina itu dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House o…

Kerap Hina Habib Rizieq Dan Anies, Saat Sakit Hingga Meninggal Anies Yang Mengurusnya

Senin, 13 April 2020

Faktakini.net

Hari ini saya harus ucapkan terimaa kasih kepada senior saya abangda Lukman Hakiem yang mantan anggota DPR dan penasihat ahli Wapres Hamzah Haz serta staf perdana menteri M Natsir... Beliau dengan lapang hati meminta bantuan langsung kepada Gubenur DKI Anies Baswedan atas segala kendala selama senior saya AE Priyono di rawat di rumah sakit, mulai dari pemintaan tes swab corona hingga pencarian rumah sakit, hingga proses pemakaman.

''Saya terima kasih kepada Anies Baswedan yang merespons WA saya dengan cepat soal perawatan kepada sahabat saya AE Priyono. Begitu saya WA dan telepon, langsung Anies mengerahkan tenaga medis ke AE Priyono.

Bahkan ketika saya kabari bila AE wafat, Anies langsung respons dengan mengatakan bantuan apalagi yang masih bisa dilakukan? Saya jawab dengan minta agar bantu soal pemakamannya. Anies jawab Okey. Di situ Saya terharu,'' katanya.

Mengapa terharu? Abangda Lukman mengatakan karena dia tahu AE Priyono seri…