Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) M Husein Bantah Hoax Yang Disebar Abu Janda Bahwa Konflik Di Palestina Hanya Ada Di Gaza

Kamis, 19 September 2019
Faktakini.net, Jakarta - Dari Gaza, Palestina, Muhammad Husein menepis hoax yang coba disebarkan oleh Ustadz gadungan Abu Jbidei (Permadi Arya) bahwa konflik di Palestina hanya ada di Gaza. 
Silahkan saksikan video ini:

Wakil Ketua DPR: Makar Itu Pakai Senjata, Masa' Cuma Bicara Pakai Mulut Disebut Makar!



Kamis, 16 Mei 2019

Faktakini.net, Jakarta - Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menilai, tidak ada kaitannya sangkaan makar terhadap sejumlah tokoh belakang ini oleh Kepolisian untuk menjerat seseorang.

Menurut Fahri, istilah makar hanya berlaku, jika sekelompok orang menggunakan alat persenjataan dan berupaya menggulingkan pemerintah yang sah. Karena hanya lewat ucapan, menurut dia, polisi tak berhak memberikan sangkaan makar.

"Saya mengimbau polisi, jangan gunakan pasal makar. Sebab, yang bisa makar yang punya senjata. Kalau tidak punya senjata, tidak bisa makar. Sudah lah, tolong lah," kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis 16 Mei 2019.

Menurut dia, penyampaian seseorang menggunakan mulut dan tidak menggunakan senjata, lalu kenapa kemudian disebut sebagai perbuatan makar?

"Masa, orang yang ngomong pakai mulut doang disebut makar," katanya.

Fahri berpendapat, aksi demonstrasi ataupun penyampaian pendapat tidak bisa dikenakan delik makar. Dalam pandangannya, istilah serangan yang bersifat berat hanya berlaku jika mengerakkan kekuatan menggunakan senjata.

"Aanslag itu pakai mulut itu sekarang sudah dihapus dalam undang- undang kita, setelah konstitusi ini. Tidak ada lagi yang namanya makar pakai mulut, yang ada makar pakai senjata," katanya.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan Eggi Sudjana sebagai tersangka dalam kaitannya dugaan makar. Tidak hanya Eggi, sejumlah tokoh turut dilaporkan dengan sangkaan yang sama.

Polisi sendiri menyatakan, penanganan kasus dugaan makar berpatokan pada fakta hukum. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi, Dedi Prasetyo, menerangkan, penyidik juga menjunjung tinggi profesionalitas dalam melakukan penyelidikan sebuah kasus.

Jika memang ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam penyidikan yang dilakukan penyidik, ada mekanisme konstitusional yang bisa ditempuh.

"Ada mekanisne konstitusionalnya, bisa diuji di ranah sidang praperadilan, dibuka di situ, apakah langkah-langkah penyidik sudah betul apa tidak. Jadi, ya silahkan sebagai warga negara Indonesia yang baik harus menghargai bahwa ini adalah negara hukum, dengan segala bentuk macam konstitusi harus dihargai," kata Dedi.

Foto: Fahri Hamzah

Sumber: viva.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

FPI Bersama Kepolisian Bubarkan Acara LGBT Di Magelang

Ahad, 14 Oktober 2018

Faktakini.com, Magelang - Hari ini, Ahad (14/10/2018) berlangsung acara yang diduga LGBT di Mall Arthos Magelang, Jawa Tengah.

Mendapat laporan masyarakat, FPI Magelang Raya kemudian menemui pihak kepolisian.

Akhirnya pihak Kepolisian  kemudian memerintahkan kepada management Mall Arthos mall dan panitia penyelenggara untuk menghentikan dan membongkar panggung siang ini juga.





Kominfo Akhirnya Akui Relawan FPI Benar Membantu Di Palu Dan Nyatakan Mendukung

Kamis, 4 Oktober 2018

Faktakini.com, Jakarta - Akhirnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan pernyataan mengakui bahwa aksi sosial kemanusiaan FPI di lokasi terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu adalah benar dan nyata adanya, bukan hoax.

Sedangkan yang mereka maksud sebagai hoax adalah kiriman foto dari salah seorang Netizen yang salah kirim foto, judulnya, tentang aksi FPI Palu tetapi fotonya ternyata saat Relawan FPI sedang melakukan aksi sosial kemanusiaan di Sukabumi tahun 2015 lalu.

Jadi dengan kata lain Netizen tersebut cuma 'salah kirim foto",  karena faktanya dokumentasi foto dan video aksi sosial kemanusiaan Relawan HILMI - FPI di lokasi bencana di Palu ada banyak dan melimpah ruah.

Jadi tentu FPI tak perlu repot-repot membuat atau merekayasa foto hoax aksi-aksi di Palu tentunya, karena foto aslinya ada banyak dan mudah ditemukan.

Sebelumnya Kominfo telah mengedarkan siaran pers yang melaporkan ada delapan informasi hoaks yang beredar d…