Langsung ke konten utama

Featured Post

FPI-PA 212-GNPF Ulama: Korban Asuransi Jiwasraya Dan Asabri, Ayo Ikut Aksi 21 Februari 2020!

Rabu, 19 Februari 2020

Faktakini.net, Jakarta - Front Pembela Islam (FPI), GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212 mengajak para umat lintas agama dan para korban Jiwasraya, Asabri dan lainnya untuk ikut Aksi Berantas Mega Korupsi Selamatkan NKRI pada Jumat siang (21/2/2020) mendatang.

Ajakan itu disampaikan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Ustadz Yusuf Muhammad Martak dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu 19 Februari 2020.

Ustadz Yusuf Martak mengatakan, keikutsertaan para nasabah dan korban mega korupsi tersebut akan memberienergi tambahan pada peserta aksi lainnya.

“Kami benar-benar berharap saudara-saudara kami yang menjadi korban mega korupsi bisa ikut turun pada aksi Jumat, 21 Februari 2020. Dengan keterlibatan para korban dalam aksi, sekaligus menjadi tekanan bagi penguasa untuk menuntaskan kasus-kasus mega korupsi,” ujar Ustadz Yusuf Martak.

Dia menambahkan, aksi FPI, GNPF-Ulama, PA 212 dan ormas-ormas Islam serta elemen umat Islam kali ini menunjukkan bahwa…

Protes Kecurangan Pemilu, Emak-Emak Bawa Keranda Mayat Di Depan Istana



Kamis, 16 Mei 2019

Faktakini.net, Jakarta - Perempuan-perempuan berpakaian hitam berbaris mengiringi sejumlah orang yang menggotong sebuah keranda mayat. Aksi ini terjadi tepat di depan hidung kekuasaan, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/5).

Keranda yang mereka bawa itu berisi maneken yang dibalut kain kafan. Sambil mengiringi 'jenazah', para perempuan itu membawa poster dan spanduk yang berbunyi protes dugaan kecurangan pemilu.

Berbagai protes yang ditulis antara lain tuntutan audit forensik IT KPU, hingga netralitas TNI, Polri dan Aparatur Sipil Negara. Di tengah peristiwa itu, sesekali terdengar orasi menyoal dari koordinator aksi yang teriak soal audit sistem IT KPU hingga soal insiden ratusan petugas KPPS yang tewas selama Pemilu 2019.

Aksi teatrikal itu digelar oleh emak-emak yang menamakan diri Perempuan Indonesia Bergerak (PIB). Di puncak adegan keranda mayat tersebut, para emak-emak itu melepas rangkaian balon hitam sebagai simbol kematian demokrasi.

Pada adegan lain, sejumlah emak-emak dibawa dengan keadaan terikat. Seperti para penjahat, mereka berhadapan dengan seorang wanita dengan riasan sangar. Wajahnya penuh coretan hitam seperti tentara hendak berperang.

Puisi tentang kebebasan dan demokrasi dibacakan di tengah adegan tersebut. "Tak tahu lagi mau dikemanakan bangsa ini," ucap pembaca puisi sambil menangis.

Rangkaian aksi itu memang sengaja digelar untuk mengingatkan pemerintah soal dugaan kecurangan yang menurut PIB terjadi selama Pemilu 2019.

Dugaan kecurangan itu antara lain soal rekayasa penghitungan hasil pemilu berdasarkan sistem penghitungan (Situng) KPU. Keberpihakan aparat negara, hingga kebebasan berpendapat yang menurut mereka diberangus di era Jokowi.

Untuk menguatkan pesan yang hendak diusung, massa aksi memasang baliho raksasa warna hitam bertuliskan 'RIP Demokrasi' tepat di muka mobil komando.Di pengujung aksi, para emak-emak melakukan aksi doa dan selawat bersama.

Sebelumnya, Koordinator Presidium PIB Monica Soraya mengatakan pihaknya ingin agar situng KPU bisa dihentikan karena telah terjadi kecurangan.

"Kami ingin pemerintah ayo kita fair jangan lagi curang, kita harus adil, kita harus jujur. Setop [situng] KPU, tidak ada lagi perhitungan suara karena kami nilai perhitungan suara itu curang," ucapnya.

Selain itu, Monica juga mengatakan pihaknya menuntut keadilan atas ratusan petugas KPPS yang meninggal dunia selama pemilu.

Sikap PIB ini hampir serupa dengan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Prabowo sebagai calon presiden bahkan menegaskan siap menolak hasil penghitungan suara oleh KPU jika terbukti ada kecurangan.

Prabowo menempatkan diri sebagai korban kecurangan pemilu.

Sementara itu pemerintah, pada hari ini telah menegaskan tidak melakukan kecurangan atau bekerjasama dengan penyelenggara pemilu untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Hal itu ditegaskan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, hari ini.

"Saya berani bersumpah di bulan puasa ini demi Allah Yang Maha Kuasa, tidak pernah ada niatan, pemikiran, tindakan, 'eh Pak KPU sini ya kita rundingan, kita menangkan paslon nomor sekian'. Tidak pernah ada," ujar Wiranto di hadapan peserta Rakornas Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Tahun 2019 di Hotel Grand Paragon, Jakarta, Kamis.

Foto: Ketika Emak-emak Bawa Keranda Mayat di Depan IstanaSalah satu bagian adegan teatrikal PIB di depan Istana Merdeka, Kamis (16/5).

Foto: Ketika Emak-emak Bawa Keranda Mayat di Depan IstanaSalah satu bagian adegan teatrikal PIB di depan Istana Merdeka, Kamis (16/5).

Sumber: cnnindonesia.com



Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

KPK Akan Beberkan Korupsi Infrastruktur Rezim Jokowi Yang Rugikan Miliaran Rupiah

Ahad, 17 Maret 2019

Faktakini.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengusut kasus dugaan korupsi terkait proyek infrastruktur di era pemerintaan Jokowi - JK ini. Kali ini, proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi berada di daerah.

“Penyidikan baru, korupsi infrastruktur di daerah,” ucap juru bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (13/3).

Kendati demikian, Febri belum menjelaskan proyek infrastruktur di daerah mana yang diduga dikorupsi. Dia hanya menyebut proyek infrastruktur yang dimaksud yaitu jembatan.

Akibat korupsi ini, negara diduga mengalami kerugian puluhan miliar rupiah. “Diduga kerugian negara puluhan miliar,” tegas Febri.

Rencananya, informasi lebih jauh atau terkait perkembangan akan disampaikan dalam konferensi pers bersama pimpinan KPK. “Sore atau malam ini jika tidak ada kendala akan kami sampaikan perkembangan hasil penyelidikan melaui konferensi pers,” tuturnya.

Sebelumnya, KPK saat ini juga tengah menangani beberapa kasus dugaan korupsi terkait proy…

500 Banci Tumpah Ruah Di Stadion GBK Ikuti Kampanye Jokowi - Ma'ruf

Sabtu, 13 April 2019

Faktakini.com, Jakarta - 500 Banci tumpah ruah memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta untuk mengikuti kampanye paslon nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf, Sabtu (13/4/2019).

Mereka kaum banci alias waria yang antara lain tergabung dalam Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia ini menyatakan dukungannya terhadap capres petahana itu.

Ketua Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut mengatakan ada sekitar 500 waria se-DKI Jakarta yang turut hadir dalam kegiatan kampanye terakhir Jokowi-Maruf ini.

Waria-waria ini mengklaim Jokowi kinerjanya saat menjadi presiden selama kurang lebih lima tahun terakhir sudah terbukti.

"Kami mendukung Pak Jokowi karena kinerjanya sudah terbukti dengan pelayanan dan pembangunan infrastrukturnya di seluruh Indonesia," kata Mami Yuli sapaan akrabnya kepada Suara.com di GBK, Sabtu (13/4/2019).

Dia berharap Jokowi-Maruf bisa menangkan Pilpres 2019 dan lebih memperhatikan hak asasi mer…