Langsung ke konten utama

Featured Post

Rusuh Di Wamena Papua, Massa Bakar Kantor Bupati Dan Perkantoran Lainnya

Senin, 22 September 2019

Faktakini.net, Jakarta - Unjuk rasa ribuan massa terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya di Kota Wamena, Papua berujung kerusuhan, Senin (23/9/2019). Massa gabungan membakar sejumlah perkantoran di Kota Wamena.

Perkantoran yang dibakar diantaranya Kantor Bupati Wamena, Kantor Bapeda, Kantor BPS, Kantor KUA dan sejumlah kantor di tengah Kota Wamena. Massa yang beringas juga merusak dan membakar sejumlah toko yang ada di Kota Wamena.

Unjuk rasa anarkistis ini dipicu isu ada salah satu guru SMA PGRI pada Sabtu kemarin 22 September 2019 melontarkan kata-kata rasis kepada salah satu murid asli Papua.

Akibatnya ribuan massa mulai berkumpul di Kota Wamena dan melakukan unjuk rasa yang berujung anarkistis.

Sampai saat ini aparat keamanan terdiri dari Polres Wamena dan Kodim masih bersiaga di tengah kota.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto saat dihubungi SINDOnews membenarkan adanya aksi unjuk rasa yang berujung…

Politisi Anti Islam Bertebaran, Dewan Imam Minta Warga Muslim Pilih Sesama Muslim Di Pemilu Australia


Rabu, 15 Mei 2019

Faktakini.net, Jakarta - Sejumlah Muslim mengatakan terganggu dengan ucapan kebencian dan fitnah terhadap keyakinan mereka.
Jelang Pemilihan Umum di Australia, salah satu unit kerja di Dewan Islam negara bagian Victoria mengeluarkan nama-nama politisi dan partai yang dianggap secara terang-terangan menyatakan kebencian mereka terhadap Islam.

Imbauan Muslim Memilih Muslim Australia

Imam tertinggi Australia mengatakan suara warga Muslim sama berharganya dengan warga lain
Jumlah persentase warga Muslim di sejumlah daerah pemilihan cukup signifikan
10 partai dan 9 calon kandidat yang dianggap terang terbuka menyatakan kebencian pada Islam.

My Vote Matters adalah sebuah inisiatif di bawah Islamic Council of Victoria (ICV) yang menyadarkan para pemilih Muslim mengenai pentingnya suara mereka dalam Pemilu.

Kelompok yang digagas generasi muda Muslim ini berupaya menyediakan informasi dan studi yang membandingkan perbedaan kebijakan para caleg dan parpol, serta sebagai panduan untuk memilih.

ICV mengatakan Pemilu Australia yang akan digelar 18 Mei mendatang telah dirusak dengan menjamurnya partai-partai kecil dan kandidat yang secara terang-terangan memiliki agenda anti-Islam.

"Bahkan dengan standar rendah yang digunakan dalam retorika politik Australia baru-baru ini, pernyataan yang memalukan dan penuh kebencian dari calon-calon wakil rakyat ini sangat mengganggu," kata Mohamed Mohideen, Presiden ICV.

External Link: My Vote Matters

My Vote Matters mengeluarkan daftar parpol kecil yang dianggap kerap kali menyakiti hati warga Muslim dan perbandingan kebijakan dari tiga parpol utama di Australia.

Sementara itu, setidaknya ada sembilan calon wakil rakyat yang dianggap sangat vokal dan terang-terangan menyatakan kebenciannya terhadap Islam.

Mereka adalah Jeremy Hearn dan Jessica Whelan yang pernah didukung Partai Liberal. Keduanya diminta mundur akibat memiliki rekam jejak menyatakan kebenciannya terhadap Islam di dunia digital.

Jessica pernah menulis agar Presiden Donald Trump memotong klitoris perempuan-perempuan yang mendukung Islam dan mengirimkan mereka ke negara-negara Muslim.

Lain halnya dengan Jeremy Hearn yang mengatakan jika warga Muslim di Australia sebenarnya adalah orang jahat dan mereka menyembunyikan niat mereka yang sebenarnya.

Kemudian Jacinta Price, caleg dari Partai Liberal untuk kursi Kawasan Australia Utara juga masuk dalam daftar karena pernah mengomentari soal hukum syariah yang dianggapnya tidak menjunjung hak asasi manusia dan menyamakannya dengan hukum yang dianut suku Aborigin.

Pauline Hanson yang kini menjabat sebagai senator juga masuk dalam daftar karena sejumlah pernyataan yang secara konstan menyerang umat Islam.

Begitu pula dengan Fraser Anning dari Partai Nasional Konservatif, yang pernah ditimpuk telur oleh seorang remaja.

Senator Fraser Anning egged Detik-detik Senator Fraser Anning ditimpuk telur oleh...
Space to play or pause, M to mute, left and right arrows to seek, up and down arrows for volume.
Detik-detik Senator Fraser Anning ditimpuk telur oleh seorang remaja ( ABC News )

Nama kandidat lainnya yang masuk dalam daftar adalah politisi berdarah Sri Lanka, Daniel Nalliah, pemimpin partai Rise Up Australia, yang juga seorang pastor Katolik.

Lalu Cory Bernadi yang kini menjadi senator mewakili Australia Selatan dari Partai Australian Conservatives serta Debbie Robinson dari partai kecil bernama Yellow Vest Australia juga masuk dalam daftar.

ICV mengatakan persentase warga Muslim cukup signifikan di lebih dari 30 daerah pemilihan dan meski memiliki kekhawatiran yang beragam, tetapi mereka ingin melihat adanya tindakan yang menentang kebencian dan fitnah terhadap keyakinan mereka.

Mangkir dari politik dianggap kejahatan

Dr Ibrahim Abu Mohammed meminta agar warga Muslim tidak membiarkan suara politiknya hilang begitu saja.

Sementara itu Dr Ibrahim Abu Mohamad, Grand Mufti Australia yang memimpin Dewan Imam di Australia mengatakan sangatlah disayangkan jika warga Muslim tidak terlibat dalam proses berpolitik.

"Sayang sekali jika suara kita tidak dianggap berharga," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Jika kita tidak mengisi ruang politik Muslim di Australia, maka orang lain akan melakukannya untuk kita," Kata Dr Ibrahim.

Ia mengajak warga Muslim untuk secara berhati-hati memilih kandidat atau yang mewakili mereka dan mengatakan jika mangkir dari proses politik maka sama saja dengan sebuah kejahatan terhadap umat Muslim dan agama Islam.

Dewan Imam Nasional Australia juga telah meminta agak 200 imam yang terdaftar di Australia memanfaatkan khotbah Jumat untuk menekankan pentingnya memilih dengan bertanggung jawab.

Foto: Sejumlah Muslim mengatakan terganggu dengan ucapan kebencian dan fitnah terhadap keyakinan mereka di Australia

Sumber: viva.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

FPI Bersama Kepolisian Bubarkan Acara LGBT Di Magelang

Ahad, 14 Oktober 2018

Faktakini.com, Magelang - Hari ini, Ahad (14/10/2018) berlangsung acara yang diduga LGBT di Mall Arthos Magelang, Jawa Tengah.

Mendapat laporan masyarakat, FPI Magelang Raya kemudian menemui pihak kepolisian.

Akhirnya pihak Kepolisian  kemudian memerintahkan kepada management Mall Arthos mall dan panitia penyelenggara untuk menghentikan dan membongkar panggung siang ini juga.





Kominfo Akhirnya Akui Relawan FPI Benar Membantu Di Palu Dan Nyatakan Mendukung

Kamis, 4 Oktober 2018

Faktakini.com, Jakarta - Akhirnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan pernyataan mengakui bahwa aksi sosial kemanusiaan FPI di lokasi terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu adalah benar dan nyata adanya, bukan hoax.

Sedangkan yang mereka maksud sebagai hoax adalah kiriman foto dari salah seorang Netizen yang salah kirim foto, judulnya, tentang aksi FPI Palu tetapi fotonya ternyata saat Relawan FPI sedang melakukan aksi sosial kemanusiaan di Sukabumi tahun 2015 lalu.

Jadi dengan kata lain Netizen tersebut cuma 'salah kirim foto",  karena faktanya dokumentasi foto dan video aksi sosial kemanusiaan Relawan HILMI - FPI di lokasi bencana di Palu ada banyak dan melimpah ruah.

Jadi tentu FPI tak perlu repot-repot membuat atau merekayasa foto hoax aksi-aksi di Palu tentunya, karena foto aslinya ada banyak dan mudah ditemukan.

Sebelumnya Kominfo telah mengedarkan siaran pers yang melaporkan ada delapan informasi hoaks yang beredar d…