Langsung ke konten utama

Featured Post

Hj Irena Handono: Kami Menolak Film 'The Santri' Karena Tak Sesuai Ajaran Islam

Senin, 23 September 2019

Faktakini.net, Jakarta - Irena Center yang mengelola pondok pesantren bagi muallaf Muslimah menyatakan menolak film “The Santri” yang disutradarai Livi Zheng, dan telah menimbulkan kontroversi sejak cuplikan promosi tayangan layar lebar itu beredar di masyarakat.

“Irena Center menolak film ‘The Santri’ karena tidak mencerminkan perilaku dan tradisi santri yang sebenarnya,” ujar Pembina Yayasan Irena Center, Hajjah Irena Handono, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Hajjah Irena Handono yang akrab disapa Umi Irena itu menjelaskan bahwa ketidaksesuaian film tersebut dengan kehidupan santri yang sesungguhnya adalah karena sejumlah adegan yang tidak sejalan dengan syariat Islam, seperti pacaran, bercampur aduknya laki-laki dan perempuan, serta membawa tumpeng ke dalam gereja.

“Akibatnya film ini merusak gambaran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di tanah air,” jelas Umi Irena.

Irena Center juga menyeru agar masyarakat, terutama Umat Islam, m…

Hanya karena Tidak Ikut Misa, Kepala Sekolah Pukuli Murid Dengan Kayu Di NTT

Rabu, 15 Mei 2019

Faktakini.net, Jakarta - SE (8 tahun) siswi kelas 3 SD Negeri Wae Mamba, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, mengaku dianiaya oleh SS, sang kepala sekolah.

Didampingi ayahnya, korban melapor kepada Kepolisian Resor Manggarai, Selasa, 14 Mei 2019. Selain memeriksa korban, polisi juga mengambil keterangan seorang saksi yang melihat langsung Silvester memukuli sejumlah murid dengan kayu.

SE menuturkan, penganiayaan itu terjadi Senin, 13 Mei, saat jam istirahat pertama kira-kira pukul sepuluh. Siswi asal Golo Bong, Desa Sisir, itu mengaku bahwa ia dan teman-temannya dipukul hanya karena tidak mengikuti misa hari Minggu di sekolah mereka.

“Awalnya kepala sekolah mengumpulkan seluruh murid di halaman sekolah. Tujuannya, untuk memisahkan anak-anak yang ikut misa hari Minggu dan yang tidak. Kami yang tidak pergi misa dipukul satu per satu dengan kayu jambu. Dipukul berkali-kali di kaki dan badan,” kata SE kepada VIVA, sambil memperlihatkan bekas luka di kedua kakinya.

Usai dianiaya, katanya, anak-anak yang kesakitan itu pulang lebih awal karena ketakutan. SE langsung melaporkan kekerasan itu ke orang tuanya.

Ayah korban, Oswaldus Marsin, mengaku tidak terima anaknya disakiti. Dia juga memperlihatkan beberapa foto bocah yang terluka akibat tindakan sang kepala sekolah. Namun Oswaldus menyayangkan sikap para orang tua murid yang tidak berani melaporkan penganiayaan kepada anak-anak mereka pada polisi.

“Ini bukti kekerasan itu. Sampai terluka begini anak-anak kita. Soal orang tua mereka tidak datang melapor, itu urusan mereka, saya urus saya punya anak saja,” kata Oswaldus, sambil memperlihatkan beberapa foto kepada wartawan.

Oswaldus lantas menceritakan bahwa sang kepala sekolah dikenal temperamental dan guru paling ditakuti oleh siswa-siswi SDN Wae Mamba. Karena sikap kasar SS, tidak sedikit murid SDN Wae Mamba pindah ke sekolah lain, bahkan ada yang terpaksa putus sekolah.

Menurutnya, kebijakan seluruh siswa harus misa di sekolah itu aturan yang dibuat sendiri oleh sang kepala sekolah, padahal para murid lazim beribadah di Kapela. Para murid pun sesungguhnya lebih suka mengikuti misa di Kapela.

Tunggu hasil penyelidikan

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto, mengaku telah mendapat laporan tentang kekerasan di SDN Wae Mamba. Dia juga telah mengutus stafnya untuk menyelidiki laporn kekerasan itu ke SDN Wae Mamba.

Teto mendukung korban yang melaporkan tindakan kekerasan kepada polisi. Soal langkah yang diambil Dinas terhadap sang kepala sekolah, dia masih menunggu laporan dari staf yang ditugaskan menginvestigasi kasus itu.

“Kita perlu cek kebenaran dulu seperti apa. Kalau memang terjadi seperti itu, memang guru yang bersangkutan perlu diberikan semacam sanksi, tapi kita lihat dulu persoalannya,” kata Teto, dihubungi Selasa malam.

Teto menilai, tindakan sang kepala sekolah, kalau memang terbukti benar, otomatis menimbulkan rasa takut bagi anak didik. SS dinilai telah merusak citra pendidikan di Manggarai Timur yang sedang gencar mengampanyekan program sekolah bahagia.

“Kita sedang merencanakan sekolah bahagia, anak-anak harus merasa at home, artinya, anak-anak tidak mendapat perlakuan seperti itu, tidak boleh ada tekanan. Makanya kita cek kebenaran juga. Guru yang bersangkutan akan kita panggil,” ujarnya.

Foto: Seorang siswi SD korban penganiayaan sang kepala sekolah melapor kepada Polisi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 14 Mei 2019.

Sumber: viva.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

FPI Bersama Kepolisian Bubarkan Acara LGBT Di Magelang

Ahad, 14 Oktober 2018

Faktakini.com, Magelang - Hari ini, Ahad (14/10/2018) berlangsung acara yang diduga LGBT di Mall Arthos Magelang, Jawa Tengah.

Mendapat laporan masyarakat, FPI Magelang Raya kemudian menemui pihak kepolisian.

Akhirnya pihak Kepolisian  kemudian memerintahkan kepada management Mall Arthos mall dan panitia penyelenggara untuk menghentikan dan membongkar panggung siang ini juga.





Kominfo Akhirnya Akui Relawan FPI Benar Membantu Di Palu Dan Nyatakan Mendukung

Kamis, 4 Oktober 2018

Faktakini.com, Jakarta - Akhirnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan pernyataan mengakui bahwa aksi sosial kemanusiaan FPI di lokasi terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu adalah benar dan nyata adanya, bukan hoax.

Sedangkan yang mereka maksud sebagai hoax adalah kiriman foto dari salah seorang Netizen yang salah kirim foto, judulnya, tentang aksi FPI Palu tetapi fotonya ternyata saat Relawan FPI sedang melakukan aksi sosial kemanusiaan di Sukabumi tahun 2015 lalu.

Jadi dengan kata lain Netizen tersebut cuma 'salah kirim foto",  karena faktanya dokumentasi foto dan video aksi sosial kemanusiaan Relawan HILMI - FPI di lokasi bencana di Palu ada banyak dan melimpah ruah.

Jadi tentu FPI tak perlu repot-repot membuat atau merekayasa foto hoax aksi-aksi di Palu tentunya, karena foto aslinya ada banyak dan mudah ditemukan.

Sebelumnya Kominfo telah mengedarkan siaran pers yang melaporkan ada delapan informasi hoaks yang beredar d…