Langsung ke konten utama

Featured Post

(Video) Tepis Ucapan Ngawur Kepala BPIP, Prof Suteki: Agama Lebih Dulu Eksis Dari Pancasila!

Rabu, 19 Februari 2020

Faktakini.net, Jakarta - Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang, Profesor Suteki menilai pernyataan Ketua Badan Penguatan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, yang mengatakan agama musuh terbesar dari Pancasila tidak tepat dan dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Suteki mengatakan dengan adanya pernyataan tersebut, pemerintah dinilai blunder dan sudah semestinya BPIP dibubarkan. Paling tidak, Yudian harus dicopot dari jabatannya sebagai Kepala BPIP.

Profesor Suteki pun menegaskan agama lebih dulu eksis daripada Pancasila.

“Kalau seperti ini akan timbul ketidakpercayaan masyarakat, apakah itu mau dikehendaki demikian maka reaksi yang lebih jauh adalah bubarkan BPIP atau setidaknya copot Profesor Yudian Wahyudi,” kata Suteki dalam acara ILC tvOne, Selasa malam, 18 Februari 2020, dikutip dari vivanews.com.

Secara pribadi, pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila itu mengaku telah melihat langsung cuplikan video pernyataan Yudian.



Dalam video ter…

Hanya karena Tidak Ikut Misa, Kepala Sekolah Pukuli Murid Dengan Kayu Di NTT

Rabu, 15 Mei 2019

Faktakini.net, Jakarta - SE (8 tahun) siswi kelas 3 SD Negeri Wae Mamba, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, mengaku dianiaya oleh SS, sang kepala sekolah.

Didampingi ayahnya, korban melapor kepada Kepolisian Resor Manggarai, Selasa, 14 Mei 2019. Selain memeriksa korban, polisi juga mengambil keterangan seorang saksi yang melihat langsung Silvester memukuli sejumlah murid dengan kayu.

SE menuturkan, penganiayaan itu terjadi Senin, 13 Mei, saat jam istirahat pertama kira-kira pukul sepuluh. Siswi asal Golo Bong, Desa Sisir, itu mengaku bahwa ia dan teman-temannya dipukul hanya karena tidak mengikuti misa hari Minggu di sekolah mereka.

“Awalnya kepala sekolah mengumpulkan seluruh murid di halaman sekolah. Tujuannya, untuk memisahkan anak-anak yang ikut misa hari Minggu dan yang tidak. Kami yang tidak pergi misa dipukul satu per satu dengan kayu jambu. Dipukul berkali-kali di kaki dan badan,” kata SE kepada VIVA, sambil memperlihatkan bekas luka di kedua kakinya.

Usai dianiaya, katanya, anak-anak yang kesakitan itu pulang lebih awal karena ketakutan. SE langsung melaporkan kekerasan itu ke orang tuanya.

Ayah korban, Oswaldus Marsin, mengaku tidak terima anaknya disakiti. Dia juga memperlihatkan beberapa foto bocah yang terluka akibat tindakan sang kepala sekolah. Namun Oswaldus menyayangkan sikap para orang tua murid yang tidak berani melaporkan penganiayaan kepada anak-anak mereka pada polisi.

“Ini bukti kekerasan itu. Sampai terluka begini anak-anak kita. Soal orang tua mereka tidak datang melapor, itu urusan mereka, saya urus saya punya anak saja,” kata Oswaldus, sambil memperlihatkan beberapa foto kepada wartawan.

Oswaldus lantas menceritakan bahwa sang kepala sekolah dikenal temperamental dan guru paling ditakuti oleh siswa-siswi SDN Wae Mamba. Karena sikap kasar SS, tidak sedikit murid SDN Wae Mamba pindah ke sekolah lain, bahkan ada yang terpaksa putus sekolah.

Menurutnya, kebijakan seluruh siswa harus misa di sekolah itu aturan yang dibuat sendiri oleh sang kepala sekolah, padahal para murid lazim beribadah di Kapela. Para murid pun sesungguhnya lebih suka mengikuti misa di Kapela.

Tunggu hasil penyelidikan

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto, mengaku telah mendapat laporan tentang kekerasan di SDN Wae Mamba. Dia juga telah mengutus stafnya untuk menyelidiki laporn kekerasan itu ke SDN Wae Mamba.

Teto mendukung korban yang melaporkan tindakan kekerasan kepada polisi. Soal langkah yang diambil Dinas terhadap sang kepala sekolah, dia masih menunggu laporan dari staf yang ditugaskan menginvestigasi kasus itu.

“Kita perlu cek kebenaran dulu seperti apa. Kalau memang terjadi seperti itu, memang guru yang bersangkutan perlu diberikan semacam sanksi, tapi kita lihat dulu persoalannya,” kata Teto, dihubungi Selasa malam.

Teto menilai, tindakan sang kepala sekolah, kalau memang terbukti benar, otomatis menimbulkan rasa takut bagi anak didik. SS dinilai telah merusak citra pendidikan di Manggarai Timur yang sedang gencar mengampanyekan program sekolah bahagia.

“Kita sedang merencanakan sekolah bahagia, anak-anak harus merasa at home, artinya, anak-anak tidak mendapat perlakuan seperti itu, tidak boleh ada tekanan. Makanya kita cek kebenaran juga. Guru yang bersangkutan akan kita panggil,” ujarnya.

Foto: Seorang siswi SD korban penganiayaan sang kepala sekolah melapor kepada Polisi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 14 Mei 2019.

Sumber: viva.co.id

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

KPK Akan Beberkan Korupsi Infrastruktur Rezim Jokowi Yang Rugikan Miliaran Rupiah

Ahad, 17 Maret 2019

Faktakini.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengusut kasus dugaan korupsi terkait proyek infrastruktur di era pemerintaan Jokowi - JK ini. Kali ini, proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi berada di daerah.

“Penyidikan baru, korupsi infrastruktur di daerah,” ucap juru bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (13/3).

Kendati demikian, Febri belum menjelaskan proyek infrastruktur di daerah mana yang diduga dikorupsi. Dia hanya menyebut proyek infrastruktur yang dimaksud yaitu jembatan.

Akibat korupsi ini, negara diduga mengalami kerugian puluhan miliar rupiah. “Diduga kerugian negara puluhan miliar,” tegas Febri.

Rencananya, informasi lebih jauh atau terkait perkembangan akan disampaikan dalam konferensi pers bersama pimpinan KPK. “Sore atau malam ini jika tidak ada kendala akan kami sampaikan perkembangan hasil penyelidikan melaui konferensi pers,” tuturnya.

Sebelumnya, KPK saat ini juga tengah menangani beberapa kasus dugaan korupsi terkait proy…

500 Banci Tumpah Ruah Di Stadion GBK Ikuti Kampanye Jokowi - Ma'ruf

Sabtu, 13 April 2019

Faktakini.com, Jakarta - 500 Banci tumpah ruah memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta untuk mengikuti kampanye paslon nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf, Sabtu (13/4/2019).

Mereka kaum banci alias waria yang antara lain tergabung dalam Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia ini menyatakan dukungannya terhadap capres petahana itu.

Ketua Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut mengatakan ada sekitar 500 waria se-DKI Jakarta yang turut hadir dalam kegiatan kampanye terakhir Jokowi-Maruf ini.

Waria-waria ini mengklaim Jokowi kinerjanya saat menjadi presiden selama kurang lebih lima tahun terakhir sudah terbukti.

"Kami mendukung Pak Jokowi karena kinerjanya sudah terbukti dengan pelayanan dan pembangunan infrastrukturnya di seluruh Indonesia," kata Mami Yuli sapaan akrabnya kepada Suara.com di GBK, Sabtu (13/4/2019).

Dia berharap Jokowi-Maruf bisa menangkan Pilpres 2019 dan lebih memperhatikan hak asasi mer…