Langsung ke konten utama

Featured Post

Jenazah Penjual Kopi Di Medan Dijemput Ambulans HILMI - FPI Sumut Di Kamar Jenazah RS

Rabu, 19 Februari 2020

Faktakini.net, Jakarta - Tingginya biaya sewa ambulans dan mobil jenazah selalu menjadi masalah yang terus dikeluhkan oleh masyarakat. Hanya saja mereka tidak mampu berbuat banyak lantaran tarif ambulans dan mobil jenazah sudah ditetapkan masing-masing pemilik ambulans.

Tidak mengherankan jika beredar di media sosial soal jasa pengiriman jenazah lewat truk. Munculnya jasa angkut mayat menggunakan truk karena warga tak sanggup membayar tarif ambulans dan mobil jenazah, lebih-lebih untuk tujuan luar kota.

Banyaknya masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat terutama dalam hal menyewa mobil ambulans, menjadikan HILMI FPI Medan bertekad untuk mengatasi keluhan mereka yang tidak mampu membayar sewa ambulans, sehingga keberadaan ambulans FPI diharapkan bisa menjadi solusi bagi kaum dhuafa atau keluarga yang terkena musibah.

Ketua DPD FPI (Front Pembela Islam) Sumut Habib Hud Alattas kepada Media HILMI, Minggu (16/2) menceritakan usai melihat kondisi mobil ambulansn…

Lembaga Survey “Kredibel” Telah Berubah Jadi Peserta Lomba Tebak-tebakan Pilkada

Jum'at, 29 Juni 2018

Faktakini.com

Lembaga Survey “Kredibel” Telah Berubah Jadi Peserta Lomba Tebak-tebakan Pilkada

Persis seperti nasibnya tim Jerman yang babak belur dan gugur di babak penyisihan secara tragis, demikian juga nasib lembaga survey, yang katanya menjadi semacam alat termometer politik di setiap Pilkada, Pileg dan Pilpres.

Sejumlah lembaga survey yang katanya “kredibel” tersebut gagal menebak hasil Pilkada, babak belur ditumbangkan oleh hasil Pilkada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan sejumlah daerah lainnya.

Di Jawa Barat, mayoritas lembaga survey “kredibel” menempatkan pasangan Sudrajad-Syaikhu di urutan ke tiga dengan menebak perolehan suara antara 7 hingga 9 persen. Kenyataannya, Pasangan Sudrajad-Syaikhu justru melambung tinggi perolehan suaranya, bersaing ketat dengan perolehan suara yang diraih Ridwan Kamil.

Demikian juga di Jawa Tengah, hampir mayoritas lembaga survey “kredibel” menebak perolehan suara pasangan Sudirman-Ida sangat rendah, yaitu antara 17 hingga 20 persen. Kenyataannya Sudirman-Ida berhasil meraih perolehan suara di atas 40 an persen mendekati pasangan Ganjar-Taj.

Jika diibaratkan lomba tebak tebakan, maka pemenang lomba tebak-tebakan kali ini justru dimenangkan oleh LKPI, sebuah lembaga survey pendatang baru dan berada di papan bawah. Tebakan LKPI mendekati akurat yang menempatkan Sudirman-Ida dan Sudrajad-Syaikhu unggul di Pilkada Jateng dan Jabar.

LKPI persis seperti tim sepak bola Korsel yang selalu jadi tim papan bawah, tapi berhasil mengusir Jerman sebagai sang juara bertahan dari medan kurusetra Piala Dunia 2018.

Mari lanjutan lomba tebak tebakan menuju Pilpres 2019 yang mengunggulkan Joko Widodo di urutan teratas tanpa pesaing. Konon katanya, sejumlah lembaga tebak tebakan telah membuat hasil tebakan pada Pilpres 2019, katanya tidak ada kandidat yang bisa kalahkan Joko Widodo. Hanya kotak kosong yang dapat bersaing mengalahkan figur janji kosong.[***]

LEMBAGA SURVEI DENGAN MARGIN ERROR 20-25%

Sebelum Hari H Surveyor-surveyor besar memproyeksi ASYIK hanya akan meraih suara di bawah 10%.

Juni 2018, LSI Denny JA memproyeksi 8,2%.
Juni 2018, SMRC Saiful Mujani memproyeksi 7,9%.
Maret hingga Mei 2018, INDIKATOR Burhanuddin Muhtadi memproyeksi 3,2%.

Pada hari H dengan quick count ASYIK ada pada 28 - 30%.

Ada 3 kemungkinan dari fenomena ini:

1. Para surveyor salah besar dalam menjalankan pekerjaan ilmiah mereka. Mengambil proyeksi "tertinggi" yang 8,2% versi LSI DJA sebagai patokan, berarti Margin of Error proyeksi tersebut adalah +/- 20%. Margin of Error segede gajah ini sama dengan mengatakan surveyor-nya lebih baik membubarkan diri sebagai perusahaan surveyor.

Perhitungan dengan Margin of Error segede +/- 20% seperti itu dapat diperoleh dengan mudah dalam diskusi-diskusi lepas campur kentut di warung kopi. INDIKATOR Burhanuddin "juara"nya, karena Margin of Error mencapai +/- 25%. Ini kelewat "gila", namanya.

2. Para surveyor berpartisipasi dalam program propaganda pesanan pihak tertentu. Mereka tidak bodoh secara ilmiah dan  sangat cerdas "mengakali" hukum statistika.

3. Mesin partai pengusung bekerja dengan efektif sehingga dengan waktu relatif singkat sangat berhasi mendongkrak elektabilitas ASYIK. Dalam pikiran rasional saya, menaikkan elektabilitas kontestan politik dalam waktu singkat paling mungkin hanyalah sebesar 5%. Itu sudah sangat luar biasa, ditambah syarat keharusan adanya isu besar yang sangat menguntungkan ASYIK dan di lain pihak merugikan kontestan lainnya.

Pesan untuk Tim Sukses ASYIK: tongkrongin itu penghitungan suara manual. Berkaca dari survey elektabilitas para surveyor yang meleset total di atas, wajarlah menaruh curiga pada Hitung-cepat mereka. Jangan lengah.

By Canny Watae

Postingan populer dari blog ini

Para Mahasiswa Papua Datangi Markas Laskar FPI Kota Malang Minta Perlindungan

Rabu, 21 Agustus 2019
Faktakini.net, Jakarta - Yaqub bersama para Pelajar dan Mahasiswa dari Papua mendatangi Markas FPI Kota Malang guna meminta pengamanan. Yakub dan para pelajar Papua mengaku sudah sangat putus asa, khawatir atas keselamatan mereka, usai insiden bendera Merah Putih dibuang ke selokan di Surabaya yang berujung penangkapan 43 Mahasiswa Papua dan kemudian terjadi kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Senin (19/8/2019).
Andre Aston Wali Laskar LPI Kota Malang dengan senang hati menerima Kedatangan mereka dan memberikan pengamanan.
Andre meminta para pelajar agar tetap bersekolah dan kuliah di kota Malang, dan FPI kota Malang siap melindungi mereka.
"Sesuai dengan instruksi Panglima Besar LPI (Ustadz Maman Suryadi), diketahui oleh Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami melindungi orang-orang Papua yang ada di Malang, kami melindungi orang-orang Papua yang sedang belajar di kota Malang. Jadi kalau ada gangguan segala macam, tidak sempat lapor ke pihak (aparat), l…

KPK Akan Beberkan Korupsi Infrastruktur Rezim Jokowi Yang Rugikan Miliaran Rupiah

Ahad, 17 Maret 2019

Faktakini.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengusut kasus dugaan korupsi terkait proyek infrastruktur di era pemerintaan Jokowi - JK ini. Kali ini, proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi berada di daerah.

“Penyidikan baru, korupsi infrastruktur di daerah,” ucap juru bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (13/3).

Kendati demikian, Febri belum menjelaskan proyek infrastruktur di daerah mana yang diduga dikorupsi. Dia hanya menyebut proyek infrastruktur yang dimaksud yaitu jembatan.

Akibat korupsi ini, negara diduga mengalami kerugian puluhan miliar rupiah. “Diduga kerugian negara puluhan miliar,” tegas Febri.

Rencananya, informasi lebih jauh atau terkait perkembangan akan disampaikan dalam konferensi pers bersama pimpinan KPK. “Sore atau malam ini jika tidak ada kendala akan kami sampaikan perkembangan hasil penyelidikan melaui konferensi pers,” tuturnya.

Sebelumnya, KPK saat ini juga tengah menangani beberapa kasus dugaan korupsi terkait proy…

500 Banci Tumpah Ruah Di Stadion GBK Ikuti Kampanye Jokowi - Ma'ruf

Sabtu, 13 April 2019

Faktakini.com, Jakarta - 500 Banci tumpah ruah memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta untuk mengikuti kampanye paslon nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf, Sabtu (13/4/2019).

Mereka kaum banci alias waria yang antara lain tergabung dalam Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia ini menyatakan dukungannya terhadap capres petahana itu.

Ketua Komunitas Forum Komunikasi Waria se-Indonesia, Yulianus Rettoblaut mengatakan ada sekitar 500 waria se-DKI Jakarta yang turut hadir dalam kegiatan kampanye terakhir Jokowi-Maruf ini.

Waria-waria ini mengklaim Jokowi kinerjanya saat menjadi presiden selama kurang lebih lima tahun terakhir sudah terbukti.

"Kami mendukung Pak Jokowi karena kinerjanya sudah terbukti dengan pelayanan dan pembangunan infrastrukturnya di seluruh Indonesia," kata Mami Yuli sapaan akrabnya kepada Suara.com di GBK, Sabtu (13/4/2019).

Dia berharap Jokowi-Maruf bisa menangkan Pilpres 2019 dan lebih memperhatikan hak asasi mer…